61. Kabar

54 5 0
                                        

"Sayang, kancing kemejamu miring."

"Ah, biar aku rapikan sendiri, Sayang. Kamu duduk saja, jangan banyak bergerak."

"Aku bukan porselen, Damian. Usia kehamilan 7 bulan ini bukan berarti aku lumpuh," protes Ester dengan nada manja, meskipun bibirnya menyunggingkan senyuman manis saat jemari lentiknya tetap telaten merapikan kerah kemeja kerja suaminya.

Damian terkekeh pelan. Kedua tangannya terulur melingkar sempurna di pinggang Ester yang kini sudah membuncit indah. Pria itu menunduk, mendaratkan satu ciuman hangat di puncak kepala istrinya yang berbalut dress rumahan kasual berpotongan longgar.

"Bagi mataku, kamu jauh lebih berharga daripada porselen paling mahal di dunia, Ester," bisik Damian serak, menatap lekat-lekat manik mata istrinya.

"Dan soal kesepakatan nggak boleh bekerja... ingat, itu keputusan bulat yang sudah kita sepakati bersama."

Ester mendengus kecil, pura-pura merengut sebal.

"Iya, iya, Pak Dokter Cinta. Tuan Dosen yang terhormat. Aku nurut. Tidak ada lagi ngotot ingin pergi ke kantor atau mengurus proyek desain sampai larut malam. Cukup jadi ratu di rumah ini saja, kan?"

"Pintar," puji Damian, lalu mengecup bibir Ester sekilas sebelum meraih tas kerjanya di atas nakas.

Setelah insiden menegangkan dengan Laura beberapa waktu lalu, suasana kembali berputar pada poros yang membahagiakan. Laura tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi, seolah sadar bahwa kehadirannya hanya berujung pada kehancuran mutlak bagi dirinya sendiri.

Ancaman demi ancaman perlahan sirna. Kehidupan rumah tangga mereka kembali normal, bahkan jauh lebih harmonis. Damian telah resmi kembali aktif dengan rutinitas hariannya sebagai dosen dan pengawas bisnis keluarga, sementara Ester-setelah melalui perdebatan panjang dan rayuan maut suaminya-akhirnya melunak dan sepakat untuk sepenuhnya berhenti bekerja, fokus menjaga kandungannya hingga proses persalinan tiba.

"Jangan rindu terlalu cepat, ya. Nanti siang aku pasti pulang tepat waktu untuk makan siang bersamamu," ucap Damian sambil melangkah keluar dari kamar utama menuju pintu depan.

"Hati-hati di jalan, Sayang!" seru Ester dari ambang pintu, melambaikan tangan dengan senyuman terkembang lebar.

[One Night Sleep]

Siang hari menjelang sore, suasana ruang kerja Damian di rumah terasa nyaman. Ester sedang asyik membaca buku panduan merawat bayi di sofa empuk ruang tengah ketika dering ponsel di atas meja mendadak berdering nyaring.

Ester melirik layar ponsel milik Damian yang tertinggal di meja. Tertera nama "Papa" di sana. Tanpa curiga, Ester mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Pa?" sapa Ester ramah.

Suara di seberang telepon terdengar berat, tergesa-gesa, dan menyiratkan keheningan yang janggal.

"Ester? Ah, baguslah kamu yang mengangkatnya. Mana Damian? Apakah dia sudah pulang dari kampus?"

"Belum, Pa. Sebentar lagi mungkin sampai. Tadi ponselnya tertinggal di rumah. Ada apa? Suara papa terdengar buru-buru," tanya Ester, keningnya mengernyit samar.

"Ester, dengarkan papa baik-baik..." jeda sejenak di seberang sana sebelum Dani melanjutkan dengan nada getir.

"Dito... ayah kandung Damian... baru saja ditemukan."

Jantung Ester seolah berhenti berdetak sesaat. Nama itu sudah lama tidak diucapkan di rumah ini.

"Ditemukan? Di mana, Pa?"

"Di sebuah motel terpencil di luar kota. Pihak kepolisian baru saja mengabari papa. Tapi... dia ditemukan sudah tidak bernyawa."

Mata Ester membelalak lebar.

"Ya Tuhan... apa yang terjadi?!"

"Bunuh diri," jawab Dani berat.

"Dari laporan kepolisian dan catatan yang ditinggalkannya, Dito mengalami depresi berat karena pelariannya gagal total, seluruh asetnya dibekukan, dan ia dilanda ketakutan luar biasa jika harus tertangkap lalu mendekam di dalam penjara seumur hidup. Ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri."

Sambungan telepon itu terasa berdengung di telinga Ester. Ia terdiam kaku di atas sofa, mencerna setiap kata yang diucapkan ayah mertuanya.

Bayangan tentang pria tua yang penuh ambisi, kejam, dan menjadi teror terbesar dalam hidup suami serta keluarganya kini telah lenyap selamanya-bukan oleh tangan pengadilan, melainkan oleh keputusasaan dan rasa bersalahnya sendiri.

Tak lama kemudian, suara pintu utama terbuka. Langkah kakiny terdengar memasuki ruang tengah. Damian, yang rupanya baru saja pulang dari kampus langsung duduk di samping sang istri, tatkala Ia diperintahkan mendekat.

Sampai beberapa saat panggilan itu terputus, Ester langsung menceritakan semua berita yang baru saja ia dapat.

"Sayang..." panggil Ester lirih.

Damian mendongak. Di mata pria itu, tidak ada air mata kesedihan, tidak ada pula tawa kemenangan. Yang ada hanyalah kelegaan yang teramat sangat, seolah sebuah batu besar seberat ribuan ton yang selama puluhan tahun menghimpit dadanya akhirnya terangkat seketika.

Ester langsung merengkuh tubuh suaminya, membawa kepala Damian bersandar di dadanya, sementara tangannya dengan lembut mengusap rambut hitam suaminya.

"Semuanya sudah selesai, Sayang," bisik Ester menenangkan.

"Bayangan itu sudah pergi. Dia... sudah tiada."

Damian membalas pelukan istrinya dengan erat, sangat erat. Ia membenamkan wajah di ceruk leher Ester, membiarkan kehangatan tubuh sang istri dan detak jantung calon anak mereka menyadarkannya bahwa masa lalu yang kelam kini resmi terkubur selamanya.

"Terima kasih, Ester..." bisik Damian parau di dekat telinga istrinya.

"Terima kasih karena selalu ada di sisiku, menjadi rumah tempatku pulang."

Ester tersenyum tulus, mengecup pipi suaminya penuh cinta. Tirai masa lalu yang penuh darah, air mata, dan ancaman kini tertutup rapat. Di ambang kelahiran buah hati mereka, masa depan baru yang damai, penuh cahaya, dan dipenuhi gelimang cinta sejati telah menanti di hadapan mereka berdua.

Kabar kematian Dito memang bukan hal besar bagi Damian. Namun juga tidak bisa disepelekan. Mau bagaimanapun, sebenci apapun, dan semarahnya ia pada sang "papa" tetap tak menutup fakta bahwa ialah seorang anak kandung, dari seorang Dito Margajasa.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang