Malam itu, di balik dinding kamar utama yang kedap suara, badai emosi yang sempat menderu akhirnya melebur menjadi kehangatan yang tak terelakkan. Pelukan erat dan pengakuan jujur Damian berhasil meruntuhkan seluruh dinding pertahanan yang selama ini dibangun oleh Ester. Tidak ada lagi gengsi, tidak ada lagi perdebatan sengit tentang siapa yang paling benar. Yang tersisa hanya debar jantung yang bergemuruh dan rasa haus akan kepastian di tengah dunia yang mendadak terasa begitu kejam.
Damian menatap manik mata istrinya dengan penuh puja. Perlahan, ibu jarinya menghapus sisa air mata di pipi Ester, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening wanita itu. Ciuman yang awalnya penuh penyesalan, perlahan berubah menjadi gigih dan menuntut saat bibir mereka akhirnya bersatu. Ester memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan yang ditawarkan oleh suaminya. Sentuhan Damian terasa begitu hati-hati, seolah takut bahwa satu gerakan salah saja bisa memecahkan figur rapuh yang ada di dalam pelukannya.
Mereka terbawa dalam pusaran gairah yang membakar malam. Namun, di setiap sentuhan dan desahan yang lolos dari bibir mereka, kewaspadaan tetap menjadi panglima. Damian menyadari sepenuhnya kondisi sang istri yang sedang hamil muda. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh kelembutan ekstra, mengukur setiap inci jarak dan tenaga agar tidak melukai janji suci yang tumbuh di rahim Ester.
Ini adalah bentuk penyerahan diri yang paling intim-bukan sekadar penyatuan fisik, melainkan ikatan batin yang akhirnya meresmikan pernikahan mereka yang tadinya dingin menjadi hidup. Di atas ranjang berseprai satin itu, mereka saling melengkapi, menghapus keraguan masa lalu, dan menyatukan jiwa di bawah naungan cinta yang baru saja bersemi.
"Jangan, kamu sedang hamil muda. Aku nggak mau melukai kalian," cegah Damian saat istrinya berusaha meraih "miliknya" yang sudah tegang sejak tadi.
Tak bisa dipungkiri, Damian memang sangat menginginkan Ester saat ini. Namun ia juga sadar, kalau keselamatan mereka lebih utama. Biarlah urusannya ia selesaikan sendiri nanti.
"Tapi milikmu sangat keras-"
"Aku tau, biarkan dia. Jangan kamu goda, karena aku benar-benar takut susah mengendalikannya nanti," potong Damian cepat dengan suara serak karena sedang menahan gairah sekuat hati.
Ester menghela napas pendek. Terasa seperti ada yang hilang saat Damian menolaknya. Padahal memang benar kata pria itu, semua itu juga dilakukan demi keselamatannya sendiri dengan anak yang dikandungnya.
Alhasil, mereka menghabiskan malam itu dengan penuh cinta dan gairah yang membara dalam dada melalui ciuman intens dan beberapa kissmark yang mereka tinggalkan satu sama lain.
Namun, kehangatan malam itu harus dibayar mahal tatkala fajar mulai menyingsing membawa ketegangan baru yang jauh lebih mengerikan.
Konflik bisnis dan teror luar bukan lagi sekadar ancaman dari musuh asing atau mantan kekasih yang sakit hati. Ancaman terbesar justru datang dari lingkaran darah Damian sendiri. Dito, sang papa kandung yang selama ini dikenal sebagai sosok dingin dan manipulatif, kembali berulah dengan cara yang jauh lebih keji dari perkiraan siapapun.
Pagi itu, Damian mendapati ruang kerjanya berantakan dan sebuah surat ancaman tergeletak di atas meja mahagoninya, disertai rekaman CCTV kawasan perumahan mereka. Jantung Damian seolah berhenti berdetak saat melihat mobil asing dengan plat nomor yang ia kenali parkir di dekat gerbang rumah, dipantau langsung oleh orang-orang suruhan ayahnya.
Tujuan Dito sangat jelas dan terang-terangan, yaitu merebut paksa kendali penuh atas saham perusahaan utama keluarga yang kini dipegang oleh Damian. Selama ini, Dito merasa tersisih dan kehilangan kekuasaan absolut sejak Damian mengambil alih kendali pimpinan. Berbagai cara legal telah ia coba, namun semuanya gagal. Kini, pria tua itu menggunakan jalan pintas yang kotor-menjadikan keselamatan Ester dan calon cucunya sebagai alat tawar-menawar atau sandera agar Damian mau melepaskan seluruh hak saham perusahaannya.
"Anak kurang ajar... beraninya dia melawan keputusan papanya sendiri," geram Dito di dalam ruang kerjanya yang mewah nun jauh di seberang kota, memandangi foto kediaman Damian melalui layar tablet.
"Jika Damian tidak mau menyerahkan tanda tangan pengalihan saham itu hari ini, maka istri mudanya akan merasakan akibatnya."
Di kediaman utama, ketegangan itu mulai merayap masuk secara nyata. Ester yang baru saja turun dari lantai atas untuk mencari udara segar mendapati suasana rumah terasa sangat janggal. Para pengawal pribadi yang biasanya berjaga di pos depan tampak berdiskusi dengan gestur panik.
Sebelum Ester sempat memanggil kepala pengawal, sebuah mobil hitam berbadan besar tiba-tiba menerobos gerbang samping dengan kecepatan tinggi, mengabaikan sistem keamanan otomatis. Pintu mobil terbuka, dan tiga orang pria berbadan tegap berjas hitam turun dengan gerak-gerik mencurigakan, langsung merangsek masuk ke arah teras utama.
"Nyonya Ester! Masuk ke dalam kamar sekarang!" teriakan panik kepala pengawal memecah kesunyian pagi.
Ester yang kandungannya baru memasuki trimester awal seketika merasakan perutnya mulas luar biasa diserang kepanikan. Niatnya untuk mencari Damian terhenti saat melihat salah satu pria asing bertubuh besar berhasil mendobrak pintu samping dan menerobos masuk ke dalam rumah.
"Tangkap perempuan itu! Jangan sampai melukai kandungannya, tapi pastikan dia ikut dengan kita!" perintah salah satu penyusup dengan suara parau yang menggema di ruang tamu.
Ester melangkah mundur dengan napas tersengal, air matanya menetes karena rasa takut yang mencengkeram dadanya. Ia berusaha berlari menaiki tangga, namun tenaga wanita hamil membuatnya bergerak lambat. Tepat saat tangan salah satu penculik nyaris mencengkeram pergelangan tangannya, suara pecahan benda keras dan derap langkah kaki berlari kencang dari arah pintu utama menggelegar.
"Lepaskan tangan kotor kalian dari istriku!"
Suara Damian, dingin, penuh amarah, dan menggelegar seperti singa yang kelaparan, menghentikan seluruh pergerakan di ruang tengah itu. Damian berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata memerah, memegang sebatang tongkat baseball besi yang ia ambil dari ruang olahraga. Urat-urat di lehernya menonjol, menunjukkan kerumunan amarah yang sudah mencapai puncaknya.
Pertarungan sengit tak terelakkan di lorong rumah mewah itu. Damian yang dikuasai oleh rasa protektif luar biasa menghajar para penyusup tanpa ampun, mengabaikan luka di tangannya yang belum sepenuhnya pulih demi melindungi belahan jiwanya dan sang buah hati.
Namun, di tengah baku hantam tersebut, ponsel Damian di dalam saku celananya berdering nyaring. Sebuah panggilan masuk dari nomor pribadi sang ayah, Dito. Dengan napas tersengal dan peluh membasahi kening, Damian mengangkat panggilan itu sambil menatap tajam ke arah salah satu anak buah musuh yang tersungkur di lantai.
"Bagaimana, Damian? Apakah suguhan pagi ini cukup menarik untuk membuatmu menyerahkan saham perusahaan itu padaku, atau aku harus mengirim nyawa istrimu yang sedang hamil itu ke hadapanmu?" suara tawa dingin Dito terdengar mengejek diujung sambungan.
Rahang Damian mengeras hingga bergemeretup. Ia tahu ini baru permulaan dari teror paling mematikan yang dipimpin oleh ayah kandungnya sendiri.
"Berengsek!"
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)