28. Nick

126 12 1
                                        

Hari ini, adalah hari tepat dimana pesta yang dimaksud oleh Pangeran Nicholas, pesta yang diadakan untuk Permaisuri Edith.

Dengan gaun yang diberikan Pangeran Philips, dan dengan berdirinya calon Grand Duke itu di sebelah Luisa, membuat gadis itu seakan ditelanjangi oleh berbagai pasang mata yang menatapnya secara berbeda-beda. Sorotan mata yang dilemparkan membiat Luisa tak nyaman.

"Hiraukan saja," seakan ikut merasakan ketidak nyamanan gadis disebelahnya, Nicholas mengeluarkan suara. Setelahnya, ia melemparkan senyum formalitas pada bangsawan yang menyapa.

"Salam saya Pangeran sekaligus calon Grand Duke masa depan Kekaisaran ini," Luisa menatap seorang pria baruh baya yang berdiri dihadapan Nicholas. Marquess.

"Senang bertemu dengan Anda Marquess Dyle," sapa Nicholas balik. Pria paruh baya itu tersenyum senang, melirik gadis disebelah sang Pangeran tanpa rasa takut.

"Lady Luisa," Nicholas memperkenalkan secara singkat, Luisa pun tersenyum sopan pada Marquess Dyle yang menatapnya dari atas sampai bawah seakan menilai. Namun senyum sopan itu tak seberapa lama saat tersirat tatapan mencemooh secara singkat.

"Senang bertemu dengan Anda Lady," Marquess Dyle itu kembali menatap Nicholas.

"Pangeran, Putri saya, Delvana Clusius Dyle sungguh mengidolakan Anda. Jika tidak keberatan----"

"Ah maafkan saya Marquess, kekasih saya sedikit posesif jika mendengar nama gadis lain," potong Nicholas sembari menatap gadis disebelahnya yang balik menatap.

Tatapan mata itu seakan mengatakan, 'Anda ingin mati ya Pangeran?' tatapan yang sangat berani.

"A-ah baiklah, saya mengerti Pangeran. Kalau begitu, saya akan undur diri," sepeninggalannya Marquess Dyle membuat Luisa menghela nafas dengan berat.

"Yang mulia saya tidak mau banyak bangsawan yang mengetahui 'pertunangan' kita ini, dengan banyaknya orang yang tau, maka kita akan sulit mengakhiri drama yang dibuat," Nicholas merotasi kedua bola matanya dengan malas.

"Kau tenang saja, aku pandai mengatur situasi." santai Nicholas dengan tenang. Melihat ekspresi tenang Pangeran Philips itu membuat Luisa ikut merotasi kedua bola matanya dengan sebal.

Luisa menatap sekitar, lalu tatapan mata itu menatap satu titik dengan terkejut. Bagaimana tidak? Didepan sana berdiri seorang pria yang telah menjadi belahan hati Luisa asli di kehidupannya. Ya, Pangeran Melvin berdiri disana, tenggah berbincang dengan Pangeran mahkota Damian.

Melihat arah tatap gadis disebelahnya membuat Nicholas ikut menatap titik tatap tersebut. Iris mata merah itu menatap penuh arti.

"Kau mengenalnya?" mendengar pertanyaan dari Pangeran Philips membuat gadis itu menoleh sekilas. Ia mengangguk singkat.

"Ya, beliau adalah Jendral dari kerajaan Ligeon," jelas Luisa memberitahu seperti yang ia ketahui. Setelah Luisa mengatakan kalimatnya, tatapan mereka beradu.

Tatapan tajam milik Pangeran ketiga kerajaan Ligeon beradu dengan tatapan tenang milik Luisa. Debaran jantung terasa nyata, 'Bawa perasaan sialan ini pergi dariku Luisa,' batin Laurent.

Melvin pun merasakan hal yang aneh pada dirinya, melihat gadis itu membuatnya metasakan sesuatu yang tak dapat ia memgerti. Dan lagi, ia seakan pernah melihat gadis itu, tetapi dimana?

Nicholas menghela nafas singkat, "Tetaplah jadi anak baik Lady, aku akan menemui beberapa tamu," celetuk Nicholas tiba-tiba setelahnya berlalu pergi. Luisa menoleh ia pun memilih ikut pergi, tapi bedanya ia mendekati meja khusus kudapan. Dari pada menatap suami Luisa asli, lebih baik Laurent menikmati pesta bukan?

𝐈'𝐦 𝐍𝐎𝐓 𝙻𝙰𝚄𝚁𝙴𝙽𝚃Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang