51. Kemenangan sementara

64 7 0
                                        

Hari-hari di vila pegunungan yang terisolasi sama sekali tidak memberikan ketenangan penuh bagi Ester. Meskipun tempat itu dikelilingi oleh sistem pengamanan super ketat dan para pengawal profesional, pikirannya terus melayang pada Damian yang tertinggal seorang diri di kota untuk menghadapi singa tua yang sedang kelaparan: Dito.

Tidak tidak, ia tidak benar-benar sendirian di sana melainkan dengan beberapa bodyguard terpilihnya untuk berjaga. Namun tetap saja membuat sang puan selalu diselimuti rasa khawatir.

Setiap detik terasa berjalan begitu lambat bagi Ester. Ponsel yang ada di meja nakas menjadi satu-satunya penghubung nyawa. Namun, sejak pagi tadi, komunikasi mereka tak tersambung membuat kecemasan Ester mencapai puncaknya. Ia mondar-mandir di dalam kamar, memegang perut buncitnya yang mulai terasa tidak nyaman, sementara hatinya terus berdoa agar suaminya baik-baik saja.

Sementara itu, di pusat kota, pertempuran sesungguhnya tengah berkecamuk di dalam gedung markas lama milik keluarga besar yang dikuasai oleh Dito.

Damian datang seorang diri dengan kepala dingin namun dipenuhi tekad membara. Ia tidak lagi bergerak secara defensif. Berbekal dokumen legal, bukti aliran dana ilegal, serta rekaman pengakuan dari anak buah Dito yang sebelumnya tertangkap, Damian melangkah masuk ke dalam gedung tua itu tanpa gentar. Ia tahu ayahnya tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan fisik.

Benar saja. Begitu Damian menginjakkan kaki di lantai atas ruangan utama, sambutan hangat dari laras senjata dan kepalan tangan telah menantinya. Tiga orang anak buah pilihan Dito langsung menerjang ke arahnya secara bersamaan.

Pertarungan sengit tak terhindarkan. Ruangan yang remang-remang itu seketika menjadi saksi bisu bentrokan fisik yang brutal. Damian melayangkan pukulan telak ke rahang salah satu penyerang, namun ia terlambat menghindari hantaman benda tumpul dari sisi kiri. Sebuah balok kayu melayang bebas dan menghantam keras bahu serta sisi rusuknya.

Napas Damian menderu berat. Rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Belum sempat ia berdiri sempurna, pisau lipat yang diayunkan cepat oleh musuh berhasil menggores lengan kanannya-lagi, menciptakan luka sayatan baru yang cukup dalam di dekat bekas jahitan IGD beberapa hari lalu. Darah segar seketika merembes keluar, membasahi kemeja krem yang ia kenakan.

Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak menyurutkan langkahnya. Adrenalin dan kemarahan yang membuncah membuat Damian seperti kehilangan rasa sakit. Dengan sisa tenaga dan teknik bela diri yang dikuasainya, satu per satu anak buah Dito berhasil ia banting dan lumpuhkan hingga tak sadarkan diri di atas lantai semen yang dingin.

Pintu ruangan kerja di ujung lorong terbuka perlahan. Di sana, berdiri Dito dengan tongkat jalan dan senyum sinis yang tersungging di bibirnya, meskipun sorot matanya menyiratkan kepanikan melihat seluruh anak buahnya tumbang.

"Ternyata darahku memang mengalir deras di tubuhmu, Damian. Kau tumbuh menjadi anak yang membangkang dan berbahaya," ucap Dito dingin, menatap putranya yang kini berdiri dengan napas terengah-engah dan luka berdarah di sekujur tubuh.

"Permainan ini sudah berakhir, Pa," balas Damian dengan suara serak, melangkah maju mendekati ayah kandungnya tanpa ragu.

"Woaww, setelah sekian lama. Baru kali ini aku mendengar sebutan itu lagi darimu secara langsung," pungkas Dito sembari bertepuk tangan.

"Semua aset ilegalmu sudah dibekukan, bukti kejahatanmu sudah berada di tangan pihak berwenang, dan orang-orangmu sudah lumpuh. Menyerahlah, atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke penjara!" seru Damian tak mengindahkan kalimat Dito sebelumnya.

Dito terkejut bukan kepalang saat menyadari putranya tidak sedang menggertak. Dokumen-dokumen di tangan Damian adalah bukti sah kehancuran kerajaannya. Sebelum Damian sempat memborgol atau mencengkeram kerah bajunya, Dito dengan licik menekan tombol darurat di balik meja kerjanya. Pintu kaca darurat di belakang ruangan pecah berkeping-keping, dan sebuah helikopter kecil pemantau milik anak buah cadangan turun mendekat dari balkon luar.

"Kau boleh menang hari ini, Damian! Tapi permainan ini belum benar-benar selesai!" teriakan penuh amarah Dito menggema di tengah deru baling-baling helikopter.

Dito melompat masuk ke dalam helikopter darurat tersebut bersama dua orang pengawal setianya yang tersisa, melarikan diri menembus langit senja kota sebelum aparat kepolisian yang dipanggil Damian tiba di lokasi.

Meskipun Dito berhasil melarikan diri untuk sementara waktu guna menyusun rencana lain, satu permasalahan besar berhasil ditangani dengan tuntas. Markas utama hancur, jaringan bisnis gelap ayahnya lumpuh total, dan ancaman langsung di kota besar berhasil dipadamkan.

Malam harinya, dengan tubuh penuh luka lebam, balutan perban di lengan, dan kemeja yang masih menyisakan noda darah kering, Damian memutuskan langsung bertolak menuju vila pegunungan tempat Ester berada. Ia ingin segera memeluk istrinya dan mengabarkan bahwa badai besar telah berhasil dilewati.

Sesampainya di vila, Damian langsung membuka pintu kamar utama dengan tergesa-gesa. Namun, pemandangan yang menyambutnya justru membuat darahnya mendadak berdesir ngeri.

Ester tergeletak lemas di atas ranjang dengan wajah sepucat pualam dan keringat dingin membasahi seluruh pelipisnya. Dokter pribadi keluarga tampak berdiri panik di samping ranjang, sibuk memeriksa kondisi vital sang nyonya rumah.

Melihat suaminya datang dalam keadaan kemeja berdarah-darah dan luka lebam di wajah, Ester yang tadinya setengah sadar langsung membelalakkan mata ketakutan.

"Damian..." lirih Ester dengan suara sangat lemah, air matanya menetes seketika melihat kondisi suaminya yang babak belur.

"Kamu... kamu terluka parah..."

"Ester! Hei, ada apa ini?!" panik Damian, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya sendiri dan langsung berlirih menghampiri ranjang, menggenggam tangan istrinya yang terasa sedingin es.

Sang dokter menghela napas berat, menatap Damian dengan sorot serius.

"Kondisi Nyonya Ester menurun drastis, Tuan. Tekanan darahnya drop akibat akumulasi stres berat, kecemasan berlebihan, dan kelelahan mental selama beberapa hari terakhir. Kehamilannya yang masih sangat muda membuat tubuhnya merespon kuat guncangan psikis ini, memicu kontraksi ringan yang sangat membahayakan janin."

Mendengar penjelasan dokter, dunia Damian seolah runtuh seketika. Luka-luka di tubuhnya mendadak tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut kehilangan yang kini kembali menghantam dadanya. Badai di luar memang berhasil diredam, namun badai yang sebenarnya kini justru mengancam nyawa orang paling berharga di dalam pelukannya.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang