Cukup lama bagi Ester untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lemas karena terus mual dengan perut kosong itu. Karena yang ia lakukan sejak tadi hanyalah berbaring di atas ranjang dengan memainkan ponselnya.
Seperti permintaan istrinya, Damian memutuskan untuk keluar dari kamar dan menjarak sejenak dengan sang puan. Ia mengalah dan setuju, pun itu demi kebaikan mereka. Anak dan istrinya.
"Tapi dia tadi kenapa ya? Apa yang udah terjadi sebenernya?" gumam Ester penasaran setelah melihat luka yang dimiliki oleh suaminya tadi.
Entah apa yang telah dilalui oleh pria itu sampai bisa mendapatkan luka serius di tangannya. Terlebih lagi bahwa Damian tak nampak kesakitan di depannya, justru malah menutupi semua darinya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan pikiran Ester. Ia menoleh ke arah pintu yang sudah sedikit terbuka.
"Kata bibi kamu belum makan sama sekali, jadi makan dulu ya. Aku siapkan di meja makan."
Damian sengaja hanya menyembulkan kepalanya di ambang pintu, ia sudah berjanji tak akan mendekati Ester untuk sementara waktu.
"Iya nanti aku makan."
"Sekarang."
Ester berdecak karena Damian terus memaksanya.
"Daripada kau terus memaksaku, lebih baik kau pergi ke rumah sakit dan obati lukamu itu."
Kini beralih sang puan yang memaksanya.
"Baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang asalkan kamu makan lebih dulu."
"Kau mengancamku?"
"Jika itu menurutmu, aku setuju."
"Lagipula aku baru memasak ayam goreng laos. Aku pikir itu menu yang tepat sekarang," lanjut Damian lagi.
"Dengan luka di tanganmu itu?"
"Bibi yang membantuku."
Ester memutar bola matanya malas.
"Kau pergi sekarang aku juga makan sekarang."
Akhirnya Ester memutuskan untuk bergegas makan saat itu juga. Lagi pula Damian juga nampak meyakinkan jika akan pergi ke rumah sakit sekarang.
"Pintar, kalau butuh sesuatu telefon aku ya. Aku ke rumah sakit sekarang."
Belum sempat menjawab, Damian sudah melenggang pergi. Sesuai janji, ia tak lagi berbasa-basi.
"Kalau begini kau bukan manusia menyebalkan," batin Ester.
***
Sesampainya di rumah sakit dan menjelaskan keluhannya, ia langsung diarahkan ke IGD. Melihat lukanya yang tak bisa dikatakan sepele, seorang perawat menyarankan Damian untuk segera mendapatkan jahitan.
Mengingat jika sudah berjam-jam lalu ia mendapatkan luka sayatan itu, membuat sang empu merasakan ngilu luar biasa kala seorang dokter mengecek tangannya untuk memastikan pengobatan yang tepat untuknya.
Dengan paksaan dan rasa pasrah, ia datang ke rumah sakit karena Ester yang mendesaknya. Di dalam sebuah ruangan yang dingin dan hening, derap langkah kaki dokter datang menghampiri dan bersiap untuk mengeksekusi.
Sedangkan Damian yang terduduk di brankar IGD menelan ludah getir sembari memalingkan pandangan kala melihat jarum suntik berisikan bius sebelum itu mendarat di tangannya.
Ini benar-benar kejadian langka. Dan mungkin juga menjadi yang terakhir bagi Damian, karena ia berjanji tak akan berada di posisi ini lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)