50. Sebuah rencana

95 6 0
                                        

Sambungan telepon itu terputus sepihak begitu tawa kemenangan Dito bergema di telinga Damian. Suara tawa yang terdengar begitu asing sekaligus mengerikan, karena ia tahu persis suara itu milik darah dagingnya sendiri-pria yang seharusnya melindungi keluarganya, kini justru menjadi algojo paling kejam yang mengincar nyawa istri dan calon anaknya.

Damian menurunkan ponselnya perlahan. Rahang pria itu mengeras, sementara buku-buku jarinya memutih akibat mencengkeram erat tongkat baseball logam di tangannya. Di hadapannya, dua orang suruhan Dito yang sempat menyusup berhasil dilumpuhkan oleh para pengawal pribadi yang bergerak cepat pasca insiden pendobrakan gerbang tadi.

"Bawa mereka ke ruang bawah tanah. Pastikan tidak ada satupun dari mereka yang lolos atau bisa menghubungi pihak luar," titah Damian dengan suara berat, dingin, dan penuh tekanan mutlak.

Kepala pengawal segera mengangguk patuh dan menyeret tubuh-tubuh tak berdaya itu menjauh dari pandangan.

Seketika itu juga, fokus Damian teralihkan sepenuhnya. Ingatannya melompat pada wanita yang paling dicintainya saat ini.

Seorang wanita yang entah sejak kapan pastinya sudah hinggap di hatinya sebagai prioritas utamanya sekarang. Bukan lagi hanya sekadar formalitas semata.

Langkah kaki Damian tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju kamar utama. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Ester meringkuk di sudut ruangan dekat jendela besar. Wanita itu memeluk kedua lututnya erat-erat, tubuhnya bergetar hebat dalam balutan piyama tidur, dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi pucatnya. Sisa-sisa kepanikan akibat insiden penyerangan tadi pagi masih membekas kuat di benak Ester, membuatnya sulit bernapas normal.

Melihat kondisi istrinya, hati Damian seperti diiris sembilu. Ia membuang tongkat logam di tangannya, lalu berlutut tepat di hadapan Ester, merengkuh tubuh rapuh wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.

"Ester... hei, lihat aku," bisik Damian lembut, mencoba menyalurkan ketenangan di tengah badai teror yang melanda.

Ester langsung mencengkeram erat kemeja kerja Damian. Isak tangisnya pecah di dada bidang suaminya. Rasa takut yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah ruah tanpa bisa dicegah lagi.

"Damian... kita harus bagaimana? Mereka datang ke rumah kita. Mereka bahkan berani masuk dengan paksa ke sini," suara Ester parau dan terputus-putus di sela isakannya.

"Aku... aku takut bukan hanya karena kehamilanku, tapi aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kau, Damian..."

Ungkapan jujur itu berhasil menghujam langsung ke lubuk hati Damian. Selama ini, Ester dikenal sebagai wanita yang tangguh, keras kepala, dan penuh gengsi. Namun hari ini, di hadapannya, Ester menunjukkan ketakutan terbesar seorang istri yang begitu mencemaskan keselamatan suaminya. Tidak ada lagi sisa-sisa gengsi di antara mereka, yang ada hanyalah ketulusan cinta yang kian mengakar kuat.

"Kamu. Sebutan itu lebih enak didengar dan cocok untuk suamimu ini daripada harus "Kau"," sanggah Damian memecah kesedihannya.

"Sempat-sempatnya!" cibir Ester pelan dengan mencebikkan bibirnya-yang sayang itu terlihat menggemaskan bagi Damian.

Damian mulai mempererat pelukannya, mencium puncak kepala sang istri berulang kali dengan penuh kelembutan. Ibu jarinya dengan sabar menghapus jejak air mata di pipi Ester, lalu menangkup wajah wanita itu agar menatap langsung ke dalam manik matanya.

"Dengarkan aku, Ester," ucap Damian dengan nada suara yang tegas, penuh keyakinan, namun tetap akan kelembutan.

"Apapun yang terjadi, biarpun langit runtuh hari ini, aku nggak akan pernah biarkan satupun orang menyentuhmu ataupun anak kita. Pria itu sudah melewati batas kewajaran. Dan aku berjanji, aku akan menghentikannya sekarang juga."

"Tapi mau bagaimanapun dia ayahmu, Damian. Dia punya pengaruh besar-" sanggah Ester dengan napas tersengal, kekhawatirannya belum sepenuhnya mereda.

"Dia boleh saja menjadi ayahku secara biologis, tapi dia adalah ancaman terbesar bagi keluarga kecil kita," potong Damian cepat, tatapannya menyiratkan ketegasan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Aku sudah menyiapkan rencana, Ester. Aku nggak akan tinggal diam dan menunggu mereka datang merusak hidup kita lagi."

Sejak malam sebelumnya, insting bisnis dan naluri bertahan hidup Damian telah bergerak di balik layar. Ia tahu bahwa menghadapi pria manipulatif seperti Dito tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Mengandalkan pengamanan rumah saja tidak akan cukup selama Dito masih memegang kendali atas jaringan gelap di luar sana.

Oleh karena itu, Damian telah menyusun strategi matang. Langkah pertama yang ia ambil adalah memindahkan Ester ke sebuah tempat persembunyian rahasia yang super ketat-sebuah vila pribadi milik keluarga besarnya di kawasan pegunungan terpencil yang nantinya akan diawasi dari segi keamanan yang tinggi dan terisolasi dari jangkauan publik. Tempat itu jauh lebih aman, steril, dan mustahil dilacak oleh anak buah Dito dalam waktu dekat.

"Hari ini juga, kamu dan beberapa pengawal kepercayaan akan pindah ke vila di pegunungan," lanjut Damian menjelaskan rencananya dengan tenang.

"Jangan khawatir, tempat itu sangat aman. Makanan, dokter kandungan pribadi, dan semua kebutuhanmu akan aku siapkan di sana."

Ester menggeleng pelan, manik matanya menyiratkan penolakan halus.

"Lalu bagaimana denganmu? Kalau aku pergi ke sana, kamu akan tinggal di sini sendirian menghadapi pria itu? Aku nggak mau, Damian. Kalau kita harus pergi, kita harus pergi bersama."

Damian tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain. Ia meraih tangan Ester, lalu mengecup jemari dingin istrinya dengan penuh kelembutan.

"Aku nggak bisa ikut pergi bersama kalian, Ester. Kalau aku ikut bersembunyi, Dito akan terus mengejar kita sampai dapat. Aku harus tetap di sini untuk menyelesaikan permainan ini," jelas Damian dengan sorot mata penuh tekad membara.

"Aku harus memancingnya keluar, menjatuhkan seluruh aset bisnis ilegalnya, dan melaporkan setiap tindakan kriminalnya ke pihak berwenang secara sah. Aku akan melumpuhkannya secara total, sampai ia nggak punya celah sedikit pun untuk mengusik kita lagi."

Ester terdiam, dadanya bergemuruh hebat mendengar rencana besar yang dipertaruhkan oleh suaminya. Ada rasa bangga, haru, sekaligus cemas yang teramat sangat menyelimuti hatinya. Damian mempertaruhkan segalanya-bukan lagi demi ego perusahaan atau harta kekayaan, melainkan demi masa depan istri dan anak yang sangat dicintainya.

"Janji sama aku... kamu harus kembali dengan selamat," lirih Ester sambil menatap lekat-lekat mata suaminya, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya pada pria itu.

Damian mengangguk pasti, menarik Ester kembali ke dalam dekapannya yang hangat.

"Aku janji, Ester. Demi kamu dan anak kita, aku pasti akan kembali dan menyelesaikan semua mimpi buruk ini."

Di luar jendela kamar, awan mendung mulai bergelayut di langit kota, seolah menjadi saksi bisu atas badai besar yang akan segera meledak. Namun di dalam pelukan itu, dua jiwa yang dulunya disatukan oleh keterpaksaan kini telah menemukan kekuatan sejati untuk saling menjaga di tengah ancaman maut yang mengintai.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang