Malam semakin larut, menyelimuti kota dengan keheningan yang pekat. Di dalam kamar utama kediaman Damian, suasana terasa begitu hangat dan tenang.
Ester sudah terlelap lebih dulu di atas ranjang king size dengan napas teratur, kelelahan setelah perjalanan panjang dari vila pegunungan.
Sementara Damian memutuskan untuk menuju sebentar ke taman belakang rumah untuk menghirup udara segar sekaligus mengecek ulang sistem keamanan area luar melalui ponsel di tangannya.
Meski situasi tampak aman terkendali, insting tajam Damian tidak bisa dibohongi. Ada firasat buruk yang sejak tadi bergemuruh di dadanya, membuatnya enggan berlama-lama bersantai.
Di sisi lain, di balik dinding pagar tinggi rumah mewah tersebut, dua bayangan hitam bergerak senyap bagaikan hantu malam. Ramor dan Didi berhasil memanfaatkan celah kelengahan saat pergantian shift pengamanan pos belakang.
Dengan menggunakan tangga tali dan alat pemotong kaca khusus, mereka berhasil melompati pagar dan mendobrak pintu kaca geser yang menghubungkan area kolam renang langsung ke ruang keluarga.
Langkah kaki mereka begitu ringan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Target mereka hanya satu- Ester.
Didi memberi isyarat pada Ramor untuk bergerak ke lantai atas, sementara ia mengawasi situasi lantai bawah. Namun, saat Ramor menaiki separuh anak tangga, derap langkah kakinya berderit pelan di atas lantai, menciptakan suara samar yang tanpa sengaja terdengar oleh indra pendengaran Ester.
Ester yang tadinya tidur terlelap seketika membuka matanya. Ia mengerjap pelan, merasa ada hawa asing yang menyusup ke dalam kamarnya. Saat ia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit menuju lorong, jantungnya seolah copot dari tempatnya.
Sosok pria bertubuh tegap dengan penutup wajah berdiri tepat di ambang pintu kamar.
Sebelum Ester sempat bernapas, pria itu-Ramor-langkahnya mendekat dengan cepat dan membekap mulut Ester menggunakan selembar kain kasar.
"Hmmph!" Ester meronta hebat, matanya membelalak ketakutan.
Dengan sisa tenaga, ia mengayunkan sikunya sekuat tenaga hingga mengenai perut Ramor, membuat sang penyusup meringis kesakitan dan pegangannya terlepas.
"Tolong! Damian!" teriak Ester sekuat tenaga, melepaskan pekikan histeris yang memecah keheningan malam rumah tersebut.
Suara teriakan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Damian yang sedang berdiri di taman belakang. Tanpa pikir panjang, Damian berlari kencang menerobos pintu kaca belakang, mengabaikan ponsel yang terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam lantai hingga berkeping-keping.
"Ester!" geram Damian dengan suara menggelegar penuh kepanikan.
Di lantai atas, Ramor panik bukan kepalang mendengar teriakan Ester dan derap langkah kaki Damian yang berlari menaiki tangga seperti singa kelaparan.
"Sialan, rencananya gagal! Cepat tangkap dia!" desis Didi yang sudah menyusul ke lantai atas bergegas menarik lengan Ester secara paksa untuk dijadikan sandera.
Namun, sebelum mereka sempat menyeret Ester selangkah pun, sosok Damian sudah menerobos masuk ke dalam kamar dengan napas memburu dan mata menyala merah amarah.
Netranya menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika, istrinya yang sedang hamil ketakutan setengah mati dengan tangan asing mencengkeram pergelangan tangannya.
"Lepaskan tangan kotor kalian dari istriku!" murka Damian, suaranya menggelegar mengguncang seluruh dinding kamar.
Tanpa basa-basi, Damian menerjang ke depan seperti banteng ngamuk. Ia langsung melayangkan bogem mentah bertubi-tubi ke arah wajah Didi. Pukulan keras itu telak menghantam rahang Didi hingga pria itu terpental membentur lemari pakaian, menumpahkan darah segar dari sudut bibirnya.
Ramor yang melihat sepupunya tumbang mencoba mencabut pisau lipat dari balik jaketnya dan menyerang Damian secara membabi buta dari arah belakang.
"Damian, awas!" teriak Ester histeris dari sudut ranjang.
Damian dengan refleks luar biasa berhasil menghindari tikaman tersebut. Ia menangkap pergelangan tangan Ramor, memutarnya dengan kuat hingga terdengar bunyi patahan kecil yang disusul oleh teriakan kesakitan dari Ramor.
Belum sempat Ramor jatuh, Damian menghantamkan lututnya tepat ke arah ulu hati pria itu, membuat Ramor langsung tersungkur lemas ke lantai sambil memegang perutnya yang mual.
Kemarahan Damian sudah berada di titik nadir. Seluruh trauma masa lalunya, rasa cemas akibat teror berkepanjangan, dan ancaman yang berani menyentuh belahan jiwanya melebur menjadi satu kekuatan menghancurkan yang mengerikan.
Ia menindih tubuh Ramor yang sudah tak berdaya, menghantamkan kepalan tangannya berulang-ulang tanpa ampun. Wajah Ramor babak belur seketika, lebam kebiruan menghiasi sekujur muka, dan kesadarannya mulai melayang akibat hantaman brutal tersebut.
Didi yang berusaha bangkit merangkak untuk melarikan diri langsung dicekal oleh Damian. Pria itu diseret kembali ke lantai, lalu dihujani pukulan bertubi-tubi hingga tak mampu lagi melawan.
Dalam hitungan menit, dua penjahat yang tadinya berniat menyusup itu kini terkapar tak berdaya di lantai kamar, bermandi peluh, darah, dan rintihan kesakitan yang menyedihkan.
Jika bukan karena satu suara yang menghentikannya, Damian mungkin benar-benar akan menghabisi nyawa kedua orang itu malam ini tanpa sisa.
"Damian! Sudah... hentikan!" teriak Ester dengan suara parau bergetar, air matanya tumpah membasahi pipi pucatnya. Ia merangkak turun dari ranjang, memegang perut buncitnya sambil mencengkeram ujung baju Damian dengan panik.
"Jangan kotori tanganmu demi sampah-sampah ini, Damian... kumohon, cukup!"
Mendengar suara isak tangis dan sentuhan lembut di bahunya, amarah membabi buta di dada Damian perlahan-lahan surut. Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun tak beraturan. Damian menoleh perlahan, mendapati wajah ketakutan sang istri yang basah oleh air mata.
Seketika itu juga, kesadaran Damian kembali sepenuhnya. Ia membuang tinjunya yang sudah berlumuran darah, lalu langsung berbalik dan mendekap erat tubuh Ester ke dalam pelukannya.
"Ester... ya ampun, maafkan aku. Maafkan aku telat datang..." bisik Damian penuh penyesalan, suaranya bergetar hebat saat memeluk erat istrinya, menyalurkan seluruh sisa ketakutan yang mendera.
Ester membenamkan wajah di dada bidang suaminya, membalas pelukan itu erat-erat.
"Aku nggak apa-apa... aku baik-baik saja. Jangan pukul mereka lagi..."
Tak lama kemudian, suara sirine mobil aparat kepolisian yang ditelepon pengawal mereka mulai menderu memasuki halaman depan rumah.
Para pengawal bergegas naik ke lantai atas dan mendapati kedua penyusup sudah terkapar babak belur tak berdaya di lantai kamar utama.
Damian menggendong Ester keluar dari kamar menuju ruang tengah yang aman, sementara para penjahat itu diseret dan diserahkan langsung ke pihak kepolisian untuk diproses hukum tanpa belas kasihan.
Malam itu menjadi bukti nyata bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh berani mengusik ketenangan keluarga kecil mereka, karena Damian akan berubah menjadi monster paling mengerikan demi melindungi keselamatan Ester dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Sleep [REVISION]
RomantikBACA GRATIS SELAGI ON GOING❗ ⚠️ 21+ area. (Jangan DENIAL baca jika masih di bawah umur!). ⚠️ Contains harsh language, swearing and vulgarity. ⚠️ Full Fiction. ~~~ Bukan CEO, bukan mafia, apalagi starboy ibu kota. This is the sole heir to the misch...
![One Night Sleep [REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/359520567-64-k251286.jpg)