Jemiel & Sosok Asing

264 60 13
                                        

Hamparan rumput hijau berhias bunga-bunga cantik menjadi pemandangan pertama yang menyambut Jemiel saat kelopak matanya terbuka. Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran, sebuah belaian lembut terasa di pucuk kepalanya dari arah belakang.

"Kok berhenti? Katanya mau metik bunga matahari untuk di rumah?" tanya sosok asing yang tiba-tiba mengambil tempat di sisi Jemiel.

Jemiel terpaku. Ia menatap pria berkemeja putih di sampingnya itu, yang kini tengah membalas tatapannya dengan senyum hangat. Jemiel sibuk mengais ingatan, mencari tahu siapa sebenarnya pria dewasa ini, namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak mengenalnya.

"Apa kamu capek? Ayo kita istirahat dulu kalau gitu."

Pria itu merangkulnya seolah-olah memang ia sudah terbiasa melakukannya. Anehnya, tak ada secuil pun keinginan dalam diri Jemiel untuk menghindar. Ia justru membiarkan dirinya dituntun menuju meja dan kursi kayu di sudut taman.

"Jemiel kalau emang lagi capek, bilang aja gak apa-apa. Daripada kamu nahan dan berakhir nyakitin diri kamu sendiri."

Ucapan pria itu membuat Jemiel tertegun. Kalimat yang akhir-akhir ini sangat butuh ia dengar. Senyum tipis akhirnya terbit dari bibirnya.

"Gak apa-apa berarti, kalau capek?" gumam Jemiel lirih.

Pria itu tersenyum, tangannya terulur untuk mengacak rambut Jemiel dengan gerakan lembut. "Tentu aja, manusia kan bukan mesin. Mesin aja bisa rusak kalau sudah terlalu lama dipaksa bekerja, apa lagi manusia. Sini duduk yang nyaman."

Jemiel pun menurut. Di atas meja kayu itu sudah tersaji dua cangkir dan piring yang berisi cemilan kesukaannya.

"Kita makan ringan dulu ya, nanti malam baru saya masakin untuk makan malam."

"Om nanti bakal masakin aku?" mata Jemiel berbinar.

Pria itu mengangguk sebagai jawaban. "Mau dimasakkan apa, Jemiel? Atau mau nyoba makanan kesukaan saya?"

"Makanan kesukaan Om itu apa emangnya?"

"Simple, nasi goreng," tawa kecil hadir dari mulut pria dihadapannya itu. "tapi saya suka nambahin daun jeruk, jadi makin wangi dan enak."

Terdengar lezat untuk Jemiel, dirinya yang belum pernah mencoba memakan nasi goreng dengan daun jeruk lantas mengangguk semangat. Lalu ia meraih cangkirnya yang berisi cokelat hangat dan menyesapnya perlahan, matanya masih sambil memperhatikan pria di depannya yang juga sedang menikmati kopi hitam yang tampak sangat pahit itu.

"Om suka minum yang pahit-pahit begitu ya?" tanya Jemiel polos. Di rumah, ia tidak pernah menyentuh kopi milik Mamanya. Selain karena tidak terlalu suka rasa pahit, insomnia yang dimilikinya membuat Jemiel sebisa mungkin menjauhi kafein.

Pria itu melirik cangkirnya sekilas lalu terkekeh.

"Namanya juga orang tua, Jemiel. Kadang butuh yang pahit buat bikin tetap melek." ia kemudian menatap Jemiel dengan sorot mata yang teduh. "Tapi buat kamu, cokelat hangat itu yang terbaik. Biar tidurnya nyenyak, enggak perlu mikir yang berat berat dulu."

Jemiel sedikit tersentak, ia merasa bahwa pria ini seolah tahu jika selama ini ia sering kesulitan untuk memejamkan mata karena kepalanya yang terlalu penuh dengan banyak pikiran.

"Biasanya kalau susah tidur, kamu ngapain?" tanya pria itu santai, sambil tangannya mendekatkan piring camilan lebih dekat ke arah Jemiel.

"Ya... cuma diam aja. Nunggu pagi," ujar Jemiel pelan.

"Lain kali kalau susah tidur, coba bayangkan taman ini," pria itu bersandar pada kursi kayu. "Bayangkan ada saya di sini yang siap dengerin keluhan kamu. Kadang alasan orang nggak bisa tidur itu sesimpel karena pikirannya terlalu penuh dan nggak ada tempat buat nuanginnya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KanigaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang