70. Keluarga besar

110 6 0
                                        

"Pelan-pelan, Sayang. Jangan terlalu buru-buru, bayinya baru tidur."

"Aku tahu, sayang. Tapi aku nggak sabar ingin membawa kalian masuk ke rumah kita yang sebenarnya."

Suara bariton Damian terdengar begitu lembut, berpadu dengan suara desis pendingin udara mobil SUV hitam yang baru saja terparkir sempurna di halaman depan kediaman utama keluarga Margajasa. Hari ini adalah hari kepulangan Ester dan si kembar-Darren dan Daniel-dari Rumah Sakit Medika setelah dinyatakan pulih sepenuhnya oleh tim dokter.

Begitu pintu utama rumah terbuka lebar, kejutan hangat langsung menyambut kedatangan mereka. Spanduk bertuliskan "Welcome Home, Darren & Daniel" terbentang rapi di ruang tamu, diiringi oleh puluhan balon warna-pastel yang menghiasi sudut ruangan.

Keluarga besar dari kedua belah pihak-Vani, Bian, Elang, Dani, Sahara, bahkan Clarissa dan Samuel-sudah berkumpul rapi di dalam, siap menyambut anggota baru keluarga dengan senyuman lebar dan genangan air mata bahagia.

"Wah, cucu-cucu Nenda sudah sampai!" seru Vani antusias, langsung melangkah mendekat dengan langkah berbinar.

"Puji Tuhan, selamat datang di rumah, keponakan-keponakan om yang paling ganteng!" timpal Elang riang, langsung bertepuk tangan disusul tawa renyah dari seluruh orang di ruangan.

Suasana rumah mendadak berubah menjadi sangat semarak. Meja makan panjang yang biasanya tertata rapi kini dipenuhi oleh berbagai macam kotak kado berukuran besar, keranjang buah segar, perlengkapan bayi premium, serta tumpukan doa dan ucapan syukur yang tiada henti mengalir dari bibir setiap anggota keluarga yang hadir.

Namun, di tengah keriuhan dan hingar-bingar rumah yang penuh sukacita itu, ada satu pemandangan unik yang langsung menarik perhatian semua orang.

Damian-yang baru saja melangkah masuk sambil menggendong car seat berisi si kembar-langsung menyerahkan kedua bayi mungil itu secara estafet kepada keluarga besar begitu mereka mendekat.

"Ma, tolong pegang Darren sebentar ya. Papa, gantian gendong Daniel. Jangan sampai mereka bangun," perintah Damian tanpa ragu, langsung melepaskan seluruh tugas menggendong bayi kepada orang tuanya.

Sahara yang berdiri di dekatnya langsung melongo heran, menatap sang anak dengan mata membelalak tak percaya.

"Eh, sebentar! Damian, ini anak kandungmu sendiri, lho! Kenapa kamu malah lempar ke kita?" protes Sahara setengah bercanda.

Damian menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun, sementara matanya terus mengawasi langkah Ester yang berjalan perlahan ke arah sofa ruang tamu.

"Biar kalian saja yang urus si kembar untuk sementara waktu. Tugasku sekarang yang paling utama adalah memastikan istriku duduk nyaman dan tidak kelelahan," jawab Damian dingin namun tegas, lalu langsung menyusul Ester, menaruh bantal empuk di punggung sang istri, dan merapikan selimut tipis di atas pangkuan wanita itu.

Ester yang melihat tingkah suaminya langsung merona malu. Ia mencolek pelan lengan Damian dengan manik mata yang membelalak gemas.

"Sayang... jangan begitu dong. Itu anak-anakmu sendiri lho." bisik Ester protes dengan wajah memerah karena dikelilingi tatapan menggoda dari keluarganya.

Damian bergeming. Pria itu menangkup sebelah pipi Ester dengan sangat lembut, lalu mengecup kening istrinya di hadapan seluruh keluarga tanpa sedikit pun rasa risih.

"Biarkan saja, sayang," bisik Damian tepat di telinga Ester dengan suara baritonnya yang serak dan membuai.

"Bagi dunia, mereka adalah bayi kembar kita. Tapi bagiku, kamu adalah prioritas nomor satu. Aku mencintaimu jauh melebihi segalanya, bahkan melebihi anak-anak kita. Kalau kamu capek sedikit saja, aku orang pertama yang nggak akan memaafkan diriku sendiri."

Mendengar kalimat bucin yang diucapkan secara blak-blakan itu, Elang langsung bersiul panjang menggoda.

"Wah, gawat! Posisi anak kembar langsung digeser sama Papa-nya sendiri! Kasihan Darren dan Daniel, baru lahir sudah jadi saingan cinta Papa-nya!" ledek Elang terang-terangan.

Sontak, gelak tawa renyah meledak memenuhi seluruh ruangan. Vani dan Sahara tertawa gemas melihat betapa protektif dan manjanya Damian terhadap Ester.

"Biarkan saja Elang sirik, makanya cari pacar sana biar tahu rasanya bucin," balas Damian santai tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah Ester.

Ester menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu, sementara pipinya sudah semerah tomat. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa hangat yang teramat sangat menyelimuti rongga dadanya.

"Mau minum apa, hmm? Susu hangat? Jus jeruk segar? Atau mau kubawakan sup buatan Bibi?" tanya Damian berturut-turut dengan nada cemas yang kentara, seolah Ester baru saja kembali dari medan perang.

Ester menurunkan tangannya, menatap lekat-lekat manik mata suaminya yang memancarkan cinta tulus tanpa batas. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum manis.

"Aku nggak haus, Sayang. Aku cuma mau kamu duduk di sini, di sampingku, diam tanpa banyak protes," jawab Ester manja, menepuk ruang kosong di sofa sebelah kirinya.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Damian langsung menurut. Pria itu mendudukkan tubuhnya rapat-rapat di samping Ester, merangkul pinggang ramping istrinya posesif, dan membiarkan kepala Ester bersandar nyaman di bahu bidangnya.

Di sudut ruangan, Darren dan Daniel tampak tertidur pulas dalam asuhan bergantian dari Nenda Vani dan Sahara, dikelilingi oleh tawa, canda, dan doa-doa terbaik dari seluruh keluarga besar. Pesta penyambutan itu bukan sekadar perayaan kehadiran anggota baru, melainkan sebuah bukti nyata bahwa badai telah berlalu, luka masa lalu telah sembuh sempurna, dan kini kediaman keluarga Margajasa resmi menjadi istana penuh cinta yang abadi bagi mereka berempat.

Suasana ruang tengah kediaman Margajasa semakin bergeming dalam kehangatan keluarga. Vani dengan telaten menimang si kecil Darren yang menggeliat pelan dalam balutan selimut rajut biru muda, sementara Daniel tertidur pulas dalam dekapan hangat Sahara di sofa seberang. Tawa kecil dan obrolan ringan terus mengalir, menciptakan melodi kedamaian yang selama ini diimpikan Damian.

Di sudut sofa utama, Damian masih setia mempertahankan posisinya, membiarkan Ester bersandar nyaman di bahunya. Jemari kokoh pria itu dengan telaten merapikan helai rambut istrinya yang sedikit berantakan.

"Sayang..." panggil Ester pelan, matanya menatap lekat dua boks bayi di dekat mereka.

"Kamu nggak ingin menggendong Darren atau Daniel sebentar? Dari tadi mereka terus."

Damian mendengus pelan, lalu mengecup puncak kepala istrinya sekilas.

"Biar saja, sayang. Tugas utamaku sekarang adalah memastikan ratu di rumah ini merasa nyaman. Kalau aku sibuk mengurus mereka, nanti nggak ada yang menjaga kamu."

Ester mendengus geli, mencolek lengan suaminya.

"Kamu ini ya, keterlaluan sekali. Mereka itu anak kandungmu sendiri, Damian."

"Tapi kamu adalah istriku, cintaku, dan separuh nyawaku," balas Damian cepat dengan suara baritonnya yang lembut namun penuh penekanan.

"Anak-anak bisa tumbuh besar bersama kita, tapi memulihkan tenagamu setelah perjuangan kemarin adalah hal yang paling utama bagiku."

Mendengar pengakuan manis itu, Vani yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum gemas.

"Dengar itu, Ce? Suamimu memang sudah bucin akut sejak dulu. Untung saja kamu sabar menghadapi dosen kaku ini."

"Ma..." protes Damian dengan nada pura-pura kesal, sementara seluruh ruangan kembali meledak dalam gelak tawa renyah.

Ester tertawa lepas, merasa begitu beruntung dan dicintai secara utuh. Badai masa lalu kini telah benar-benar sirna, menyisakan kebahagiaan abadi dalam dekapan keluarga kecil mereka.

One Night Sleep [REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang