Udara dingin khas perbukitan seolah mencair tatkala aroma harum rempah-rempah dan masakan rumahan mulai menguar dari arah dapur minimalis.
Ester bersenandung kecil di depan kompor, mengenakan apron kain bermotif bunga tulip dengan rambut panjangnya yang dicepol longgar. Rasa mual parah dan morning sickness yang sempat menyiksanya beberapa waktu lalu kini telah berangsur hilang, menyisakan energi baru yang membuatnya kembali bersemangat.
Sejak pulih total, Ester mendadak memiliki hobi baru: memasak menu-menu kesukaan suaminya.
Langkah kaki tegap terdengar mendekati area dapur. Sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar hangat di pinggang ramping Ester dari belakang, disusul helaan napas lega di ceruk lehernya.
"Hmm... harum sekali. Istri siapa dulu ini?" bisik Damian serak khas suara bangun tidur, dagunya bersandar nyaman di bahu sang istri.
Ester tersenyum, menghentikan sejenak kegiatan mengaduk tumisan di wajan lalu memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapannya.
"Kebiasaan ya, belum cuci muka sudah merayu," goda Ester dengan nada manja, jemarinya yang bebas mencolek pelan ujung hidung suaminya.
Damian terkekeh pelan, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin memberi jarak barang sedetik pun.
"Biar saja. Rayuan ini khusus buat istriku tercinta. Lagi masak apa, hm?" tanyanya sambil melongokkan kepala ke arah wajan.
"Semur ayam keep manis sama sambal goreng kentang kesukaan kamu. Biar suami kesayanganku ini cepat pulih total dan bertenaga lagi," jawab Ester lembut, menatap lekat-lekat wajah Damian yang kini sudah tampak jauh lebih segar tanpa lebam-lebam mengerikan seperti minggu lalu.
"Kalau dimasakin sama koki tercantik sedunia begini, dijamin hari ini aku langsung sembuh seratus persen," balas Damian cepat, lalu mendaratkan satu ciuman singkat yang manis di pipi kanan istrinya.
Ester merengut pura-pura kesal, meski rona merah malu-malu jelas merayap di pipinya.
"Udah, jangan gombal terus. Sana duduk di meja makan, makanannya sebentar lagi siap. Kamu kan harus siap-siap work from home juga hari ini."
"Iya, ratuku..." ucap Damian patuh, namun sebelum beranjak ia sempat-sempatnya mengecup bibir Ester sekilas, membuat sang puan mendengus geli sembari melempar tatapan protes penuh manja.
Pagi menjelang siang, suasana ruang kerja pribadi Damian di sudut vila tampak tenang namun produktif. Meja kerjanya dipenuhi oleh laptop, beberapa tumpuk berkas skripsi mahasiswa, serta cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.
Meskipun telah mengajukan cuti panjang dari kegiatan tatap muka di kampus, Damian tetap menyempatkan diri untuk membantu membimbing beberapa mahasiswa tingkat akhir secara daring demi kelulusan mereka.
Damian tengah serius menatap layar laptop, menyimak penjelasan salah satu mahasiswanya via video call, ketika pintu ruang kerja berderit pelan membuka.
Ester masuk membawa nampan kecil berisi sepiring buah segar dan segelas jus jeruk dingin. Tanpa suara, ia berjalan mendekati meja kerja suaminya dan meletakkan sajian itu dengan hati-hati di sisi laptop.
Damian melirik sekilas, lalu tersenyum hangat. Di tengah kesibukannya membedah bab demi bab skripsi, kehadiran Ester selalu menjadi penawar lelah yang paling mujarab.
"Mas, sebentar ya. Ini bagian daftar pustakanya masih ada yang keliru format penomorannya," ujar Damian di sela video call-nya pada sang mahasiswa di seberang layar.
Begitu panggilan daring itu selesai dan Damian menutup aplikasinya, ia langsung mendesah pelan sambil meregangkan otot bahunya yang kaku.
"Capek, hm?" tanya Ester penuh perhatian, lalu berdiri tepat di belakang kursi kerja suaminya. Tangannya yang lentik langsung terulur memijat pelan tengkuk dan bahu Damian yang tegang.
"Lumayan. Mahasiswa zaman sekarang kalau bikin skripsi suka bikin darah tinggi," keluh Damian manja, lalu menarik tangan Ester agar wanita itu membungkuk dan membiarkannya menyandarkan kepala di perut buncit istrinya yang mulai tampak berisi.
Ester tersenyum lembut, jemarinya dengan telaten merapikan rambut hitam Damian.
"Makanya jangan terlalu diforsir. Kalau capek, istirahat. Jangan cuma marahin mahasiswanya lewat layar laptop."
"Mana bisa istirahat kalau ratu pengawasnya berdiri terus di belakangku?" canda Damian sambil mendongak, menatap mata Ester dengan binar penuh cinta yang teramat dalam.
"Ngomong-ngomong, sebentar lagi Elang mau video call buat bimbingan skripsi juga. Kamu mau nemenin?"
Mendengar nama sang adik disebut, mata Ester langsung berbinar cerah.
"Elang? Wah, tumben dia mau serius ngerjain skripsi. Kemarin-kemarin dia ngadu ke aku katanya pusing sama dosen pembimbingnya."
Tak lama berselang, layar laptop kembali berdering menampilkan panggilan masuk dari Elang-adik kandung Ester yang kini sedang berjuang merampungkan kuliahnya di bawah bimbingan iparnya sendiri.
Begitu panggilan diangkat, wajah Elang yang tampak kusut langsung muncul di layar.
"Selamat siang, Pak Dosen galak..." sapa Elang langsung dengan nada merajuk khas anak bungsu.
Ester tertawa renyah, membungkuk mendekati layar laptop di samping suaminya.
"Makanya jadi mahasiswa jangan suka bolos, Lang! Giliran skripsi numpuk baru kepayahan."
"Aku gak bolos ya, Ce! Ini tuh datanya kurang valid gara-gara respondennya pada ngaret," elak Elang membela diri.
Damian terkekeh pelan dari posisinya yang masih bersandar di pelukan Ester.
Tangan kanannya dengan santai merangkul pinggang sang istri, mengusapnya pelan penuh kasih sayang di depan kamera.
"Sudah-sudah, jangan ngeyel, Elang. Kirim file bab tiganya sekarang ke email saya. Biar nanti sore saya koreksi. Kalau revisimu masih berantakan kayak kemarin, awas ya saya suruh ulang dari Bab Satu."
"Siap, Pak! Ampun, jangan kejam-kejam dong, nanti cece saya sedih kalau suaminya galak terus," goda Elang lewat layar, sengaja meledek Damian.
Ester langsung mencubit pelan lengan suaminya, sementara Damian hanya tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.
Lambat laun Elang juga turut luluh. Ia sudah mulai menerima keadaan Dan kenyataan bahwa dosen pembimbingnya-Damian sebagai kakak iparnya.
"Udah sana lanjut ngerjain revisi, jangan kebanyakan ngeles!" tandas Ester pura-pura garang pada sang adik.
Setelah panggilan dengan Elang berakhir, suasana ruang kerja kembali tenang. Damian menarik Ester untuk duduk sepenuhnya di pangkuannya.
Ester tidak melawan, ia justru melingkarkan lengannya di leher Damian, menikmati kehangatan pelukan di siang hari yang cerah.
"Kamu bahagia, Nyonya Margajasa?" tanya Damian tiba-tiba dengan suara lirih namun penuh akan ketulusan, menatap manik mata istrinya dalam-dalam.
Ester mengangguk mantap, senyuman manis terukir indah di bibirnya.
"Sangat bahagia, Tuan Margajasa. Dulu aku kira pernikahan kita cuma bakal jadi ikatan kaku yang membosankan. Tapi sekarang... aku justru bersyukur semesta mempertemukan kita."
Damian tersenyum hangat, lalu mendaratkan ciuman yang lembut dan penuh cinta di bibir istrinya.
Menghabiskan sisa hari itu dengan bermesraan, tertawa bersama, dan menikmati kedamaian sempurna tanpa ada satu pun bayangan gelap yang mengganggu.
~~~
Ada tombol ⭐ di bawah, jangan pelit pencet ya bebbb 😚😚
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)