"Tarik napas perlahan, Tuan Damian. Hembuskan lewat mulut. Rasakan pijakan kaki Anda di lantai. Anda berada di tempat yang aman. Tidak ada yang akan jatuh."
Suara lembut namun tegas milik Dr. Aris-psikolog klinis yang telah direkomendasikan secara khusus-menggema di dalam ruangan terapi yang tenang bernuansa krem.
Di hadapan meja konsultasi, Damian berdiri kaku di atas sebuah anjungan observasi khusus setinggi tiga meter yang dirancang menyerupai balkon terbuka. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin, rahangnya mengeras hingga bergemeretup, dan buku-buku jarinya memutih akibat mencengkeram erat besi pengaman di kedua sisinya.
Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya, sementara bayangan kelam saat ia berusia sepuluh tahun lalu kembali berputar liar di kepalanya, lantai rooftop apartemen, teriakan ibunya, dan tubuh yang meluncur jatuh ke bawah.
"Sayang... hei, lihat aku."
Sebuah suara lembut memecah ketakutan yang mencekam itu. Damian menoleh perlahan ke samping.
Ester berdiri di dekatnya-meskipun sedang hamil besar dengan perut yang membuncit sempurna, wanita itu tetap bersikeras menemani suaminya berdiri di ruang terapi.
Ester tidak membiarkan Damian menghadapi ketakutannya seorang diri. Dengan tangan bergetar namun sorot mata penuh keyakinan, Ester meraih tangan kanan Damian yang mencengkeram besi, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Kamu nggak sendiri, Sayang. Aku di sini. Aku memegang tanganmu," bisik Ester lembut, menyalurkan kehangatan dan kekuatan luar biasa langsung ke relung jiwa suaminya.
Damian menatap manik mata sang istri. Di dalam lautan cokelat hangat itu, tidak ada penghakiman, tidak ada paksaan, yang ada hanyalah cinta tanpa syarat.
Pekan-pekan terakhir ini, setelah pemakaman Dito selesai dan bayangan masa lalu resmi terkubur, Damian mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia sadar, ia tidak bisa terus-menerus menjadi pengecut di hadapan traumanya sendiri.
Terlebih lagi, usia kehamilan Ester sudah tinggal menghitung minggu menuju hari perkiraan lahir. Bayangan tentang dirinya yang akan mendampingi sang istri di rumah sakit nanti-tempat yang selama ini paling ia benci-terus mendesak kesadarannya.
Ia tidak boleh pingsan atau kehilangan kendali saat Ester berjuang melahirkan buah hati mereka. Ia harus menjadi suami dan ayah yang berdiri paling depan.
Karena itulah, atas dukungan penuh Ester, Damian memberanikan diri melangkah ke ruang psikolog untuk menjalani terapi desensitisasi fobia ketinggian dan trauma rumah sakit.
"Saya... saya coba," suara Damian parau, napasnya memburu tak beraturan.
"Bagus, Damian. Jangan lawan rasa takut itu secara paksa, tapi rangkul. Ingat, kejadian puluhan tahun lalu tidak akan terulang lagi pada hari ini. Anda adalah pria dewasa, pelindung bagi istri dan anak Anda," bimbing Dr. Aris dari balik meja kerjanya, memberikan instruksi dengan tenang.
Damian menutup matanya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meresapi genggaman tangan Ester yang begitu erat di jemarinya. Perlahan-lahan, ia melonggarkan cengkeramannya pada besi pengaman balkon. Meskipun lututnya masih terasa lemas, ia berhasil melangkah maju satu langkah kecil ke depan.
Satu langkah.
Tidak ada yang jatuh. Tidak ada angin kencang yang menarik tubuhnya. Yang ada hanya suara detak jantungnya sendiri dan senyuman bangga yang terukir di wajah Ester.
"Kamu hebat, Sayang... hebat sekali," puji Ester tulus, air mata haru menggenang di sudut matanya melihat betapa besar usaha suaminya demi masa depan keluarga kecil mereka.
Damian membuka matanya, menatap lurus ke depan, lalu beralih menatap wajah sang istri yang begitu dicintainya. Seketika itu juga, beban tak kasat mata yang selama puluhan tahun menghimpit pundaknya seolah rontok berkeping-keping.
Fobia itu tidak langsung hilang dalam sekali pertemuan, namun keberanian pertamanya hari ini adalah tanda pasti bahwa ia telah memenangkan pertempuran terbesar melawan masa lalunya.
[One Night Sleep]
Satu jam kemudian, sesi terapi selesai. Damian keluar dari ruang konsultasi dengan napas yang jauh lebih longgar, meskipun tubuhnya masih terasa lelah. Ester berjalan di sampingnya, terus menggandeng lengan suaminya posesif namun penuh kelembutan.
"Bagaimana perasaanmu, Tuan Damian?" goda Ester lembut sambil mendongak menatap suaminya saat mereka berjalan menuju area parkir klinik.
Damian menghentikan langkahnya, lalu membawa Ester ke dalam dekapannya di bawah naungan pohon rindang di halaman parkir. Ia membenamkan wajah di ceruk leher istrinya, menghirup aroma lavender yang selalu menenangkan.
"Capek... tapi rasanya jauh lebih ringan," aku Damian jujur, melingkarkan tangannya di pinggang Ester dengan sangat hati-hati.
"Terima kasih sudah menemaniku, Ester. Kalau bukan karena kamu, aku mungkin nggak akan punya keberanian melangkah masuk ke ruangan tadi."
Ester tersenyum manis, jemarinya terulur mengusap rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Kita adalah sebuah tim, Sayang. Apa pun lukamu, apa pun ketakutanmu, kita pikul dan lawan bersama-sama. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu."
Damian menatap lekat-lekat mata istrinya, lalu tanpa ragu membungkam bibir Ester dalam sebuah ciuman yang manis, hangat, dan penuh rasa syukur. Ciuman itu menyatukan cinta, pengorbanan, dan janji suci untuk menyongsong hari esok yang bersih tanpa bayangan kelam.
"Ngomong-ngomong," bisik Damian usai melepaskan ciumannya, sebelah tangannya turun mengusap perut buncit Ester.
"Baby di dalam sepertinya sudah mulai protes karena dari tadi kita ajak berdiri terus. Dia pengen makan apa hari ini, hmmm?"
Ester tertawa renyah, memukul pelan dada suaminya.
"Anaknya sih belum ngomong, tapi mamanya pengen es krim cokelat vanila di kafe ujung jalan."
Damian mendengus pura-pura protes, namun senyuman lebar langsung tersungging di bibirnya.
"Siap, ratu. Apapun demi kamu dan jagoan kita. Mari kita borong satu toko es krimnya."
Keduanya tertawa bersama, berjalan berdampingan menuju mobil dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Masa lalu yang kelam, trauma rumah sakit, ketakutan akan ketinggian, serta teror-teror mengerikan kini telah resmi ditutup rapat di belakang. Yang ada di hadapan mereka kini hanyalah lembaran baru yang terang, penuh tawa, pelukan hangat, dan penantian manis menyambut tangisan pertama sang buah hati tercinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)