65. Quality Time

61 6 0
                                        

Sinar matahari pagi menyinari jalanan kota yang lengang, memantulkan bias cahaya di atas trotoar bersih di sekitar kawasan distrik perbelanjaan elit. Udara pagi terasa begitu segar, membawa semangat baru bagi siapa saja yang menghirupnya.

Di salah satu sudut restoran outdoor berkonsep classic yang direkomendasikan oleh Ester sebelumnya, meja bundar berukuran sedang telah dipenuhi oleh gelak tawa dan obrolan ringan. Restoran minimalis namun elegant dengan tanaman gantung rambat di setiap sudutnya itu memang menjadi tempat favorit berkat suasana tenang dan makanannya yang lezat.

Ester duduk berdampingan dengan Clarissa, sahabat lamanya. Usia kehamilan Ester yang kini telah menginjak sembilan bulan dan tinggal menghitung hari membuat perut buncitnya tampak semakin jelas, dibalut midi dress hamil berwarna sage green yang membuatnya terlihat anggun. Di hadapan mereka berdua, Samuel-kekasih Clarissa-sedangkan Damian duduk siaga dengan mata yang tidak pernah lepas sedetik pun dari sang istri tercinta.

"Wah, Ces! Perutmu sudah sebesar ini, rasanya baru kemarin kamu curhat soal pernikahan paksamu dengan Pak Dosen dingin ini, sekarang tinggal menunggu hari kelahirannya aja," seru Clarissa antusias sambil mengusap pelan lengan sahabatnya, mata wanita itu berbinar senang.

Ester tersenyum lebar, jemarinya mengaduk pelan segelas lemon squash tanpa es miliknya.

"Iya juga ya. Waktu kayaknya berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku pusing memikirkan kerjaan kantor, sekarang malah sibuk menyiapkan perlengkapan bayi."

Damian, yang duduk di samping Ester, mendengus pelan namun tersenyum tipis.

"Bukan cuma sibuk menyiapkan, Clarissa. Suaminya ini bahkan hampir setiap malam mengecek suhu kamar bayi setiap satu jam sekali," sindir Damian santai, namun matanya menatap Ester penuh cinta.

Samuel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Damian, lalu menepuk pundak sahabatnya itu.

"Ampun deh, Damian. Dari dulu kaku banget, sekarang mendadak jadi overprotective dad. Tapi wajar sih, sebentar lagi kau resmi jadi bapak-bapak seutuhnya."

"Biarin. Daripada kau, diajak double date malah sibuk ngurusin menu makanan terus," balas Damian sengaja meledek sahabatnya.

Clarissa langsung mencolek pinggang Samuel dengan siku, membuat pria itu nyengir lebar sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Suasana meja makan itu dipenuhi kehangatan dan canda tawa yang mencairkan segala ketegangan masa lalu.

Menjelang hari kelahiran sang buah hati yang tinggal menghitung hari, mereka memang sengaja merencanakan sehari penuh untuk hang out bersama-makan enak, berjalan-jalan santai, hingga berbelanja kebutuhan akhir sebelum Ester melahirkan.

[One Night Sleep]

Selepas makan siang dan menikmati obrolan hangat, agenda hari itu resmi dimulai dengan skema yang sudah disepakati: girls time khusus untuk Ester dan Clarissa, sementara Damian dan Samuel bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus pembawa belanjaan setia di belakang mereka.

"Yuk! Kita ke butik bayi di sebelah sana. Aku mau lihat koleksi kaos kaki rajut ukuran newborn," ajak Ester bersemangat, menarik pergelangan tangan Clarissa.

"Siap, Calon Mama! Ayo kita habiskan kartu debit para bapak-bapak di belakang!" balas Clarissa tertawa renyah.

Ester dan Clarissa berjalan beriringan menyusuri jalur pejalan kaki yang bersih. Keduanya sibuk membicarakan berbagai hal mulai dari tips menyusui, nama bayi, hingga model pakaian lucu. Mereka berjalan dengan langkah santai, menikmati angin sore yang sejuk.

Namun, di belakang mereka, dua orang pria berjas rapi-Damian dan Samuel-mengikuti dengan jarak sekitar tiga langkah. Kedua tangan mereka penuh dengan kantong belanjaan berukuran besar berisi perlengkapan bayi, bantal menyusui, hingga kotak mainan gantung.

Samuel melirik sekilas ke arah Damian yang sejak tadi terus memperhatikan setiap langkah jalan istrinya dengan tatapan waspada tingkat tinggi. Pria itu bahkan terlihat siap siaga kapan saja jika seandainya Ester salah melangkah atau tersandung kerikil kecil.

"Hei, Pak Dosen... santai sedikit kenapa?" ledek Samuel sambil merapikan pegangan kantong belanjaannya di tangan kiri.

"Istrimu cuma jalan-jalan di mall, bukan mau mendaki gunung Semeru. Jangan pasang muka tegang begitu, nanti keburu keriput sebelum anakmu lahir."

Damian melirik Samuel tajam, lalu mendengus dingin.

"Kau belum tahu rasanya, Sam. Istriku sedang hamil sembilan bulan. Kalau dia lecet sedikit saja, aku orang pertama yang bakal repot."

"Iya, iya, yang sekarang lagi bucin akut sama istri," cibir Samuel terkekeh pelan.

"Tapi jujur, aku ikut senang melihat kalian sekarang. Mengingat betapa kacaunya situasi beberapa bulan lalu-mulai dari teror Dito sampai gangguan si Laura sialan itu-kalian akhirnya bisa sampai di titik damai seperti ini."

Mendengar nama-nama itu disebut, ekspresi Damian sedikit mengeras, namun ia mengangguk pelan.

"Ya... badai itu akhirnya reda. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak ketenangan keluarga kecil kami lagi. Sekarang, prioritas utamaku hanya keselamatan Ester dan anak kami."

Di depan sana, Ester dan Clarissa mendadak berhenti di depan sebuah toko permen cokelat artisanal berdesain klasik. Ester menoleh ke belakang, mendapati suami dan sahabatnya sedang berdiri berdampingan sambil membawa setumpuk kantong belanjaan besar.

Ester menahan tawa melihat ekspresi Damian yang tampak serius mengawasi gerak-geriknya, sementara kedua tangannya penuh dengan barang. Wanita hamil itu lantas melambaikan tangan dengan manis, memanggil suaminya.

"Damian! Sini sebentar!" panggil Ester dengan nada manja.

Damian langsung mempercepat langkahnya, menghampiri istrinya tanpa peduli beban belanjaan di tangannya.

"Ada apa, sayang? Kakimu pegal? Mau istirahat dulu? Atau mau cari tempat duduk?" tanya Damian beruntun dengan nada cemas yang kentara.

Ester terkekeh gemas. Jemari lentiknya terulur merapikan kerah kemeja Damian yang sedikit bergeser, lalu mengecup sekilas pipi suaminya di tempat umum-sebuah pemandangan langka dari seorang Damian yang dulunya terkenal kaku dan jaim.

"Aku cuma mau cokelat batangan di etalase itu. Boleh ya?" pinta Ester dengan mata berbinar memohon.

Damian menghela napas lega, lalu tersenyum hangat.

"Cuma itu? Tentu saja boleh, ratuku. Mau diborong semua tokonya juga boleh."

Samuel dan Clarissa yang berdiri di dekat mereka langsung memasang ekspresi pura-pura mual geli melihat kebucinan pasangan tersebut.

"Ampun deh, dunia milik berdua. Yang lajang bisa apa?" sindir Clarissa tertawa.

Ester merona malu, sementara Damian hanya tersenyum lebar tanpa rasa bersalah, merangkul pinggang istrinya posesif. Hari itu benar-benar menjadi momen yang sempurna-penuh tawa, kebersamaan, dan cinta yang kian mengakar kuat, menghapus seluruh sisa kelam masa lalu dan bersiap menyambut tangisan pertama sang buah hati tercinta.

"Mangkanya buruan nikah!" cibir Damian.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang