47. Retak

107 6 0
                                        

Suara deru mesin mobil yang terparkir di halaman depan memecah keheningan rumah. Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekati kamar tidur utama. Pintu terbuka lebar, menampakkan Damian dengan plester steril menempel di punggung tangan kanannya-bukti nyata ia baru saja pulang dari IGD rumah sakit.

"Ester?" panggil Damian dengan napas sedikit terengah, mencoba menampilkan senyum menenangkannya meski wajahnya sendiri menyisakan sisa-sisa ketegangan.

"Aku sudah pulang dari rumah sakit. Lukanya sudah dijahit, dan aku juga-"

Ucapannya terhenti seketika.

Ester tidak menyambutnya dengan omelan kecil ataupun tatapan datar seperti biasa. Wanita itu duduk tegak di tepi ranjang, wajahnya pucat pasi, namun sorot matanya menyala tajam penuh amarah yang tertahan. Di tangan kanannya, layar ponsel menyala terang, menampilkan sebuah foto yang baru saja dikirimkan oleh seseorang tak dikenal.

Tanpa sepatah kata, Ester membalikkan ponselnya, menunjukkan layar itu tepat di hadapan Damian.

"Bisa jelaskan ini apa?" suara Ester bergetar hebat, dingin namun sayat akan luka yang mengoyak dada.

Damian terpaku. Darahnya seolah mendadak berhenti mengalir. Netranya menatap foto dirinya dan Laura di lorong rumah sakit terpampang nyata di sana. Seketika, rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka ada mata-mata yang sengaja membidik momen itu untuk menghancurkan rumah tangganya yang memang sedang di ambang kerapuhan.

"Ester, tunggu... ini bukan seperti yang kamu lihat," sangkal Damian cepat, suaranya meninggi karena kepanikan yang mendadak menyerang. Ia melangkah maju, berniat meraih tangan istrinya untuk meredakan ketegangan.

Baru juga ia mulai berusaha untuk meluluhkan hati Ester. Namun ternyata ada saja halangannya.

"Jangan mendekat!" teriak Ester sambil menepis kasar tangan Damian. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga.

Ini bukan Ester biasanya. Tapi rasa berkecamuk dalam dada sejak tadi sudah tak bisa dibendung.

"Kenapa kalian bisa bersama?!"

"Aku tidak sengaja bertemu dengannya, Ester! Demi Tuhan, aku sama sekali tidak punya niat apapun di belakangmu!" Damian bersikeras menyangkal, suaranya mulai meninggi, tersulut oleh frustrasi karena tidak dipercaya.

Sisi egois dalam dirinya mulai mendominasi-ia merasa sudah berkorban melawan fobianya demi pergi ke rumah sakit, namun justru disudutkan tanpa diberi ruang untuk menjelaskan.

"Lalu kenapa fotonya bisa ada di sini?! Kenapa dia bisa tahu kau di sana kalau kalian tidak ada hubungan?! Jawab aku, Damian!" Ester balas membentak, dadanya naik turun menahan sesak. Kepercayaan yang baru saja ia bangun runtuh dalam hitungan detik.

Damian terdiam sesaat, napasnya memburu. Ego prianya bergejolak hebat. Ia merasa sudah berlaku cukup adil, menuruti semua kemauan Ester, mengalah, dan menjaga jarak sesuai permintaan wanita itu. Namun kini, alih-alih mendengarkan penjelasannya secara utuh, Ester justru menelan mentah-mentah teror dari orang tak dikenal.

"Karena aku hanya berusaha membuatmu percaya dan mau melakukan apa yang kamu inginkan, Ester!" cetus Damian lepas kendali, egois dan terbawa emosi yang meluap-luap.

Ester tertegun, matanya membelalak lebar mendengar kejujuran yang terlontar begitu mentah dari mulut suaminya. Kalimat itu bagaikan belati tajam yang menusuk jantungnya.

"Semua itu kulakukan demi anak yang ada di kandunganmu!" lanjut Damian dengan suara parau, menatap tajam sang istri tanpa mau mengalah.

"Aku rela menahan rasa sakit di tanganku, aku rela tunduk pada semua aturanmu, semua itu karena aku ingin kamu tenang dan mau makan demi anak kita! Bukan karena aku ingin bermain-main di belakangmu, Ester!"

Ester tertawa hambar, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi.

"Jadi selama ini... kau memperlakukanku seperti orang bodoh? Semua kepedulianmu itu benar palsu? Kau melakukan itu semua hanya karena anak ini, bukan karena peduli padaku?!"

Keduanya terjebak dalam ego masing-masing. Damian terlalu keras kepala untuk membela diri dengan cara yang salah, sementara Ester terlalu rapuh untuk menerima kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka kini telah disusupi oleh duri dari masa lalu yang siap menghancurkan kapan saja.

"Kalau caramu memperlakukanku adalah dengan berbohong dan menemui wanita itu, lebih baik kita sudahi saja sandiwara ini!" seru Ester dengan napas tersengal, menatap suaminya penuh kekecewaan.

"Jangan bicara sembarangan, Ester!" balas Damian tak kalah sengit, nada suaranya menggelegar di dalam kamar.

"Kamu sedang emosi, kamu nggak tahu apa yang sedang kamu ucapkan!"

"Aku sadar sepenuhnya, Damian! Keluar dari kamar ini! Aku butuh sendiri!"

Damian menatap nanar istrinya. Ada rasa bersalah yang mencubit hatinya, namun ego yang terlanjur membumbung tinggi membuatnya enggan untuk melunak atau merendahkan diri lebih jauh. Dengan napas memburu dan rahang yang masih mengeras, pria itu akhirnya berbalik badan, melangkah keluar kamar dengan membanting pintu cukup keras, meninggalkan Ester yang jatuh tersedu-sedu di atas ranjang.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka kecil di dalam rumah mewah itu. Dingin, kaku, dan penuh dengan kecurigaan yang membatu. Damian tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami secara fisik-ia memastikan makanan tersaji, obat-obatan Ester tersedia, dan kebutuhan rumah tangga terpenuhi-tetapi komunikasi di antara mereka benar-benar mati. Mereka hidup di bawah satu atap yang sama, namun bagaikan orang asing yang enggan saling berpandangan.

Ester semakin sering mengurung diri di kamar, membiarkan pikirannya diracuni oleh foto misterius hari itu. Setiap kali ia melihat suaminya dari kejauhan, bayangan Laura menyambut Damian di rumah sakit kembali berputar di kepalanya, memupuk rasa tidak percaya yang semakin dalam. Di sisi lain, Damian merasa lelah. Ia merasa telah memberikan segalanya, namun usahanya selalu dipatahkan oleh kecemburuan dan masa lalunya yang terus mengejar.

Hingga pada suatu sore, ketika ketegangan di antara mereka mencapai puncaknya, sebuah insiden kembali terjadi.

Ester yang berniat turun ke dapur untuk mengambil segelas air hangat mendadak merasakan pusing yang luar biasa hebat. Pandangannya kabur, dan keseimbangannya hilang seketika saat ia berada di ambang tangga lantai dua.

"Ester!"

Teriakan panik Damian menggema di seluruh sudut rumah. Pria itu yang kebetulan sedang berada di ruang kerja langsung berlari kencang, melompati beberapa anak tangga demi meraih tubuh istrinya yang hampir terjatuh bebas ke lantai bawah.

Beruntung, dalam sepersekian detik, tangan kekar Damian berhasil melingkar di pinggang Ester, menarik tubuh wanita itu kedalam dekapannya sebelum benar-benar terhempas ke lantai. Keduanya jatuh tersungkur di atas karpet tangga dengan napas yang memburu hebat.

Ester memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram erat kemeja Damian di bagian dada karena rasa pusing dan syok yang teramat sangat. Untuk sesaat, ego di antara mereka runtuh oleh rasa takut kehilangan.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Damian dengan suara bergetar nyata, tangannya dengan lembut mengusap punggung dan rambut istrinya yang basah oleh keringat dingin. Kecemasan di wajah pria itu tidak bisa disembunyikan; itu adalah bentuk kepedulian murni yang tanpa syarat.

Ester perlahan membuka matanya, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Di dalam manik mata Damian, ia sama sekali tidak menemukan kepalsuan, melainkan ketulusan yang luar biasa besar untuk keselamatan dirinya dan buah hati mereka.

"Jangan... jangan lakukan ini lagi," bisik Ester parau.

"Aku di sini, Ester. Aku nggak akan kemana-mana," balas Damian lembut, mengeratkan dekapannya, mencoba menyalurkan kehangatan di tengah badai dingin yang sempat memisahkan hati mereka.

Namun, di balik keheningan malam dan pelukan rapuh itu, mereka berdua belum tahu bahwa badai yang sebenarnya baru saja bersiap menerjang, membawa serta rahasia masa lalu Laura yang jauh lebih kelam dari apa yang mereka bayangkan.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang