66. Penyerahan diri (+)

265 7 0
                                        

Malam merayap turun dengan lambat, membungkus kediaman utama keluarga Damian dalam keheningan yang intim dan menenangkan.

Di dalam kamar utama, lampu tidur memancarkan cahaya keemasan yang lembut, menciptakan bayangan temaram di dinding. Udara di dalam ruangan terasa hangat, berpadu dengan aroma lavender yang menenangkan jiwa.

Ester berbaring bersandar pada tumpukan bantal empuk di atas ranjang king size. Usia kehamilannya kini telah tepat menginjak minggu-minggu terakhir menuju Hari Perkiraan Lahir (HPL). Perutnya yang membuncit sempurna menjadi pusat dunia bagi Damian malam ini.

Siang tadi, saat mereka melakukan pemeriksaan rutin terakhir, sang dokter spesialis kandungan sempat memberikan lampu hijau khusus.

Di usia kehamilan matang seperti ini, jika kondisi fisik sang ibu sehat dan stabil, melakukan hubungan intim diperbolehkan secara medis karena dapat membantu merangsang kontraksi alami sekaligus mempermudah proses persalinan normal.

Mendengar izin dokter tersebut, mata Damian berbinar penuh harap sepanjang perjalanan pulang. Pria itu sudah menahan diri selama berbulan-bulan demi menjaga keselamatan sang istri dan calon buah hati mereka. Dan kini, malam yang telah lama ia nantikan tiba juga.

Damian melangkah mendekati ranjang setelah selesai merapikan dokumen kerjanya. Pria itu mengenakan kaos polo yang dibiarkan kancing atasnya terbuka, menampakkan kulit dada bidangnya yang kokoh.

Ia naik ke atas ranjang, bertumpu pada lututnya, lalu mencondongkan tubuh untuk menatap lekat-lekat wajah istrinya. Jemari kokoh Damian dengan sangat lembut menepis helai rambut hitam Ester yang menutupi dahi, lalu mengecup kening sang istri penuh puja.

"Masih merasa lelah, hmmm?" tanya Damian serak, suara baritonnya terdengar begitu seksi di telinga Ester.

Ester menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang malu-malu namun penuh akan kerinduan. Rona merah muda langsung menghiasi kedua pipinya, menyadari tatapan gelap dan penuh gairah yang terpancar dari netra suaminya.

"Nggak, Sayang... aku baik-baik aja," bisik Ester lirih, jemarinya terulur menyentuh rahang suaminya yang bersih dari cukuran.

"Dokter bilang... kita boleh melakukannya malam ini, kan?"

Mendengar kalimat lugu namun menggoda itu dari bibir istrinya, ketahanan diri Damian langsung runtuh seketika. Senyuman tipis tersungging di bibir pria itu sebelum ia menunduk dan membungkam bibir Ester dalam sebuah ciuman yang langsung membakar suasana.

Ciuman itu awalnya lembut dan penuh kerinduan, namun perlahan berubah menjadi semakin dalam dan menuntut. Lidah Damian menyapu rongga mulut istrinya, mengecap rasa manis yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang.

Ester mendesah tertahan di sela ciuman mereka, tangannya melingkar erat di leher Damian, menarik pria itu semakin rapat hingga dada bidang suaminya menempel sempurna di tubuhnya.

"Ester... My Queen," desis Damian di sela ciuman mereka, suaranya terdengar serak penuh pemujaan.

"Kamu tahu betapa lamanya aku menunggu detik ini? Berbulan-bulan aku menahan diri, hanya demi menjaga kalian berdua."

"Aku tahu, Sayang... Sentuh aku sekarang," balas Ester terengah-engah saat Damian melepaskan ciumannya sejenak untuk turun mengecup rahang, leher jenjang, hingga bagian tulang selangka wanita itu.

Sentuhan tangan Damian begitu ajaib. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat yang tinggi, pria itu menyingkap gaun tidur satin yang dikenakan Ester.

Setiap inci kulit putih mulus istrinya disambut dengan ciuman basah dan hangat yang membuat Ester melengkungkan punggungnya, mendesah pelan menikmati gelombang kenikmatan yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.

Damian sangat tahu batasan. Di tengah puncak gairahnya yang membara, ia tetap memperlakukan tubuh Ester layaknya porselen paling berharga.

Tangannya yang besar membelai lembut permukaan perut buncit sang istri, memberikan kecupan penuh kasih di sana, seolah menyapa sang buah hati sebelum ia fokus sepenuhnya memuja sang ibu.

"Sayang... ah, Damian..." panggil Ester lirih, jemarinya meremas kuat helai rambut di tengkuk suaminya ketika sentuhan jemari Damian semakin terarah dan menghanyutkan.

Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Di bawah temaram lampu tidur dan keheningan malam, kedua tubuh itu menyatu dalam irama gairah yang penuh akan cinta. Setiap desahan, setiap sentuhan, dan setiap debar jantung berpadu menjadi satu melodi yang meruntuhkan sisa-sisa batasan di antara suami istri tersebut.

Damian membimbing istrinya melintasi batas kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Gerakannya penuh kelembutan namun mendalam, memastikan Ester merasa dicintai, diinginkan, dan dipuja sepenuhnya.

Di setiap pergerakan mereka, Damian terus membisikkan kata-kata cinta, memuji kecantikan istrinya, dan mengucapkan terima kasih atas kesabaran Ester selama masa kehamilan.

Ester memejamkan mata, membiarkan dirinya terhanyut sepenuhnya dalam pelukan suaminya. Sensasi hangat menyelimuti seluruh tubuhnya, menghapus segala sisa lelah, rasa cemas, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam. Yang tersisa hanyalah rasa memiliki yang utuh.

Dan ketika puncak itu akhirnya datang, gelombang kepuasan yang luar biasa menghantam kesadaran mereka berdua.

Ester mendesah panjang, mencengkeram erat seprai ranjang sambil melingkarkan kakinya di pinggang Damian, sementara sang suami membenamkan wajah di ceruk leher istrinya, melepaskan seluruh rasa cinta dan gairahnya dalam satu penyatuan yang sempurna.

Napas keduanya memburu hebat, beradu di udara yang sama. Ruangan itu dipenuhi oleh keheningan yang penuh akan kepuasan.

Damian merosot pelan, memposisikan tubuhnya di samping Ester dengan sangat hati-hati agar tidak menindih perut sang istri. Ia langsung menarik tubuh Ester ke dalam dekapannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya yang naik turun tak beraturan.

Jemari Damian dengan telaten mengusap keringat di dahi Ester, lalu mengecup puncak kepala istrinya berulang kali penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Ester... terima kasih sudah memberiku kebahagiaan sebesar ini," bisik Damian serak, mengecup bibir istrinya sekilas.

Ester tersenyum lemah namun bahagia, memejamkan mata menikmati kehangatan dekapan suaminya. Jemarinya masih setia melingkar di dada Damian.

"Sama-sama, Damian..." balas Ester dengan suara lembut.

"Sekarang... aku siap kapanpun jagoan-jagoan kita mau lahir. Karena aku tahu, ada kamu yang selalu menjagaku."

Damian tersenyum lebar dalam gelap, mendekap erat tubuh wanita paling berharga di hidupnya. Malam itu, di atas ranjang yang sama, cinta mereka tidak hanya disatukan oleh ikatan pernikahan, melainkan oleh jiwa dan raga yang telah sepenuhnya lebur, siap menyambut lembaran baru sebagai orang tua seutuhnya.

~~~

Reminder ❗❗❗
Baca semua bab selagi on going ya bebbb.

Dan gak lama lagi juga mau aku tamatin biar bisa cepet aku revisi. Karena kalau udah tamat dan revisi selesai, akan ada beberapa bab yang aku switch 😚

Tentunya di tahap revisi pasti aku perbaiki dan poles lagi isi bab nya ya. Jadi jangan sampe ketinggalan!

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang