Pyarrrrr – suara piring dilempar hingga pecah –
"Bisakah untuk tidak membantah perkataan papa lagi untuk sekarang, kamu terlalu banyak masalah. Papa malu harus dipanggil ke sekolah karena ulahmu," murka seorang ayah yang harus dipanggil untuk menyelesaikan masalah anaknya di sekolah.
"Kenapa juga papa ke sekolah. Bukankah biasanya papa enggak akan mau tahu tentang anak bermasalah ini," sindir seorang putri kepada ayahnya.
"Papa akan memindahkanmu ke sekolah baru jauh dari kota ini. Itu keputusan bulat dan tidak bisa diubah!" Keputusan seorang kepala keluarga kepada anak perempuan.
"Yaak! Papa tidak bisa melakukan itu padaku. Biasanya kalian tidak akan mengurusiku tapi kenapa tiba-tiba kalian menjadi peduli dan dengan seenak hati kalian memindahkanku!!!" Seorang putri berteriak kepada ayahnya karena mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan persetujuannya.
"Tidak ada penolakan. Keputusan papa sudah bulat," ujar sang ayah.
"Aku membenci kalian semua!" Seorang putri yang kecewa hanya meninggalkan meja makan dengan mata berkaca-kaca.
Bukankah seharusnya jika tidak menginginkan anak sepertiku harusnya mereka membunuhku saja saat tahu mereka akan memiliki anak lagi. Ini terlalu menyakitkan untukku lalui sendiri. Mereka hanya keluarga yang sempurna tanpa mau barang cacat sepertiku.
Kenalin gua Zoya anak ketiga dari tiga bersaudara yang dua kakak gua cowok semua. Gua anak orang kaya yang kayaknya kekayaannya gak bakal habis tujuh turunan delapan tanjakan, bercanda. Kata orang-orang gua ini anaknya udah enak dikasih keluarga dari sendok emas punya orang tua yang baik banget, terus dikasih dua kakak laki-laki yang visualnya kayak idol kpop. Asal kalian tahu saja kalo gua mau dilahirin lagi gua gak akan mau punya keluarga yang kata orang keluarga idaman.
Mereka workholic yang cuma sayang sama kerjaan + duit. Mereka gak akan peduli kalaupun anaknya nanti masuk rumah sakit karena sakit. Gak pernah ada di hari ulang tahun gua meskipun tiap pagi pasti ada kado depan pintu kamar. Bukan itu yang gua mau asal mereka tahu saja. Gua berasa jadi anak yatim piatu yang ditinggal mati keluarganya.
Gua bukan cewek baik-baik cuma karena gua terlahir di keluarga yang reputasinya bisa masuk koran apalagi tv. Gua suka banget sama balapan + minuman alkohol. Kalau ditanya apa cita-cita gua, bakal gua jawab dengan lantangnya gua mau jadi pembalap hebat. Tapi kayaknya gak ada dukungan buat gua ngeraih cita-cita itu. Tapi tenang, gua Jakayla Zoya Alexandra yang gak bakal nyerah buat dapetin apa yang gua mau.
~~~~~~~~~~~
"Gua mau pindah dari kota ini," ujar Zoya kepada teman-teman dalam tongkrongan yang langsung terdiam mendengar ucapan Zoya.
"Whaaat!!! Ga lucu sama sekali kalau lu cuma bercanda!" balas Cakra salah satu teman satu geng Zoya.
"Gua gak bercanda anjing!" elak Zoya dengan ngototnya.
"Bentar, ini hukuman karena lu balapan atau karena lu kemaren bikin bonyok anak kepala sekolah?" tanya Micho.
"Ya dua-duanya. Gua gak tahu mau dipindah kemana. Yang pasti kek nya jauh dari sini plus kita bakal susah buat ketemu. Gua pasti kangen banget sama kalian. Siapa nanti yang nemenin gua lagi," lirih Zoya dengan mata berkaca-kaca dan langsung di balas dengan pelukan oleh teman-teman Zoya keculai Saka.
Zoya ini sudah seperti adik perempuan mereka yang butuh kasih sayang yang gak pernah di kasih keluarganya. Geng ini terbentuk karena mereka memiliki masalah serupa, yakni kurang kasih sayang dari keluarga dan melampiaskan dengan melakukan kenakalan berharap orang tua mereka dapat lebih memperhatikan mereka.
Namun mereka salah, justru bukan kasih sayang yang mereka dapatkan, melainkan caci maki dan perkataan buruk yang justru malah membuat mereka merasa tidak diharapkan. Saka yang mendengar perkataan Zoya langsung saja bangkit mengambil jaket dan juga motornya.
"Mau kemana lu?" tanya Bayu.
"Mau nemuin nyokap bokapnya Zoya lah biar gua kasih tahu gimana anaknya yang gak bisa hidup tanpa kita." Saka sambil memakai jaketnya dan berlari menuju motornya di depan rumah Micho.
Semua orang hanya bengong dengan perkataan Saka dan baru tersadar beberapa saat setelah Saka sudah melajukan motornya menuju rumah Zoya. Cuma membutuhkan waktu 10 menit yang dibutuhkan Saka untuk sampai rumah Zoya.
"Den gak bisa masuk sembarangan ke dalem. Tuan sama nyonya lagi santai gak mau diganggu dulu hari ini!" pinta satpam rumah Zoya sambil memegangi lengan Saka yang cuma dianggap angin lalu.
Saka tetap melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah Zoya. Pak Joko hanya gigit jari dan berharap dirinya tidak akan dipecat karena gagal memberhentikan teman nona mudanya ini. Dan benar saja bahwa di ruang tamu rumah Zoya kedua orang tuanya sedang bersantai bercengkrama plus bonus dengan dua anak laki-laki kesayangan mereka. Melihat itu Saka teringat akan Zoya.
"Siapa kamu?" tanya mama Zoya ketika menyadari ada Saka yang memasuki ruangan.
"Saya sahabatnya Zoya," jawab Saka dengan lantang yang dibalas dengan ekspresi terkejut oleh kedua orang tua Zoya dan dua kakaknya Zoya.
"Mau apa kamu kesini? Zoya gak ada di rumah," seru mama Zoya.
"Saya tahu Zoya gak di rumah. Saya kesini mau protes sama keputusan om buat mindahin Zoya ke luar kota," balas Saka tanpa takut sambil menatap mata papa Zoya.
"Siapa kamu berani protes tentang keputusan saya buat anak saya. Kamu gak tahu apa pun di sini dan jangan berani ikut campur urusan keluarga saya," murka papa Zoya ketika tahu bahwa dia sedang di protes anak ingusan teman anak perempuannya.
"Saya sahabat Zoya yang pasti dan selalu ada buat Zoya yang gak bisa keluarganya lakuin. Saya yang selalu dengerin keluh kesah Zoya yang gak pernah kalian kasih kasih sayang. Saya sahabatnya yang selalu ada pas di hari ulang tahunnya tiap tahun. Saya yang selalu tahu apa makanan kesukaan Zoya dan apa alergi Zoya yang kalian gak akan pernah mau tahu. Saya orang yang selalu nemenin Zoya di rumah sakit waktu kalian kasih anak kalian makanan beracun. Apalagi yang mau om sama tante denger lagi," jelas Saka dengan ejekan lantangnya sambil menatap berani papa Zoya.
Mereka yang mendengar Saka mengucapkan pernyataan tersebut hanya diam tanpa bereaksi apa pun. Sampai Zoya datang bersama teman-teman yang lain untuk menenangkan Saka yang sudah mulai tersulut emosinya.
"Saka!!! Udah ya gak usah di permasalahin lagi gua gak papa beneran. Ayo balik lagi ke rumahnya Micho."
Zoya mencegah Saka dengan memegangi lengan Saka dari samping sambil menatap dan memohon Saka untuk menghentikan aksi protesnya.
"Inilah alasan papa buat mindahin kamu ke luar kota. Biar kamu gak bergaul sama anak-anak bermasalah macam teman-teman kamu ini," cerca papa Zoya dengan tiba-tiba setelah teman-teman Zoya masuk untuk mencegah Saka berbuat di luar batas.
Zoya yang mendengar teman-temannya di ejek hanya bisa menundukkan kepala dan mengucapkan maaf dalam hatinya. Teman-teman Zoya yang mendengar itu hanya bisa menahan amarah dan mencoba untuk tidak terpancing emosi. Karena bagaimanapun mereka masih menghormati orang tua Zoya ini.
"Udah kalian pulang aja. Kita hari ini niatnya mau santai sambil ngobrol aja harus banyak drama. Zoya kamu suruh pulang teman-teman kamu ini dan jangan berani-berani keluar rumah," suruh mama Zoya.
"Om tante apa gak bisa didis..." Belum juga Micho selesai bicara sudah di potong oleh mama Zoya.
"Kita gak mau denger apa pun lagi dari kalian. Sebaiknya kalian pulang jangan dateng kesini lagi," timpal mama Zoya dengan sambil menatap mata Micho. Akhirnya mereka cuma bisa pulang dengan tangan kosong tanpa bisa bantu Zoya.
"Maafin kita ya, gak bisa bantu lu buat gak pindah," ujar Saka sambil memeluk Zoya yang sedang menangis tanpa suara.
"Enggak, harusnya gua yang minta maaf karena omongan mama sama papa tadi pasti bikin kalian sakit hati," lirih Zoya sambil menahan tangis. Mereka cuma bisa menganggukkan kepala dan memeluk Zoya berharap Zoya akan tenang dengan di peluk. Tanpa tahu bahwa ada yang mengintip di balik jendela adegan berpelukan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZOYA
RomanceBercerita tentang Zoya, perempuan yang pantang menyerah mengejar cinta laki-laki dingin dengan banyak rahasia. Ia yang jatuh cinta dari pertama kali bertemu di sekolah barunya. Sampai mengabaikan pernyataan cinta dari sahabatnya yang bahkan selalu...
