Suara tangisan bayi yang tadinya hanya satu, kini berganti menjadi paduan dua suara mungil yang saling bersahutan, memenuhi seluruh sudut ruang pemulihan VIP Rumah Sakit Medika. Suasana di dalam ruangan tersebut berubah menjadi lautan haru, hangat, dan dipenuhi oleh pendar kebahagiaan yang teramat sangat.
Ester ternyata melahirkan dua bayi laki-laki kembar secara normal dengan sehat dan sempurna. Kehadiran dua malaikat kecil itu seketika melipatgandakan rasa syukur di dada Damian dan Ester.
Ester berbaring bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah yang masih menyisakan sedikit pucat, namun senyuman paling indah terukir jelas di bibirnya. Di dalam dekapannya dan di dalam baby box khusus di samping ranjang, dua bayi mungil berbalut bedong kain putih tampak tertidur pulas dengan dada naik turun teratur.
Vani, sang ibu kandung, tidak bisa menahan air mata bahagianya. Wanita paruh baya itu berdiri di sisi ranjang, sibuk merapikan selimut Ester sambil mengelus lembut rambut putrinya.
"Ya ampun, Ce... Mama benar-benar nggak menyangka kamu melahirkan anak kembar. Hebat sekali putri Mama ini," ucap Vani terisak haru, mengecup kening Ester penuh kasih sayang.
Tidak kalah perhatian, Sahara-ibu Damian-tampak sibuk menyiapkan air hangat dan termos kecil di meja nakas. Wanita itu membawakan semangkuk sup ayam hangat buatan rumah khusus untuk memulihkan tenaga Ester.
"Sudah, jangan banyak menangis dulu, Vani. Biarkan Ester makan sup ini supaya cepat pulih. Perjuanganmu luar biasa, Ester. Mulai sekarang siapkan tenaga ekstra ya, karena punya bayi kembar itu rasanya seperti merawat satu peleton tentara kecil," ujar Sahara disusul tawa renyah yang mencairkan ketegangan.
Di sudut ruangan, para pria dari kedua belah pihak-Bian, Elang, Dani, dan tentu saja Damian-tampak sibuk dengan cara mereka sendiri. Elang dan Samuel (yang tadi sempat menyusul datang bersama Clarissa) sibuk merakit kursi tambahan dan merapikan kiriman karangan bunga ucapan selamat yang memenuhi lorong depan kamar. Sementara Dani membantu Damian mengurus administrasi rumah sakit dan keperluan kamar bayi.
Damian berdiri di samping ranjang Ester. Pria berkemeja navy yang dulunya dikenal kaku, dingin, dan penuh luka masa lalu itu kini tampak begitu lembut. Tatapannya tidak pernah lepas dari dua sosok bayi mungil di hadapannya. Status barunya kini telah resmi menjadi seorang papa.
Mengingat kembali perjalanan hidup mereka, kehadiran si kembar ini dulunya benar-benar tidak terencana sama sekali. Di tengah badai teror Dito, ancaman Laura, serta ketakutan dan trauma yang sempat melilit jiwa Damian, buah hati ini hadir sebagai keajaiban yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Garis takdir telah membalikkan keadaan, mengubah air mata penderitaan menjadi tangisan kebahagiaan yang murni.
Ester menoleh ke arah suaminya. Ia menangkap binar basah di sudut mata Damian-air mata kebahagiaan seorang pria tangguh yang akhirnya menemukan pelabuhan terindahnya.
"Sayang..." panggil Ester lembut, mengulurkan tangannya untuk menyentuh jemari suaminya.
Damian langsung menggenggam erat tangan Ester, membawanya ke bibirnya dan menciuminya berulang-ulang.
"Aku di sini, sayang. Terima kasih... terima kasih banyak atas perjuangan luar biasa hari ini," bisik Damian serak penuh cinta.
Ester tersenyum hangat, lalu melirik ke arah dua bayi kembar mereka yang tertidur lelap.
"Kita sudah memikirkan nama yang tepat untuk mereka, kan?"
Damian mengangguk mantap. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri, lalu mengangkat kedua bayi mungil itu secara bergantian dengan sangat hati-hati, menempatkannya di sisi kiri dan kanan lengan Ester.
Dengan suara baritonnya yang tegas namun bergetar penuh kasih, Damian mengumumkan nama kedua buah hati mereka di hadapan seluruh keluarga yang berkumpul.
"Untuk Kakaknya... kita beri nama Darren Margajasa," ucap Damian penuh kebanggaan, menatap bayi pertama yang memiliki garis wajah mirip dengannya.
"Dan untuk Adiknya... Daniel Margajasa."
