Setelah kemenangan yang diraih MFL, tentu tidak ada yang berubah dari sekolah. Semua murid masih masuk seperti biasa dan melakukan kegiatan rutin di sekolah. Tapi ada yang membedakan dari kegiatan rutin Zoya hari ini, dia tidak dijemput oleh Saka, melainkan diantar oleh papanya. Pagi inipun Zoya sarapan bersama dengan mama, papa dan juga kedua kakaknya. Mereka berbincang salayaknya keluarga harmonis yang tidak pernah bermusuhan sebelumnya. Hal yang tidak pernah Zoya harapkan hadir tapi ternyata dapat dia rasakan. Memaafkan dan melupakan yang terjadi kemarin adalah langkah yang Zoya ambil untuk hidup lebih tenang dan baik.
Sama seperti Zoya yang berusaha memaafkan, maka keluarganya juga berusaha untuk meminta maaf dan memperbaiki. Memang semuanya tidak bisa langsung menjadi seperti yang diinginkan dan tidak semua permintaan maaf bisa langsung dimaafkan, tapi mereka semua berusaha saling meminta dan memberi maaf dan menjalani hidup yang seharusnya mereka jalani. Tidak ada yang lebih bahagia ketika kita hadir satu sama lain.
"Papa senang kamu mau diantar papa."
"Aku mencoba membuka hati dan memaafkan kalian, jadi inilah aksiku." Usapan kepala Zoya dapatkan dari papanya.
Papa Zoya hanya tersenyum, to the point sepertinya. Papanya merasa yakin bahwa Zoya benar-benar kloningan dirinya. Keras kepala, to the point, dan tidak mau kalah. Semuanya mirip, definisi melahirkan dirinya sendiri.
"Papa masih menunggu teman kamu untuk menemui papa."
"Aku akan mencoba bicara pada Juan. Mungkin saja dia akan mengerti."
"Kenapa sangat ingin membantu Juan?"
"Dia tidak punya siapa-siapa. Aku mengingat diriku sendiri dulu ketika melihatnya. Karena aku menyukainya juga, aku tidak ingin merasa sendiri."
"Kamu benar-benar mirip papa."
"Papa pernah menyukai laki-laki?" papanya yang mendengar itu langsung membulatkan matanya, kaget dengan pertanyaan anak perempuannya ini.
"Apa-apaan! Papa straight, mana pernah papa menyukai laki-laki!"
Tidak ada balasan hanya tawa lebar yang terdengar. Zoya tahu papanya tidak mungkin menyukai laki-laki, tapi ternyata menyenangkan membuat laki-laki paruh baya yang sedang menyetir ini merasa dipojokkan. Tawa Zoya kencang dan papanya yang melihat itu merasa terjebak. Dia tahu bahwa anaknya mempermainkannya. Tapi tidak ada balasan, melainkan dia ikut tertawa dan menertawai tingkah bodohnya. Terlihat menyenangkan ternyata dapat mengobrol bersama putrinya dan tertawa bersama seperti ini. Perasaan menyesal menggerogoti hatinya karena merasa harusnya tidak menyia-nyiakan hal ini sekian lama. Padahal putrinya tak kalah asyik dari kedua anak laki-lakinya.
"Sudah sampai! Nanti siang Pak Ramto ya yang menjemput?"
"Kenapa tidak papa?"
"Papa harus bekerja sayang. Atau jika mau papa bilang kakak untuk menjemput?"
"Tidak perlu pa, aku kan pulang selalu dengan Juan dan Saka, jadi tidak perlu menjemput okey?"
"Beneran tidak papa? Hubungi papa jika sudah pulang sekolah okey?"
Zoya mengambil tasnya di kursi belakang, setelah mendapatkannya dia mencondongkan tubuhnya ke arah papanya lalu mencium pipi papanya.
"Iya papa bawel. Terima kasih sudah mengantarkanku!" Tidak ada balasan, papanya masih syok dan hanya diam sampai terdengar pintu ditutup. Kaca mobil diturunkan.
"Selamat bersenang-senang sayangnya papa!" Lambaikan tangan ia berikan pada putrinya dan dibalas dengan riang oleh Zoya.
***********
"Juan bisa kita bicara sebentar! Hanya berdua!"
Sebenarnya mereka akan makan siang bersama-sama di kantin, namun Zoya mencegat Juan dan memintanya untuk berbicara berdua. Bukan tanpa alasan Zoya mengajak Juan untuk berbicara berdua, dia berniat menyampaikan apa yang papanya pesankan. Setidaknya dia ingin membantu Juan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZOYA
RomanceBercerita tentang Zoya, perempuan yang pantang menyerah mengejar cinta laki-laki dingin dengan banyak rahasia. Ia yang jatuh cinta dari pertama kali bertemu di sekolah barunya. Sampai mengabaikan pernyataan cinta dari sahabatnya yang bahkan selalu...
