Hari-hari di kediaman utama keluarga Damian kini dipenuhi oleh kelembutan dan perhatian tanpa batas. Usia kehamilan Ester yang telah memasuki trimester kedua membuat perutnya semakin tampak membuncit indah, menjadi pusat dunia baru bagi Damian.
Hubungan suami istri itu kian hari kian lekat, diselimuti kemesraan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan iri. Keduanya begitu menyayangi calon buah hati mereka, memperlakukan janin di dalam perut Ester dengan kehati-hatian luar biasa seolah bayi itu adalah permata paling berharga di muka bumi.
Damian menjelma menjadi sosok suami yang siaga penuh dan memanjakan istrinya secara berlebihan. Meski peran ini belum pernah Ia bayangkan sebelumnya.
Namun, apapun yang diminta Ester, sekecil apapun itu, pasti akan dituruti seketika selagi hal itu bisa membuat sang puan tersenyum bahagia. Pagi hingga malam, Damian tidak pernah absen menghujani istrinya dengan kecupan lembut, pelukan hangat, serta kata-kata cinta yang manis.
Hingga suatu sore, gelombang manja khas ibu hamil itu datang menguji kesabaran sang "dokter pribadi" yang terkenal kaku.
Ester yang tengah duduk bersantai di sofa ruang keluarga tiba-tiba dikejutkan oleh gelombang ngidam yang datang secara mendadak. Matanya berbinar menatap layar ponsel, lalu ia menarik-narik ujung kemeja Damian yang sedang duduk di sampingnya sambil membaca dokumen kantor.
"Sayang..., aku pengen banget makan seblak level kepedasan maksimal yang ada di ujung jalan itu," rengek Ester dengan suara manja yang teramat sangat, bibirnya mengerucut lucu.
Damian melirik layar ponsel istrinya, lalu keningnya langsung berkerut dalam-dalam. Ia menggeleng tegas.
"Jangan, Sayang. Jangan seblak yang pedasnya ekstrem begitu. Perutmu sedang isi, nanti kalau lambungmu iritasi dan kamu sakit perut bagaimana? Ganti yang lain ya, hm? Aku suruh bibi buatkan sup iga hangat atau bubur ayam spesial untukmu."
Mendengar penolakan itu, mata Ester yang tadinya berbinar seketika meredup. Sensitivitas ibu hamil membuat perasaannya langsung melunak sekaligus rapuh. Dalam hitungan detik, genangan air mata meluncur begitu saja membasahi pipi mulusnya.
"Kamu nggak sayang lagi sama aku..." cicit Ester pelan dengan suara parau bergetar, lalu ia menepis pelan tangan Damian dan membuang muka sambil terisak kecil.
"Aku cuma pengen itu... tapi kamu malah melarangnya. Kamu jahat..."
Damian langsung membeku. Pria yang biasanya tegas menghadapi musuh-musuh berbahaya itu mendadak panik setengah mati melihat air mata sang istri. Ia melempar dokumen di tangannya dan langsung bergeser mendekat, merengkuh tubuh Ester ke dalam dekapannya.
"Eh, sayang... hei, jangan menangis," bujuk Damian kewalahan, sebelah tangannya sibuk menghapus air mata di pipi istrinya dengan gerakan sangat hati-hati.
"Bukannya aku nggak sayang, Ester. Aku cuma khawatir sama kesehatanmu dan bayi kita. Kalau kamu sakit karena makanan pedas itu, aku orang pertama yang bakal paling merasa bersalah."
"Tapi aku pengennya ituuu..." isak Ester makin menjadi, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Damian hingga kemeja suaminya basah oleh air mata.
Damian menghela napas panjang, meresapi betapa rapuhnya wanita yang sangat dicintainya ini. Ia tersenyum kecil penuh kesabaran, lalu mulai melancarkan jurus rayuannya. Jari-jarinya dengan lembut menyisir rambut panjang Ester, mengecup pelipis dan kelopak mata istrinya yang basah bergantian.
"Cup, cup, jangan nangis lagi ya, cantik," bisik Damian serak dan begitu mesra di telinga Ester.
"Dengar sini... bagaimana kalau kita buat versi yang jauh lebih sehat di rumah? Bibi pasti bisa buatkan seblak rumahan yang rasanya tetap gurih dan nikmat, tapi tingkat kepedasannya aman untuk lambung istriku yang paling manis ini. Mau ya, hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)