52. Pelukan hangat

115 7 0
                                        

Sinar matahari pagi merangsek masuk melalui celah tirai beludru tebal, menghangatkan ruangan kamar utama yang bernuansa putih bersih. Aroma minyak aromaterapi lavender berpadu lembut dengan wangi antiseptik, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Di atas ranjang berukuran King size itu, Ester terbaring dengan infus yang masih menancap di punggung tangan kanannya. Wajahnya yang biasanya menyiratkan ketegasan kini tampak begitu pucat dan rapuh, menyisakan jejak air mata kering di sudut pipinya.

Di sisi ranjang, Damian duduk bersimpuh tanpa mempedulikan luka-luka lebam dan balutan perban yang masih melekat di tubuhnya pasca pertarungan sengit melawan anak buah Dito hari sebelumnya.

Tangannya yang hangat tak pernah lepas menggenggam jemari Ester yang terasa dingin. Pria itu terus mengecupi buku-buku jari istrinya berulang kali, menyalurkan seluruh sisa energi dan rasa bersalah yang berkecamuk di dadanya.

"Maafkan aku, Ester... Ini semua salahku karena membuatmu ketakutan setengah mati," bisik Damian parau, suaranya penuh akan ketulusan yang teramat dalam.

Meskipun dokter telah memastikan bahwa kondisi sang istri dan janinnya kini sudah melewati masa kritis setelah mendapatkan penanganan cepat, trauma psikis dan kelelahan ekstrem membuat tubuh Ester membutuhkan waktu istirahat total. Dokter mewanti-wanti agar Ester sama sekali tidak boleh mengalami tekanan pikiran sekecil apa pun, karena hal itu bisa memicu kontraksi susulan yang berakibat fatal pada kehamilan mudanya.

Mendengar peringatan itu, Damian langsung mengambil keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat. Pagi itu juga, ia menghubungi pihak universitas tempatnya mengajar. Tanpa pikir panjang, Damian resmi mengajukan cuti panjang dari posisinya sebagai dosen. Ia memutuskan untuk melepaskan seluruh urusan akademis dan profesional untuk sementara waktu, memfokuskan seratus persen atensinya demi menjaga, merawat, dan melindungi keselamatan istri serta calon buah hati mereka.

Bagi Damian, karier dan jabatan tinggi di kampus sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatan nyawa Ester. Terlebih lagi, ia tahu betul bahwa Dito-ayah kandungnya yang berhasil melarikan diri-belum sepenuhnya menyerah. Meskipun jaringan bisnis ilegal sang ayah telah dilumpuhkan dan markas utamanya hancur, Dito adalah tipe predator licik yang akan terus mencari celah untuk membalas dendam. Ancaman susulan bisa datang kapan saja dari arah yang tidak terduga.

Oleh karena itu, Damian menerapkan protokol pengamanan super ketat di vila pegunungan tersebut. Ia tidak pernah mau melepaskan pandangannya dari Ester barang sedetik pun. Setiap sudut rumah dipantau oleh kamera pengawas, dan para pengawal profesional disiagakan di setiap pintu masuk.

Larangan keras juga ia berlakukan tanpa kompromi. Damian tidak membiarkan Ester pergi ke mana pun sendirian, bahkan untuk sekadar berjalan-jalan ke halaman belakang vila. Ia juga dengan tegas menolak keinginan Ester yang sempat meminta izin untuk pulang sejenak ke rumah orang tuanya demi menghilangkan rasa jenuh.

"Rumah orang tuamu saat ini juga nggak aman, Ester. Tempat itu terlalu mudah dilacak oleh orang-orang suruhan Dito," ucap Damian kala itu dengan nada tegas namun lembut saat menangkis keinginan istrinya.

"Kamu jangan melangkah keluar dari vila ini sampai situasi benar-benar steril."

Namun, Damian bukanlah pria yang tidak punya hati. Ia sangat paham betul bahwa istrinya yang sedang hamil muda dan dalam pemulihan itu sangat membutuhkan dukungan emosional dari orang-orang terdekatnya, terutama keluarga kandungnya.

Kerinduan Ester pada rumah masa kecilnya begitu besar, namun keselamatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Sebagai gantinya, Damian mengambil inisiatif penuh. Ia sendiri yang secara khusus menghubungi orang tua Ester-Bian dan Vani-untuk datang berkunjung langsung ke vila pegunungan tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Bian dan Vani untuk merespons panggilan menantu mereka. Setibanya di vila, kekhawatiran terpancar jelas di wajah kedua orang tua Ester begitu melihat kondisi putri sulung mereka yang masih terbaring lemah di atas ranjang, serta sekilas melihat sisa luka lebam di wajah Damian.

"Ya Tuhan, Ester... apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" lirih Vani langsung menghambur memeluk putrinya dengan air mata berlinang, menyalurkan kehangatan seorang ibu yang begitu merindukan buah hatinya.

Ester yang mendapati kehadiran kedua orang tuanya langsung menangis pelan di dalam dekapan sang mama. Rasa rindu, beban mental, dan ketakutan yang selama ini ia pendam tumpah seketika di pelukan hangat Vani.

Sementara Bian berdiri di sisi ranjang, menepuk pelan pundak Damian dengan pandangan penuh pengertian dan rasa terima kasih yang mendalam. Bian tahu persis badai besar apa yang sedang dihadapi oleh menantunya itu demi melindungi keselamatan keluarganya.

Kehadiran Bian dan Vani di vila setidaknya berhasil mencairkan ketegangan dan mengobati rasa rindu yang teramat sangat di hati Ester.

Suasana rumah mendadak terasa jauh lebih hangat dan menenangkan. Vani dengan telaten menyiapkan makanan bernutrisi tinggi yang disukai Ester, sementara Bian menemani putri mereka berbincang ringan untuk mengalihkan pikiran dari rasa trauma.

Namun, di tengah kehangatan keluarga kecil itu, Damian tetap bersikap waspada tingkat tinggi. Pengetatan keamanan tidak hanya berlaku bagi musuh di luar sana, melainkan juga pada lingkaran pertemanan terdekat mereka.

Clarissa dan juga Samuel-sahabat-sahabat terdekat Ester juga Damian-untuk sementara waktu sama sekali tidak diizinkan untuk datang bertamu ke vila pegunungan tersebut.

Bukan karena Damian tidak mempercayai mereka, melainkan karena Damian tahu bahwa mata-mata suruhan Dito bisa mengikuti siapa saja yang berniat mendatangi tempat persembunyian mereka.

Risiko sekecil apa pun tidak boleh diambil, demi memastikan tidak ada celah bagi musuh untuk mengetahui koordinat tempat persembunyian rahasia itu.

Ester sempat protes dan merasa tidak enak pada Clarissa yang terus-menerus mengirim pesan menanyakan kondisinya. Namun, penjelasan logis dan sikap protektif Damian yang begitu luar biasa membuat Ester akhirnya mengerti.

Ia menyadari bahwa suaminya sedang mempertaruhkan seluruh nyawa dan kewarasannya demi melindungi benteng keluarga kecil mereka.

Sore itu, dari balik jendela kamar yang menghadap langsung ke arah pegunungan hijau yang tenang, Damian berdiri mengawasi situasi di luar halaman sambil memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Dari belakang, sepasang lengan yang lembut tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya.

Damian menoleh pelan, mendapati Ester-yang kini sudah jauh lebih segar dan bisa berjalan perlahan-menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.

"Terima kasih, Damian," bisik Ester tulus, menatap lekat-lekat manik mata suaminya.

"Terima kasih sudah membawa Mama dan Papa ke sini... dan terima kasih karena selalu menjagaku sejauh ini."

Damian tersenyum tipis, sebelah tangannya merengkuh pinggang Ester dengan sangat hati-hati, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan tulus.

"Sudah kewajibanku untuk memastikan kamu dan anak kita aman, Ester," balas Damian lembut.

"Selama aku masih bernapas, nggak akan ada seorang pun di dunia ini yang boleh menyakiti kalian."

Di luar sana, ancaman Dito mungkin masih mengintai seperti bayangan hitam yang menunggu waktu untuk menerkam kembali. Namun di dalam pelukan itu, mereka tahu bahwa cinta dan tekad kuat yang telah menyatukan jiwa mereka jauh lebih tangguh daripada badai apa pun yang akan datang.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang