24. Pakaian dalam

168 15 1
                                        

Jangan lupa Vote dan Komen
gyasiio
______________________

HAPPY READING
______________________


"Kau benar Arnold, sepertinya krisis pangan yang melanda desa itu tak semudah yang aku bayangkan," Duke Zergon terlihat menghembuskan nafasnya dengan lelah. Tangannya memijat pelan pangkal hidung mancung itu.

"Apa yang karus kita lakukan Yang mulia Duke?" tanya Arnold menunggu intruksi dari Duke Zergon. Pria yang duduk diatas kursi bantu itu terlihat mengerutkan alisnya dengan samar, jemari panjangnya mengetuk meja memberikan atmosfer yang sedikit mencengkam, dengan tatapan mata yang tak lepas dari sebuah kertas yang menuliskan banyak informasi didalamnya.

"Untuk sementara ini kirimkan makanan pokok lebih dulu, pastikan setiap keluarga mendapatkan makanan yang cukup. Untuk masalah lainnya, aku akan membicarakannya dulu dengan kaisar," mendengar ucapan sang tuan dengan segera Arnold mengangguk. Ia mengambil kertas yang diatas meja lalu menyimpannya.

"Bagaimana dengan Duchess?" tanya Duke Zergon dengan tiba-tiba membuat Arnold langsung menoleh.

Arnold terdiam sejenak tak langsung menjawab, "Duchess sudah kembali menjalankan aktivitasnya seperti sebelumnya Duke. Terakhir kali saya mendapatkan kabar, Duchess sedang berada di taman belakang dekat danau bersama pelayan yang dibawanya dari kediaman Marquess Walker." kata Arnold.

"Ah Duke, saya melupakan sesuatu," mendengarnya membuat Richard sontak menolehkan kepala dengan tatapan bertanya.

"Apa anda sudah menyiapkan hadiah untuk kedua adik kembar anda yang akan merayakan hari kelahirannya?" tanya Arnold. Duke Zergon menghela nafas singkat, ah ia melupakan itu. Belakangan ini ia cukup sibuk mengurus wilayah yang tengah dilanda bencana hingga membuatnya melupakan beberapa hal.

"Aku belum melakukannya, terimakasih karena sudah mengingaktanku Arnold," Arnold mengangguk sopan sebagai jawaban.

"Apa yang akan anda pilih sebagai hadiah?"

Kaula itu pemalas, dan Kaluna sebaliknya. Terkadang Richard harus benar-benar memikirkan apa yang akan dibutuhkan oleh kedua adiknya yang bertolak belakang. Ia tidak ingin memberikan barang yang tak ada gunanya, menurutnya percuma.

"Berikan saranmu Arnold," pinta Duke Zergon menatap Arnold.

Arnold mengangguk, "Belakangan ini sedang bermunculan trend pakaian terbaru di kalangan bangsawan Duke, mungkin anda bisa memesan berapa potong pakaian untuk kedua putri?" saran Arnold.

Richard menggelengkan kepala, "Pakaian yang sedang trend? Kurasa tidak Arnold. Trend yang ada akan segera hilang karena perkembangan zaman, dan kau tau sendiri aku orang yang seperti apa. Aku tidak mau memberiksn barang yang tak memiliki nilai guna di kemudian hari,"

"Paling tidak barang yang aku berikan bisa memberikan untung untuk kedua adikku. Kaluna dan Kaula bisa saja bosan dengan pakaian yang aku berikan, dan lagi--- pasti banyak bangsawan yang sudah menyiapkan hadiah yang sama," lanjut pria itu. Arnold mengangguk membenarkan, apa yang dikatakan Duke Zergon benar adanya.

"Lantas apa yang anda pikirkan sekarang Duke?" tanya Arnold dengan nada sopan yang tak pernah lepas.

Duke Zergon melirik kearah jendela, angin berhembus lembut membelai wajah tampannya hingga memberikan efek sejuk. Apa yang harus ia berikan untuk si kembar?

𝐈'𝐦 𝐍𝐎𝐓 𝙻𝙰𝚄𝚁𝙴𝙽𝚃Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang