Hari-hari berlalu setelah malam penuh pengakuan yang menyatukan jiwa Damian dan Ester secara utuh. Luka-luka di tubuh Damian telah mengering, meninggalkan bekas samar yang kini menjadi saksi bisu perjuangannya. Hubungan mereka kian erat, dibalut ketulusan dan rasa saling memiliki yang begitu dalam. Namun, ketenangan di vila pegunungan itu perlahan memunculkan pertanyaan besar di benak Damian.
Dito-sang dalang di balik segala teror-menghilang bagaikan ditelan bumi.
Pihak kepolisian dan jaringan intelijen pribadi yang disewa Damian tidak berhasil menemukan satupun jejak keberadaan pria tua itu. Seolah-olah Dito sengaja menguap ke udara setelah seluruh aset bisnis ilegalnya dihancurkan. Meskipun begitu, Damian tahu betul bahwa musuh bebuyutannya itu tidak mungkin menyerah begitu saja tanpa meninggalkan sisa racun.
Di balik hilangnya sang ayah, ancaman lain justru bergerak dalam diam.
Dua orang suruhan yang kini memegang kendali di lapangan, Ramor dan Didi alias Diego Andreas, tengah menyusun rencana kotor. Mereka tahu bahwa Dito sedang tiarap, namun dendam kesumat mereka pada Damian dan Ester tidak pernah padam. Di sebuah markas kumuh di sudut kota, Didi dan Ramor mengamati layar tablet yang menampilkan rekaman video pengintai kediaman Damian dari jarak jauh.
"Orang tua itu benar-benar pengecut. Begitu terjepit, dia malah kabur entah ke mana meninggalkan kita," dengus Didi sinis sambil melempar puntung rokoknya ke lantai semen yang kotor.
Ramor menyeringai licik, matanya menatap tajam foto Ester yang terpampang di layar tablet.
"Biarkan saja Dito menghilang entah berantah. Kita tidak butuh orang tua pikun itu untuk meruntuhkan mental Damian. Kita cukup ambil kelemahannya yang paling berharga."
"Maksudmu... perempuan itu?" tanya Didi menegaskan, alisnya terangkat sebelah.
"Tentu saja," jawab Ramor mantap, suaranya terdengar dingin.
"Ester adalah pusat gravitasi Damian. Kalau kita berhasil menculik atau meneror perempuan hamil itu lagi, Damian pasti akan kehilangan kendali penuh. Kita buat dia bertekuk lutut di hadapan kita."
Dua penjahat itu mulai merancang strategi penyusupan baru, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang benteng pertahanan yang baru saja dibangun kembali oleh Damian.
[One Night Sleep]
Sementara itu, di vila pegunungan, Damian menggelar rapat tertutup dengan kepala pengawal kepercayaannya sebelum mereka berkemas. Berdasarkan laporan terakhir, kondisi luar dinyatakan bersih total, dan tidak ada tanda-tanda pergerakan mencurigakan dari jaringan Dito selama beberapa pekan terakhir.
Melihat kondisi Ester yang sudah pulih total, serta hasil pemeriksaan dokter kandungan yang menyatakan kehamilannya sudah hampir memasuki trimester kedua dan jauh lebih stabil, Damian membuat sebuah keputusan besar demi masa depan keluarga kecil mereka.
"Kita pulang hari ini," ucap Damian tegas kepada para pengawalnya.
Ester yang berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat kedua tangan di dada menatap suaminya dengan kening berkerut.
"Pulang? Maksudmu kembali ke rumah utama di tengah kota?"
Damian berbalik, melangkah mendekati istrinya lalu merangkul pinggang Ester lembut.
"Ya, sayang. Kita nggak mungkin selamanya bersembunyi di vila pegunungan ini, Ester. Dito memang belum tertangkap, tapi kita nggak bisa terus-menerus hidup dalam pelarian. Lagipula, aku ingin kita kembali menjalani kehidupan normal. Rumah kita sudah diperketat keamanannya secara maksimal, dan aku berjanji nggak akan pernah lalai menjaga kalian lagi."
Hati Ester terasa dihinggapi banyak kupu-kupu setelah mendengar Damian memanggilnya dengan sebutan "Sayang", ia menatap lekat-lekat manik mata suaminya. Ia melihat keyakinan dan tekad yang kuat terpancar di sana.
Tidak ada lagi keraguan dalam diri Damian. Sebagai seorang istri yang mencintai suaminya, Ester mengangguk setuju dengan senyuman tipis. Ia percaya penuh pada Damian.
"Baiklah, kalau kamu bilang aman, aku ikut," balas Ester lembut, memeluk leher suaminya.
"Tapi awas ya kalau di sana nanti kamu masih suka sok kuat menyembunyikan lukamu."
Damian tertawa pelan, mengecup kening istrinya penuh kasih.
"Siap, ratuku. Nggak akan ada lagi rahasia."
Beberapa jam kemudian, konvoi mobil hitam berkecepatan tinggi meninggalkan area pegunungan menuju kediaman utama keluarga Damian di kota. Perjalanan darat itu ditempuh dengan pengawalan ketat berlapis ganda.
Setibanya di rumah, suasana terasa sangat familiar. Ester langsung merebahkan diri di atas ranjang kamar utama mereka yang luas, menghela napas lega seraya memejamkan mata.
"Ah, rasanya jauh lebih nyaman di rumah sendiri daripada di vila."
Damian menyusul masuk sambil membawa koper kecil milik istrinya. Ia merebahkan diri di samping Ester, lalu memeluk erat tubuh wanita itu dari samping.
"Senang melihatmu tersenyum lagi di rumah kita, Ester."
"Asal ada kamu di sampingku, di mana pun tempatnya aku pasti senang," balas Ester manis, mendongak untuk mencium sekilas rahang suaminya.
Namun, kedamaian kepulangan itu tidak berlangsung lama.
Tanpa mereka ketahui, di gerbang utama kediaman mereka, sebuah mobil sedan abu-abu gelap berhenti di kejauhan, membaur dengan kendaraan lain yang melintas. Di dalam mobil tersebut, Didi dan Ramor mengamati sistem gerbang otomatis yang kini dijaga ketat oleh empat orang pengawal berbadan tegap berseragam hitam.
"Penjagaannya sangat ketat dari yang aku perkirakan. Kita tidak bisa masuk sembarangan lewat gerbang depan," bisik Didi penuh perhitungan sambil memegang kemudi.
Ramor tersenyum misterius, mengeluarkan sebuah alat pemindai frekuensi kecil dari saku jaket kulitnya.
"Kita tidak perlu masuk lewat depan, Didi. Penjagaan manusia pasti punya celah. Kita hanya perlu menunggu kelengahan mereka saat pergantian shift penjagaan malam nanti. Perempuan itu tidak akan selamanya selamat di dalam sangkar emasnya."
Di dalam rumah yang terang benderang, Damian yang sedang menyiapkan susu hangat untuk Ester di dapur tiba-tiba merasakan bulu kuduknya meremang tanpa alasan jelas. Insting tajamnya sebagai pria yang lama hidup di tengah konflik langsung memperingatkan bahwa bahaya baru sedang mendekat secara perlahan.
Damian meletakkan gelas di atas meja dapur, lalu mengepalkan tangan kanannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bersumpah dalam hati, siapapun yang mencoba mengusik keluarganya kali ini, tidak akan pernah ia biarkan keluar hidup-hidup dari pekarangan rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomansaBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)