Langit di pemakaman umum kawasan pinggiran kota tampak kelabu, menggantung rendah seolah ikut menanggung beban berat yang menggelayuti udara pagi itu.
Hujan rintik-rintik sempat turun sesaat sebelum mobil hitam yang membawa Damian, Dani, dan Sahara memasuki area pemakaman khusus tersebut.
Suasana di sekitar tempat peristirahatan terakhir itu begitu sepi, sunyi, dan terisolasi dari keramaian kota.
Sengaja, Damian tidak mengizinkan istrinya untuk ikut hadir. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak tujuh bulan, Ester sama sekali tidak boleh terpapar udara dingin pemakaman, apalagi menanggung beban emosional yang bisa memicu kontraksi.
Meskipun Ester sempat merajuk ingin mendampingi suaminya, Damian dengan lembut menangkup wajah sang istri dan meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.
"Cukup aku saja yang datang, Ester. Kamu tunggu di rumah bersama pengawal, ya," ucap Damian kala itu sebelum berangkat.
Kini, di bawah payung hitam legam yang dipegang oleh Dani, Damian berdiri tepat di samping sebuah gundukan tanah basah yang masih baru. Di atasnya tertancap sebilah papan kayu bersalib sederhana bertuliskan nama pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan, luka, sekaligus bayangan kelam di sepanjang hidupnya: Dito Margajasa.
Tidak banyak pelayat lain yang hadir. Prosesi pemakaman itu dibuat sangat tertutup dan privat, hanya dihadiri oleh segelintir orang atas izin kepolisian. Tidak ada isak tangis keluarga besar yang merasa kehilangan mendalam. Yang ada hanyalah keheningan pekat yang memecah udara dingin perbukitan.
Dani berdiri di sebelah kiri Damian, mengenakan jas hitam formal dengan tangan bersidekap di dada. Sementara Sahara berdiri sedikit di belakang suaminya, menatap punggung Damian dengan tatapan penuh iba dan kehati-hatian. Mereka sangat memahami badai apa saja yang telah dihantam oleh Damian semasa hidupnya akibat ulah pria yang kini terbujur kaku di bawah tanah.
Selama prosesi pemakaman berlangsung hingga liang lahat tertutup sempurna oleh tumpukan tanah basah, Damian hanya diam.
Pria itu berdiri tegak bagaikan patung batu yang terpahat sempurna di tengah terpaan angin dingin. Pandangannya kosong menerawang lurus ke arah nisan kayu, menatap lekat-lekat tulisan nama sang ayah tanpa berkedip sedikit pun.
Tidak ada air mata yang menetes di pelupuk matanya. Tidak ada raungan kepedihan, amarah yang meledak-ledak, ataupun isak tangis penyesalan yang lazimnya dikeluarkan seorang anak saat ditinggal mati oleh orang tuanya.
Damian benar-benar bergeming. Bibirnya terkatup rapat, tidak sudi melontarkan satu patah kata pun, bahkan sekadar doa pelepasan jenazah untuk mendiang ayahnya.
Bagaimana ia bisa menangisi kepergian seseorang yang semasa hidupnya justru merenggut paksa senyum ibunya, menghancurkan masa kecilnya, menyisakan trauma abadi berupa fobia ketinggian dan ketakutan pada rumah sakit, serta mencoba menghancurkan keluarga kecil yang baru saja ia bangun dengan susah payah?
Bagi Damian, kematian Dito bukanlah sebuah kehilangan. Kematian itu hanyalah sebuah garis akhir dari sebuah teror panjang. Namun, di balik wajah tenangnya yang tanpa ekspresi, ada sisa-sisa luka lama yang kembali berdenyut ngilu di dalam dadanya.
Luka tentang seorang anak sepuluh tahun yang dulu berdiri di rooftop apartemen, menyaksikan ibunya didorong jatuh oleh pria yang sama yang kini terbujur kaku di dalam tanah.
Dani melirik sekilas ke arah Damian. Ia melihat bagaimana rahang Damian mengeras, dan buku-buku jari tangan pria itu memutih akibat mencengkeram erat gagang payungnya sendiri. Dani menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangan kanannya, menepuk pelan pundak Damian beberapa kali tanpa bersuara.
Sahara yang berdiri di belakang juga memilih untuk tidak menegur atau memecah keheningan itu. Mereka berdua tahu betul betapa dalamnya luka yang ditimbulkan oleh Dito. Luka yang begitu menganga hingga akhir hayat sang ayah, bahkan membuat Damian tidak sempat-atau lebih tepatnya tidak mampu-untuk memberikan kata maaf.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hanya suara angin bergemerisik di antara pepohonan pinus dan tetesan air hujan yang jatuh menimpa payung hitam mereka.
Sebagai tokoh utama di tempat itu, keberadaan Damian tampak begitu menonjol. Aura ketegasan, ketenangan yang dingin, dan sisa-sisa amarah yang telah mereda melebur menjadi satu dalam diri pria itu. Ia adalah saksi hidup dari seluruh kekejaman Dito, dan kini, dialah yang akan menjadi pria yang tersisa untuk meneruskan marga Margajasa dengan cara yang jauh lebih bersih, penuh cinta, dan melindungi keluarganya dengan nyawanya sendiri.
Damian akhirnya berkedip pelan. Pandangannya yang kosong perlahan kembali fokus. Ia menatap gundukan tanah basah itu untuk terakhir kalinya, seolah sedang memastikan bahwa bayangan buruk itu benar-benar terkubur selamanya dan tidak akan pernah bangkit lagi untuk mengganggu dunianya.
"Sudah selesai, Dam," bisik Dani pelan, suaranya terdengar serak di tengah udara dingin.
"Saatnya kita pulang. Ester sedang menunggumu di rumah."
Mendengar nama sang istri disebut, ketegangan di wajah Damian perlahan-lahan mencair. Sebutan 'Ester' bagaikan mantra magis yang menariknya kembali dari jurang masa lalu menuju kenyataan hangat yang kini menjadi miliknya.
Damian mengangguk pelan tanpa menoleh. Ia membalikkan badannya meninggalkan pusara tersebut, melangkah tegap menyusul Dani dan Sahara menuju mobil yang terparkir di ujung jalan setapak pemakaman.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota menuju rumah utama, Damian duduk bersandar di kursi belakang dengan mata terpejam rapat. Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan.
Dani dan Sahara menghormati ruang pribadi putranya. Setibanya di rumah, begitu pintu utama terbuka, aroma masakan rumahan langsung menyambut indra penciuman mereka.
Ester berdiri di dekat ruang tengah dengan balutan terusan longgar, perut buncitnya tampak jelas. Begitu melihat suaminya melangkah masuk, wanita itu langsung berjalan mendekat dengan senyuman manis di wajahnya.
Ester tidak bertanya bagaimana proses pemakaman di luar sana. Ia cukup melihat sorot mata Damian yang kini jauh lebih tenang, tidak lagi dibayangi beban berat di pundaknya. Tanpa ragu,
Ester merentangkan tangannya, menyambut tubuh suaminya kedalam pelukan hangatnya yang paling nyaman.
Damian langsung membenamkan wajah di ceruk leher Ester, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di pinggang sang istri, seolah menyerap seluruh kehidupan dan ketenangan dari wanita itu.
"Selamat pulang, Sayang," bisik Ester lembut, mengusap punggung suaminya penuh kasih sayang.
Damian memejamkan mata, membiarkan kehangatan tubuh Ester meresap ke dalam jiwanya yang sempat membeku di pemakaman tadi. Badai terbesar dalam hidupnya telah benar-benar usai. Masa lalu telah dikubur dalam-dalam, dan kini, masa depan yang dipenuhi cahaya bersama istri dan anak mereka telah resmi dimulai.
"Ayo kita mandi dulu," ucap Damian sembari meleraikan pelukannya.
Ester mengerutkan dahinya.
"Kita? Kamu aja lah. Aku kan udah mandi tadi," tolaknya.
"Tapi kamu jadi kotor lagi sekarang," jawab Damian sembari tersenyum lebar.
Sang puan mendengkus, ia menyesali perbuatan spontannya yang langsung memeluk sang suami sesaat setelah pulang dari pemakaman.
"Baik lah. Janji hanya mandi!"
"Bisa kita negokan lagi-"
"Damian!"
Keduanya tergelak. Tampaknya hari itu memang bukan menjadi hari duka bagi mereka, juga bukan hari bahagia yang perlu dirayakan. Hanya saja keduanya sudah mulai berdamai dengan semua kondisi dan keadaan yang sudah terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomanceBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)