68. Kelahiran

70 4 0
                                        

Di dalam ruang bersalin VIP Rumah Sakit Medika yang beraroma antiseptik, lampu sorot putih terang menyoroti ranjang pasien tempat Ester berbaring dengan mengenakan pakaian khusus rumah sakit.

Wajah pucat Ester tampak basah oleh keringat dingin. Setiap kali gelombang kontraksi datang, wanita itu meremas erat seprai ranjang, melenguh menahan rasa sakit yang teramat sangat dari bagian bawah tubuhnya.

"Tarik napas dalam-dalam lewat hidung, Sayang, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Pintar... ikuti instruksiku, ya?" bisik Damian tanpa henti.

Pria itu tidak beranjak barang satu detik pun dari sisi ranjang. Mengenakan pakaian steril, Damian berdiri dengan posisi membungkuk, kedua tangannya menggenggam erat jemari Ester yang terasa dingin. Ia dengan telaten menyeka keringat di dahi sang istri menggunakan handuk kecil, lalu mengecupi pelipis dan kelopak mata Ester yang basah oleh air mata.

"Damian... sakit sekali... rasanya aku nggak sanggup, mau melahirkan sekarang," isak Ester tertahan, napasnya terengah-engah dengan dada naik turun tak beraturan.

"Kenapa pembukaannya lama sekali..."

Dokter kandungan wanita yang menangani Ester, Dokter Sarah, baru saja selesai melakukan pemeriksaan dalam. Ia tersenyum menenangkan sambil menatap pasangan suami istri di hadapannya.

"Sabar ya, Ibu Ester. Pembukaan Anda saat ini baru menginjak angka tujuh. Memang butuh proses dan perjuangan yang melelahkan, tapi Anda hebat. Sedikit lagi menuju pembukaan lengkap," ujar Dokter Sarah memberikan dorongan moril.

Ester menoleh lemah ke arah dokter, sementara Damian memandangi sang dokter dengan tatapan penuh tanya sekaligus siaga.

"Berapa lama pembukaannya bisa lengkap, Dok?" tanya Damian penasaran.

"Mungkin akan butuh waktu cukup lama, tapi tolong didampingi terus istrinya ya, Pak. Kami akan selalu mengecek kondisinya secara berkala," ucap Dokter Sarah dengan senyuman ramah.

Damian menganggukkan kepala paham dan membiarkan dokter berlalu dari sana. Lantas ia memusatkan kembali perhatiannya pada sang istri dan mengusap pelan perut buncitnya sembari berkata, "Nak, kalian harus bisa cepet keluar dari perut mama ya. Jangan biarin mama kesakitan lama-lama begini."

Jujur saja, ia memang tak tega melihat Ester kesakitan terus menerus. Apalagi ia juga tidak bisa merasakan bagaimana dahsyatnya rasa sakit itu.

Meski begitu, Damian merasakan dadanya bergemuruh hebat. Tenggorokannya mendadak tercekat. Bayi laki-laki- pangeran kecil yang akan meneruskan marga Margajasa, darah dagingnya sendiri dari wanita yang paling sangat ia cintai di dunia ini akan segera hadir.

Tak bisa dipungkiri, ia juga begitu bahagia.

Damian menunduk, mengecup kening Ester penuh ketulusan.

"Sabar ya, sayang... anak kita sebentar lagi pasti lahir. Jagoan kecil kita. Jadi, bertahanlah sebentar lagi untuk aku dan anak kita. Kamu pasti bisa melaluinya."

Di luar ruang bersalin, suasana lorong rumah sakit tampak mulai ramai. Berita bahwa Ester sudah masuk bukaan dan bersiap melahirkan membuat keluarga besar dari kedua belah pihak langsung berhamburan datang tanpa membuang waktu.

Keluarga dari pihak Ester-Vani dan Bian, serta sang adik Elang-tampak berjalan tergesa-gesa keluar dari lift menuju area ruang bersalin. Vani tampak menggenggam tas kecil berisi perlengkapan tambahan, sementara wajahnya menyuratkan kecemasan sekaligus antusiasme.

"Bagaimana keadaan Ester di dalam, Dani?" tanya Vani langsung saat melihat Dani dan Sahara-orang tua dari Damian-sudah berdiri menunggu lebih dulu di depan pintu ruang bersalin.

Dani tersenyum menenangkan, merangkul pundak besannta itu.

"Tenang, Ma. Ester sedang berjuang di dalam didampingi Damian. Pembukaannya sudah mau lengkap."

"Syukurlah..." ucap Vani bersamaan dengan helaan napas lega dari Bian dan Sahara. Elang, sang adik ipar, bahkan mengepalkan tangan tanda gembira.

"Keponakanku sebentar lagi lahir!" bisiknya riang.

Kembali ke dalam ruang bersalin, rasa sakit yang hilang timbul akibat kontraksi kembali menghantam Ester tanpa ampun. Kali ini, rasa sakitnya terasa jauh lebih intens, membuat Ester merintih keras dan mencengkeram lengan Damian hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sayang! Sakit... argh, rasanya mau mengejan!" teriak Ester histeris, air matanya tumpah semakin deras.

Dokter Sarah yang melihat monitor dan memeriksa kembali langsung bersiap.

"Bagus! Pembukaan sudah lengkap seratus persen! Ibu Ester, bersiaplah. Tarik napas dalam, dan saat kontraksi datang, dorong sekuat tenaga ke bawah sambil tetap melihat ke arah suami Anda!"

Kepanikan sempat melanda dada Damian melihat istrinya kesakitan luar biasa, namun ia langsung menepis rasa takutnya. Ia tahu, saat ini Ester sangat membutuhkan kekuatannya. Damian memposisikan wajahnya tepat sejajar dengan wajah sang istri, menangkup kedua pipi Ester dengan tangan yang hangat dan mantap.

"Ester, lihat aku!" perintah Damian dengan suara baritonnya yang tegas namun penuh cinta.

"Kamu wanita paling kuat yang pernah aku kenal. Tarik napas... dorong, sayang! Aku di sini bersamamu. Kita hadapi ini bersama-sama!"

Ester mengangguk lemah, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Ketika gelombang rasa sakit yang luar biasa melanda, ia mengepalkan kedua tangannya, menarik napas panjang, lalu mulai mengejan perlahan mengikuti aba-aba dari sang dokter.

"Ya, terus, Bu! Bagus sekali! Tarik napas lagi, dorong!" instruksi Dokter Sarah penuh semangat.

Suara rintihan Ester berpadu dengan teriakan penuh semangat dari Damian yang terus menyemangati istrinya. Di luar ruangan, keluarga besar berdiri tegang mendengarkan suara-suara dari dalam ruang bersalin, saling berpegangan tangan dalam doa yang tak putus-putus.

Damian terus menciumi kening Ester yang basah, menyalurkan seluruh energi dan rasa cintanya.

"Ayo, sayang... sedikit lagi. Anak kita sudah nggak sabar ingin melihat mamanya yang hebat ini."

Dengan satu dorongan terakhir yang disertai isak tangis dan cucuran keringat, sebuah suara tangisan nyaring yang melengking tiba-tiba memecah keheningan ruang bersalin.

Oeeek... oeeek...!

Tangisan bayi laki-laki itu menggema dengan begitu kuatnya, menandakan awal kehidupan baru yang sehat dan sempurna.

Ester langsung terkulai lemas di atas bantal, napasnya tersengal-sengal hebat, namun senyuman selebar dunia langsung terukir di bibirnya. Ia berhasil.

Damian terdiam terpaku menatap ke arah bayi merah yang baru saja diangkat oleh perawat. Air mata pertamanya malam itu akhirnya menetes lolos membasahi pipi pria tangguh tersebut. Bukan air mata kesedihan atau trauma masa lalu, melainkan air mata kebahagiaan mutlak atas kelahiran darah dagingnya.

"Selamat, Bapak Damian, Ibu Ester. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat, sehat, dan sempurna," umum Dokter Sarah sambil menyerahkan bayi mungil yang sudah dibersihkan dan dibedong rapi ke dalam pelukan sang ibu.

Ester menangis haru saat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu diletakkan di atas dadanya. Ia memeluk buah hatinya dengan penuh kehati-hatian, menciumi pipi kecil sang anak yang masih merah.

Damian merapat, merengkuh tubuh istri dan anaknya sekaligus dalam satu dekapan hangat yang luar biasa erat. Ia mengecup bibir Ester penuh puja, lalu beralih mencium kening sang buah hati.

"Terima kasih, Ester... terima kasih telah memberiku dunia dan keluarga seutuhnya," bisik Damian serak penuh rasa syukur. Di balik pintu ruang bersalin, isak tangis bahagia keluarga besar yang mendengar suara tangisan bayi turut menyambut kehadiran anggota baru marga Margajasa ke dunia.

Namun tak lama dari itu, Ester kembali merasakan sakit dan rasanya ingin mengejan sekali lagi. Sepertinya anggota selanjutnya akan segera menyusul.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang