Angin sore berhembus lembut, membawa ketenangan semu ke teras belakang kediaman utama keluarga Damian. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama ketika ketukan keras di pintu utama membuyarkan sore yang tenang.
Ester yang saat itu sedang menikmati secangkir teh chamomile hangat bersama sang suami mengernyitkan kening. Para pengawal pribadi yang berjaga di luar tampak bergeser waspada.
Belum sempat Damian berdiri untuk memeriksa, pintu ruang tamu terbuka lebar. Seorang wanita berpenampilan mencolok dengan balutan dress merah menyala melangkah masuk dengan angkuh.
Laura.
Wanita itu berdiri tegak di tengah ruangan, menatap tajam ke arah Damian dan Ester dengan sorot mata menyala penuh amarah dan kebencian yang selama ini dipendam. Riasan tebal di wajahnya tidak mampu menutupi aura keputusasaan yang mengiringi kedatangannya.
Damian langsung berdiri tegak, merentangkan satu tangannya melindungi Ester di belakang punggungnya. Rahang pria itu mengeras seketika, netranya menatap tajam pada wanita yang sudah ia buang jauh-jauh dari hidupnya.
"Sedang apa kamu ke sini, Laura? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumah ini?" suara Damian dingin, menggelegar penuh ancaman.
Laura tertawa sinis, suara tawanya terdengar sumbang dan menyayat. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan mematikan dari Damian. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya, menatap pria yang dulu sangat dipujanya.
"Kamu tega sekali, Damian!" jerit Laura histeris, menunjuk ke arah perut buncit Ester yang berlindung di balik tubuh suaminya.
"Bagaimana bisa kamu melupakanku semudah itu? Bagaimana bisa kamu memberikan seluruh hidupmu, rumah ini, dan anak itu kepada perempuan murahan ini?!"
Mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan Laura, emosi Damian tersulut. Ia hendak melangkah maju untuk mengusir wanita itu secara paksa, namun sebuah gerakan menghentikannya.
Ester keluar dari balik punggung Damian.
Wanita itu tidak lagi menunjukkan ketakutan seperti saat pertama kali diteror. Kehamilan dan badai yang telah ia lewati bersama Damian telah membentuknya menjadi sosok istri yang jauh lebih kuat, tangguh, dan berani mati-matian mempertahankan keluarganya.
Ester menatap Laura dengan dagu terangkat tinggi, sorot matanya dingin namun mematikan.
"Jaga mulutmu, Laura," ucap Ester tenang namun penuh penekanan yang mencengangkan.
Laura mendengus meremehkan, melipat kedua tangannya di dada.
"Oh, lihat siapa yang berani bicara sekarang? Istri sah? Istri yang tidak tahu malu merebut Damian dariku! Kamu pikir kamu siapa, Ester? Kamu hanya pengganti! Damian mencintaiku duluan sebelum kamu datang merusak segalanya!"
Kalimat itu bagaikan percikan api yang membakar sumbu emosi Laura hingga meledak-ledak. Wanita itu melangkah lebih dekat, mengabaikan jarak aman, lalu menatap langsung ke arah Damian dengan mata berlinang air mata kepedihan masa lalu.
"Damian, kumohon... sadarlah," rintih Laura mengubah nada suaranya menjadi memelas, mencoba meraih lengan pria itu.
"Aku tahu aku salah di masa lalu. Aku khilaf karena meninggikan egoku. Tapi perasaanku padamu tidak pernah berubah! Aku masih sangat mencintaimu, Damian! Tolong... tinggalkan perempuan ini dan kembali padaku. Kita mulai semuanya dari awal!"
Plak!
Sebuah tamparan keras, telak, dan bergema memenuhi seluruh ruangan.
Laura terperanjat mundur dua langkah, memegang pipinya yang langsung memerah panas dengan mata membelalak tak percaya.
Ester menarik kembali tangannya yang terasa kebas. Napasnya memburu, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang membuncah di dadanya akibat kelancangan wanita di hadapannya.
"Itu tamparan pertama karena kamu sudah berani menghina rumah tanggaku!" suara Ester menggelegar, dingin, tajam, dan penuh wibawa sebagai nyonya rumah.
"Dan dengar baik-baik, Laura! Jangan pernah lancang mengatakan cinta pada suamiku di hadapanku!"
Laura menatap Ester dengan kebencian yang mendalam, air matanya tumpah karena rasa malu dan sakit hati yang luar biasa.
"Kamu... beraninya kamu menamparku?!" teriak Laura histeris, bersiap melompat menerjang Ester.
Namun Damian bergerak lebih cepat dari kilat. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Laura dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan. Sorot mata Damian bagaikan iblis yang siap mencabik-cabik siapapun yang berani menyentuh istrinya barang sedikit pun.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh istriku, Laura!" geram Damian dengan suara berat yang menggetarkan seluruh ruangan.
"Kamu bilang kamu tersiksa dan ditinggalkan? Kamu lupa siapa yang memulai semua ini? Kamu sendiri yang berselingkuh dan mengkhianatiku demi harta pria lain di masa lalu! Kamu yang merusak hubungan kita dengan kebusukanmu sendiri!"
Kata-kata telak itu menghantam Laura bagaikan palu godam. Wanita itu terdiam kaku, napasnya tersengal-sengal, matanya menatap Damian dengan sejuta kepedihan. Fakta pahit itu tidak bisa ia sangkal lagi. Kehancuran kisah cinta mereka di masa lalu murni adalah buah dari pengkhianatannya sendiri.
"Sekarang kamu datang membawa drama murahan dan menuduh istriku?" lanjut Damian dengan nada penuh jijik.
"Keluar dari rumah ini sekarang juga, Laura. Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di hadapan kami lagi, atau aku pastikan sisa hidupmu dihabiskan di balik jeruji besi."
Damian menghempaskan tangan Laura dengan kasar hingga wanita itu terhuyung hampir jatuh ke lantai.
Laura gemetar hebat, menyadari bahwa ia telah kalah telak. Tidak ada lagi sisa cinta atau ampunan di mata Damian. Dengan sisa harga diri yang hancur berkeping-keping, Laura membalikkan badan, berlari keluar rumah sambil menangis histeris meninggalkan kediaman tersebut.
Begitu bayangan wanita itu hilang dari pandangan, ketegangan di ruang tamu perlahan mereda.
Damian langsung berbalik, merengkuh tubuh Ester ke dalam dekapannya dengan sangat erat, seolah menyalurkan seluruh rasa lega sekaligus kekhawatiran yang sempat menyerangnya.
"Kamu nggak apa-apa, hm? Nggak ada yang terluka, kan?" tanya Damian panik, memeriksa setiap inci tubuh istrinya.
Ester menggeleng pelan, tersenyum tipis di dalam pelukan suaminya. Ia mendongak, menatap lekat-lekat manik mata Damian dengan penuh cinta dan keyakinan.
"Aku nggak lemah, Sayang," bisik Ester lembut.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi rumah tangga kita, melindungi anak kita, dan berdiri di sampingmu menghadapi badai apapun. Termasuk perempuan itu."
"Dan dia dengan entengnya menghinaku. Bagiku, menghina itu adalah pelecehan, bukan lelucon."
Damian menatap takjub pada keberanian luar biasa yang terpancar dari netra istrinya. Rasa cintanya pada Ester melonjak begitu tinggi, memenuhi rongga dadanya hingga terasa sesak.
Tanpa ragu, Damian menunduk dan membungkam bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh rasa terima kasih, kekaguman, dan cinta sejati yang tidak akan pernah tergoyahkan oleh bayangan masa lalu manapun.
Akhirnya kerumitan kisah mereka satu persatu mulai terurai. Meski belum sepenuhnya selesai, keduanya sangat bersyukur karena bisa melewati semua badai itu bersama-sama.
Hanya 1 yang masih menjadi target mereka untuk segera diselesaikan.
Yaitu-Dito.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)