Darren dan Daniel.
Nama-nama indah yang membawa makna kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan-sebuah doa agar kedua anak tersebut tumbuh menjadi pria hebat yang akan melanjutkan marga Margajasa dengan penuh kehormatan, cinta, dan kasih sayang.
Mendengar nama tersebut, Vani, Sahara, Dani, dan seluruh keluarga yang hadir memberikan tepuk tangan kecil diiringi senyuman lebar.
"Nama yang luar biasa indah," puji Dani tersenyum bangga, menepuk pundak putranya.
"Selamat ya. Kalian resmi jadi orang tua sekarang."
Ester menunduk, menciumi pipi mungil Darren dan Daniel bergantian. Air mata bahagianya menetes membasahi selimut bayi.
"Darren... Daniel... selamat datang di dunia, Nak. Ini Papa dan Mama, orang yang akan selalu melindungi kalian selamanya."
Damian merengkuh tubuh istri dalam satu dekapan yang hangat dan erat. Tidak ada lagi ruang bagi bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Tidak ada lagi teror, rasa sakit, atau ketakutan. Yang ada di bawah dekapan Damian saat ini adalah dunianya yang utuh-keluarga kecilnya yang sempurna, benderang oleh cahaya masa depan dan cinta sejati yang tidak akan pernah pudar.
[One Night Sleep]
Malam semakin larut di ruang VIP Rumah Sakit Medika, namun atmosfer di dalam ruangan justru semakin hangat dan hidup. Lorong luar yang tadinya sempat riuh perlahan mulai tenang setelah keluarga besar memutuskan untuk pulang beristirahat, membiarkan Damian dan Ester menikmati waktu intim pertama mereka sebagai orang tua baru bersama si kembar.
Di dalam ruangan yang diterangi lampu temaram, Damian tampak duduk di kursi sebelah ranjang dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku. Meskipun kelelahan luar biasa mendera setelah seharian dilanda kepanikan dan ketegangan, tidak ada sedikit pun guratan lelah di wajah pria itu. Yang terpancar justru binar kekaguman yang tak habis-habisnya setiap kali ia menatap dua boks bayi di dekat ranjang Ester, tempat Darren dan Daniel tertidur lelap dengan napas teratur.
Ester yang bersandar nyaman di atas tumpukan bantal memperhatikan suaminya dengan senyuman kecil di bibirnya. Ia melihat bagaimana Damian perlahan bangkit, melangkah mendekati boks bayi, dan dengan gerakan yang sangat hati-hati merapikan selimut kecil penutup tubuh Daniel. Sikap siaga dan penuh perhatian itu membuat hati Ester menghangat seketika.
"Sayang... kamu nggak mau istirahat sebentar?" tanya Ester lembut, suaranya terdengar sedikit serak karena kelelahan proses persalinan tadi.
"Dari tadi sore kamu terus berdiri dan mondar-mandir mengurus semuanya."
Damian menoleh, lalu melangkah mendekati ranjang istrinya. Ia duduk di tepi kasur, menangkup sebelah tangan Ester dan menciumnya penuh kelembutan.
"Aku nggak bisa tidur, sayang," jawab Damian jujur, sorot matanya menatap lekat-lekat manik mata istrinya.
"Setiap kali aku buka mata dan melihat ke arah boks itu, rasanya aku masih nggak percaya. Kita berhasil, Ester. Kita resmi menjadi orang tua. Mereka anak-anak kita... darah daging kita."
Ester tersenyum haru, ibu jarinya mengusap punggung tangan suaminya yang kokoh.
"Aku juga masih merasa ini seperti mimpi. Rasanya baru kemarin kita melewati hari-hari berat penuh teror dan air mata. Sekarang, dunia kita sudah sempurna dengan kehadiran Darren dan Daniel."
Damian menunduk, mengecup kening istrinya lama sekali, menyalurkan seluruh rasa cinta dan terima kasih yang tak terhingga.
"Terima kasih, Ester... terima kasih karena kamu nggak pernah menyerah, selalu berdiri di sisiku, dan memberikan hadiah terindah ini untuk hidupku."
"Sama-sama, suamiku," balas Ester manis.
"Mulai sekarang, nggak ada lagi bayang-bayang masa lalu. Yang ada hanya kita berempat."
Damian tersenyum lebar, lalu mendekatkan wajahnya untuk membungkam bibir Ester dalam sebuah ciuman yang lembut, manis, dan penuh pemujaan. Diiringi suara napas teratur si kembar di dalam boks, malam itu resmi menjadi awal dari lembaran hidup baru keluarga kecil mereka yang dipenuhi cahaya, kedamaian, dan cinta abadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)