Sore itu, bias cahaya matahari melukis langit kota dengan sapuan jingga yang hangat. Namun, kehangatan senja tersebut sama sekali tidak dirasakan oleh Ester. Di dalam kamar utama kediaman mereka, suasana berubah menjadi mencekam ketika gelombang rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menghantam tubuhnya tanpa ampun.
Ester yang tadinya sedang bersandar santai membaca buku seketika terduduk kaku. Ia mencengkeram erat seprai ranjang dengan kedua tangannya, sementara napasnya tersengal-sengal pendek. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari bagian bawah perut hingga ke pinggang belakangnya, meremas sekujur tubuhnya tanpa belas kasihan.
"Agh... ya Tuhan..." rintih Ester tertahan, air matanya langsung tumpah seketika akibat kontraksi hebat yang datang secara berturut-turut.
Perut buncitnya terasa mengeras bagai batu, dan rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi-jadi, menandakan bahwa sang buah hati telah memberikan sinyal ingin segera melihat dunia. Hari perkiraan lahir yang dinanti-nantikan akhirnya tiba, tepat sehari setelah malam penuh keintiman mereka.
Naasnya, Damian belum juga pulang dari kampus. Pria itu masih harus menyelesaikan jadwal kuliah terakhir dan rapat evaluasi dekan sore ini, membuat ponselnya disetting ke mode senyap di dalam tas kerjanya.
Di saat bersamaan, pintu kamar utama terbuka perlahan. Bibi-asisten rumah tangga paruh baya yang sudah lama mengabdi-masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan biskuit khusus ibu hamil.
"Nyonya, ini susunya saya letakkan di..." ucapan Bibi terhenti seketika saat netranya menangkap pemandangan di atas ranjang.
Nampan di tangan Bibi hampir terlepas dan jatuh membentur lantai. Ia melihat Ester meringkuk kesakitan, wajah pucat pasi tanpa warna, bibirnya bergetar hebat menahan tangis, dan keringat dingin bercucuran membasahi pelipis serta leher wanita itu.
"Ya Tuhan, Nyonya! Kenapa ini? Perutnya sakit sekali, ya?!" panik Bibi setengah berlari meletakkan nampannya di atas nakas, lalu langsung merengkuh bahu Ester yang gemetar hebat.
"Bi... argh... sakit sekali, Bi..." isak Ester histeris, mencengkeram lengan Bibi dengan kuat saat gelombang kontraksi kedua kembali menyerang.
"Rasanya... rasanya anak ini mau keluar sekarang..."
Bibi yang melihat kondisi majikannya langsung bergidik ngeri sekaligus panik luar biasa. Ia tahu persis, tanda-tanda ini menunjukkan bahwa proses persalinan sudah dimulai. Tanpa pikir panjang, Bibi menyambar ponsel Ester yang tergeletak di atas meja rias, lalu mencari kontak nama suami majikannya setelah mendapatkan izin.
Tuan Damian.
Bibi menekan tombol panggil dengan tangan bergetar hebat. Sambungan belum juga terhubung, dan setelah dering kedua, suara bariton Damian baru terdengar dari seberang sana, terdengar tenang namun terburu-buru.
"Halo, Ester? Maaf Sayang, rapatku baru saja selesai. Aku sedang merapikan meja dan bersiap pulang sekarang. Ada apa, hm? Kamu butuh sesuatu?" suara Damian menyapa beruntun di ujung telepon.
"Tuan! Tuan Damian, ini saya Bibi,
Tolong cepat pulang, Tuan!" teriak Bibi dengan suara nyaris menangis di dalam telepon.
Di seberang sana, Damian yang baru saja keluar dari ruangannya berjalan cepat menyusuri koridor kampus menuju area parkir seketika menghentikan langkahnya. Keningnya mengernyit dalam, rasa cemas langsung mencengkeram dadanya mendengar suara panik dari sang asisten rumah tangga.
"Bibi? Kenapa suara Bibi panik begitu? Di mana Ester?" tanya Damian tajam, nada suaranya berubah tegang dalam sepersekian detik.
"Nyonya Ester, Tuan! Nyonya kesakitan luar biasa di kamarnya! Air ketubannya juga sudah pecah, beliau terus merintih dan menangis menahan sakit! Nyonya mau melahirkan, Tuan!" teriak Bibi melaporkan situasi darurat di rumah.
Deg!
Dunia Damian mendadak terasa berhenti berputar. Ponsel di telinganya nyaris terlepas dari genggaman. Bayangan tentang hari persalinan yang sudah ia bayangkan sejak lama mendadak bergemuruh hebat di kepalanya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Damian membalikkan badan, berlari kencang meninggalkan gedung kampus menuju mobilnya yang terparkir di basement.
"Saya pulang sekarang! Jaga Ester, jangan biarkan dia sendirian sedetik pun!" perintah Damian dengan suara menggelegar penuh kepanikan mutlak.
Pria itu melempar pintu mobilnya, masuk, menyalakan mesin dengan tangan bergetar, dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil SUV hitam miliknya melesat keluar dari area kampus bagai kesetanan.
Perjalanan sore itu berubah menjadi mimpi buruk bagi Damian. Lalu lintas kota yang sedang padat-padatnya membuat emosinya melambung tinggi. Klakson mobil berbunyi bersahutan. Damian tidak peduli lagi pada aturan lalu lintas; pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal: Ester sedang kesakitan di rumah tanpa dampingannya.
Karena mengemudi dengan kecepatan tinggi dan pikiran yang kalut, Damian beberapa kali nyaris menyebabkan kecelakaan fatal. Di sebuah persimpangan jalan raya yang padat, seorang pejalan kaki tiba-tiba melintas secara mendadak.
Screeeeeeet!
Suara decitan ban mobil bergesekan dengan aspal berbunyi nyaring memekakkan telinga. Damian membanting setir ke kiri dengan refleks luar biasa, nyaris menabrak pembatas jalan dan seorang warga yang berlari melintas. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu tak beraturan, keringat dingin bercucuran membasahi kemeja kerjanya. Pria itu sempat meneriakkan sumpah serapah, lalu kembali menginjak gas sekuat tenaga, mengabaikan debar jantungnya yang mau copot demi bisa segera sampai di rumah.
Hanya butuh waktu separuh dari perjalanan normal bagi Damian untuk mencapai kediaman mereka.
Begitu mobilnya masuk ke halaman depan, Damian bahkan tidak mematikan mesin dengan benar. Ia langsung melompat keluar, membanting pintu mobil hingga tertutup keras, dan berlari menerobos pintu utama rumah yang tidak terkunci.
"Ester!" panggil Damian dengan suara menggelegar memenuhi seluruh ruangan lantai bawah.
Pria itu berlari menaiki anak tangga dua sekaligus dengan napas tersengal-sengal, menerobos masuk ke kamar utama.
Begitu ia menginjakkan kaki di ambang pintu kamar, pemandangan di hadapannya membuat kaki Damian terasa lemas melihatnya.
Ester berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi. Bibirnya yang biasanya merah merona kini tampak putih, air mata mengalir deras membasahi pipi dan bantalnya, sementara kedua tangannya mencengkeram erat selimut sambil melenguh kesakitan yang teramat sangat. Di sampingnya, Bibi tampak kewalahan menyeka keringat di dahi sang nyonya.
"Damian..." rintih Ester dengan suara parau bergetar hebat saat melihat sosok suaminya berdiri di ambang pintu.
"Sakit sekali, Sayang... perutku..."
Melihat penderitaan wanita yang paling dicintainya, pertahanan Damian runtuh seketika. Kepanikan yang luar biasa menyergap sekujur tubuhnya. Pria yang biasanya tenang, dingin, dan penuh perhitungan itu kini menjelma menjadi sosok yang sangat rapuh melihat sang istri tersiksa.
Damian berlari tergesa-gesa menghampiri ranjang, menjatuhkan kedua lututnya di lantai tepat di samping tempat tidur Ester. Tangannya yang gemetar langsung menggenggam erat tangan istrinya yang dingin.
"Ester... hei, aku di sini... aku sudah pulang, sayang!" ucap Damian panik setengah mati, suaranya bergetar hebat nyaris menangis. Ia menciumi jemari Ester berulang kali, menyalurkan seluruh rasa bersalah karena sempat terlambat datang.
"Sakit, Dam... hiks... cepat bawa aku ke rumah sakit..." mohon Ester lemah, mencengkeram kuat tangan suaminya hingga kuku-kukunya menancap di kulit Damian.
Mendengar kata 'rumah sakit', kilasan bayangan masa lalu-bau obat penenang, lorong IGD, dan kenangan kelam saat kehilangan sang ibu-sempat melintas sekilas di kepala Damian.
Namun, dalam sepersekian detik, ketakutan itu langsung musnah tak bersisa. Tidak ada lagi fobia atau trauma yang bisa menghalanginya. Prioritas utamanya saat ini hanya satu: keselamatan Ester dan buah hati mereka.
Damian bangkit berdiri, dengan sigap dan sangat hati-hati mengangkat tubuh Ester ke dalam gendongannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Sayang. Bertahanlah sebentar, suamimu ada di sini. Nggak akan terjadi apa-apa pada kalian semua!" seru Damian dengan tekad bulat, menggendong istrinya keluar kamar dibantu oleh Bibi yang membawakan tas perlengkapan bayi menuju mobil yang sudah menunggu di depan rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomantikBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)