48. Lingkaran Rapuh

99 7 0
                                        

Hari-hari setelah insiden di tangga itu tidak serta-merta membuat hubungan Ester dan Damian mencair sempurna. Rumah megah berarsitektur modern itu masih menyisakan sisa-sisa ketegangan, seperti bara api yang tertutup abu tipis.

Namun, bagi Ester, masalah terbesar saat ini bukanlah lagi soal foto di rumah sakit, melainkan perang batin yang berkecamuk hebat di dalam kepalanya sendiri.

Di dalam keheningan kamarnya, Ester sering kali termenung lama menatap pantulan dirinya di depan cermin rias. Ia merasa asing dengan karakternya sendiri belakangan ini.

"Sejak kapan aku menjadi wanita pencemburu seperti ini?" batin Ester bergejolak, diliputi rasa bimbang yang menyesakkan dada.

Ia merasa asing dengan rasa sakit yang begitu mendalam setiap kali melihat Damian bersama wanita lain. Padahal, sejak hari pertama mereka mengikat janji suci di altar, pernikahan ini tidak pernah dilandaskan atas dasar cinta. Mereka dipersatukan oleh paksaan keadaan, bukan karena debar asmara yang menggelora.

Ester selalu memegang prinsip bahwa ia tidak akan pernah menaruh hati pada pria dingin seperti Damian agar ia tidak terluka di kemudian hari. Namun, kenyataan menamparnya telak. Hormon kehamilan tampaknya meleburkan pertahanan logikanya, membuat ego dan gengsinya runtuh perlahan. Ia benci mendapati dirinya merajuk, marah, dan menuntut perhatian layaknya seorang istri yang benar-benar dicintai suaminya sepenuh hati.

"Bodoh, Ester. Kamu melanggar batasanmu sendiri," gumamnya lirih sambil memeluk kedua lututnya di atas ranjang yang terasa terlalu luas.

Namun, di tengah kebingungan dan pergulatan perasaan Ester yang mulai membabi buta, semesta sepertinya belum ingin memberi mereka ketenangan. Permasalahan baru datang bertubi-tubi menyerang benteng keluarga kecil mereka.

Damian, di luar rumah, harus menghadapi teror mematikan dari musuh sekaligus rival masa lalunya. Ancaman itu kini mulai bergeser arah, tidak lagi hanya menyerang urusan pekerjaan atau pribadinya, melainkan mulai berani mengusik ketenangan rumah tangganya. Terutama keselamatan Ester yang tengah berbadan dua.

Pesan-pesan ancaman anonim, paket misterius berisi teror, hingga orang-orang asing yang mencurigakan mulai terlihat lalu-lalang di sekitar kawasan perumahan mereka. Damian menyadari bahwa Laura hanyalah pion kecil atau sekadar alat pengalih perhatian yang sengaja dikirim untuk memecah konsentrasinya. Musuh yang sebenarnya sedang membidik titik paling lemah dalam hidupnya-Ester dan calon anak mereka.

Malam itu, di tengah badai konflik panas dan ketegangan luar biasa akibat ancaman musuh yang semakin mendekat, Damian masuk ke kamar dengan wajah lelah dan rahang mengeras. Ia baru saja mendapatkan laporan dari pengawal pribadinya bahwa keamanan rumah mereka diperketat karena ada orang tak dikenal yang mencoba masuk sore tadi.

Melihat Ester yang terdiam kaku di tepi ranjang dengan mata sembab, alih-alih meluapkan emosi atau kelelahan kerjanya, Damian memilih meredam seluruh amarah di dadanya. Pria itu melangkah pelan, mendekati sang istri tanpa suara.

Tanpa banyak bicara, Damian berlutut di lantai tepat di hadapan Ester. Tangannya yang hangat perlahan meraih jemari istrinya yang terasa dingin.

"Ester..." panggil Damian dengan suara yang sengaja dilembutkan, jauh dari kesan arogan atau egois yang biasa ia tunjukkan. Netranya menatap dalam manik mata sang istri yang menyiratkan kebingungan luar biasa.

Ester tertegun, mengerjap pelan merasakan kehangatan yang mendadak disalurkan oleh suaminya di tengah situasi yang begitu kacau. "Damian... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa akhir-akhir ini rasanya sangat menakutkan? Siapa orang-orang yang terus mengusik kita?" tanya Ester dengan suara parau, pertahanan terakhirnya runtuh sudah.

Damian menghela napas berat, mencoba menenangkan wanita yang kini menjadi tanggung jawab penuh hidupnya.

"Ada beberapa orang di luar sana yang mencoba menjatuhkan perusahaanku dengan cara-cara kotor, Ester. Tapi percayalah, aku nggak akan biarkan satupun dari mereka menyentuhmu atau anak kita."

"Tapi aku capek, Damian. Aku capek hidup dalam ketakutan seperti ini. Dan... dan aku benci diriku sendiri," isak Ester akhirnya, air matanya tumpah membasahi pipi.

Damian menatap istrinya dengan sorot mata penuh empati. "Benci dirimu kenapa, Ester? Ceritakan padaku."

"Aku benci karena aku mulai peduli padamu!" teriak Ester di sela tangisannya, meluapkan segala beban yang menghimpit dadanya sejak hari foto itu datang. "Seharusnya aku tidak peduli dengan wanita masa lalumu itu! Seharusnya aku tidak merasa cemburu, tidak merasa sakit hati, karena kita tahu persis pernikahan ini hanya atas dasar kontrak dan perjodohan! Kita tidak saling mencintai, Damian!"

Mendengar kejujuran yang terlontar dari bibir istrinya, Damian terdiam sejenak. Ada denyutan nyeri di dadanya, namun di sisi lain, ada kelegaan aneh yang menyeruak. Ia bangkit dari posisinya yang berlutut, lalu duduk di tepi ranjang, merengkuh tubuh rapuh Ester ke dalam dekapannya.

Ester sempat memberontak kecil, mencoba mendorong dada suaminya, namun pelukan erat Damian justru semakin mengunci pergerakannya.

"Sstt... dengarkan aku, Ester," bisik Damian tepat di dekat telinganya, suaranya begitu lembut, kontras dengan sifat kasarnya beberapa hari lalu.

"Memang benar kita memulai semua ini tanpa cinta. Kita dipaksa keadaan. Tapi, apakah perasaan tulus yang aku tunjukkan selama ini harus selalu kamu ragukan hanya karena masa lalu?"

Ester terdiam, napasnya memburu di dada bidang suaminya.

"Aku mungkin bukan pria yang romantis, Ester. Aku egois, aku keras kepala, dan aku punya banyak musuh di luar sana. Tapi, sejak kamu hadir di rumah ini, sejak ada detak jantung kecil di dalam perutmu itu... prioritas hidupku sudah berubah sepenuhnya," lanjut Damian tulus, sebelah tangannya mengusap lembut rambut panjang Ester, sementara tangan lainnya mengelus pelan perut sang istri.

"Maafkan aku soal wanita di rumah sakit itu. Aku bersumpah nggak pernah ada hubungan apa-apa lagi di antara kami. Wanita itu hanya masa lalu busuk yang berusaha menarikku kembali, dan aku sudah mengakhirinya dengan tegas," ucap Damian penuh penekanan, menyakinkan sang istri.

Ester memejamkan mata rapat-rapat. Perlakuan hangat dan sentuhan lembut itu seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan ego dan gengsinya. Di sela-sela konflik panas dan rasa bimbang yang melanda hatinya, ketulusan Damian malam itu berhasil membuat Ester merasakan debar asing yang selama ini ia hindari setengah mati. Ia sadar, benteng pertahanan hatinya telah jebol sepenuhnya.

"Jangan tinggalkan aku, Damian..." bisik Ester sangat pelan, hampir tak terdengar, namun berhasil ditangkap oleh pendengaran suaminya.

Damian tersenyum tipis, mengecup puncak kepala istrinya penuh kelembutan. "Aku nggak akan pernah kemana-mana. Kita akan lewati badai ini bersama-sama, apapun taruhannya."

Namun, di balik keheningan malam dan pelukan rapuh itu, mereka berdua belum tahu bahwa ancaman di luar sana telah menyiapkan langkah berikutnya yang jauh lebih mematikan, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kebahagiaan kecil yang baru saja mereka rangkai.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang