Kamar bayi di sudut timur kediaman Damian kini telah berubah wujud menjadi sebuah surga kecil berwarna putih gading dan pastel.
Sinar matahari pagi menembus celah tirai tipis, menerangi ruangan yang dipenuhi oleh puluhan kotak perlengkapan bayi yang baru saja diantar kurir semalam.
Ester berdiri di depan crib kayu minimalis sambil melipat selimut rajut berwarna biru muda, sementara Damian-dengan kemeja kerjanya yang lengannya digulung sampai siku-tengah sibuk merakit lemari kecil khusus pakaian bayi menggunakan obeng di tangannya.
"Sayang, baut yang bagian bawah jangan terlalu kencang dulu, nanti miring," tegur Ester lembut sambil melangkah mendekat, membawa segelas air hangat untuk suaminya.
Damian mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Siap, Nyonya Margajasa. Demi jagoan kecil kita, papa siaga ini bakal pastikan semua rapi tanpa cacat."
Ester terkekeh renyah, menyerahkan gelas air itu yang langsung diterima oleh Damian dengan tangan yang masih sedikit berdebu kayu. Tanpa sungkan, Damian mengecup singkat punggung tangan istrinya sebelum meneguk air tersebut.
Usia kandungan Ester kini telah genap menginjak sembilan bulan. Tinggal menghitung hari, dokter memprediksi buah hati pertama mereka akan melihat dunia. Perut Ester yang sudah membuncit sempurna membuat gerakannya kini jauh lebih pelan, namun hal itu justru membuat Damian semakin tidak bisa jauh-jauh dari istrinya.
Pria itu menjelma menjadi bayangan setia yang selalu siap siaga 24 jam penuh, memastikan Ester tidak kekurangan suatu apa pun.
Bukan hanya perlengkapan bayi yang disiapkan dengan teliti. Di sela-sela kesibukannya merakit perabot dan mengurus pekerjaan kampus, Damian terus melanjutkan sesi terapinya bersama Dr. Aris.
Tidak ada lagi rasa enggan atau ketakutan yang mendalam. Setiap pekan, dengan ditemani Ester yang setia duduk di ruang tunggu, Damian melatih mentalnya menghadapi ruang-ruang tertutup dan tempat tinggi. Trauma masa lalu yang sempat mengakar kuat di jiwanya kini perlahan tercerabut, digantikan oleh tekad baja bahwa ia harus menjadi sosok ayah yang kuat, tegar, dan bisa diandalkan sepenuhnya saat hari persalinan tiba nanti di rumah sakit.
"Selesai!" seru Damian bangga sambil menepuk kedua tangannya yang bersih dari sisa debu kayu, lalu berdiri tegak menghadap sang istri.
Ia langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tanpa ragu, Ester melangkah maju, membiarkan Damian mendekap tubuhnya dengan sangat hati-hati, memberikan ruang bagi perut buncit mereka agar tidak tertekan terlalu kuat. Damian membenamkan wajahnya di ceruk leher Ester, menghirup aroma sabun mandi vanila bercampur keringat tipis istrinya.
"Kamu capek?" bisik Ester jemarinya dengan lembut mengusap helai rambut hitam suaminya.
"Sedikit," jawab Damian jujur dengan suara serak yang seksi.
"Tapi capeknya hilang seketika waktu aku lihat senyum kamu pagi ini. Sebentar lagi... jagoan kita lahir, Ester. Aku resmi jadi seorang papa."
Ada getaran kebahagiaan yang begitu nyata di dalam nada suara pria itu. Ester tersenyum haru, merasakan degup jantung Damian yang bergemuruh cepat di balik dada bidangnya.
"Iya, Sayang... sebentar lagi kamu jadi papa," balas Ester lembut.
"Dan aku tahu, kamu bakal jadi papa terbaik di dunia ini."
Damian melepas pelukannya sejenak, menatap lekat-lekat manik mata wanita yang paling dicintainya. Tanpa aba-aba, ia berlutut satu kaki di lantai kamar bayi yang berkarpet tebal itu. Tangannya yang hangat terulur menyibak sedikit pakaian rumah Ester, lalu mendarat dengan sangat lembut di atas permukaan perut buncit sang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)