CZ 29

658 135 11
                                        

Jam setengah lima pagi Chika mulai mengendap-ngendap untuk keluar dari rumah Zean. Ia tampak sangat berhati-hati melangkah mendekati pintu keluar. Sungguh Chika tak mencuri barang apapun, tapi dia hanya tak siap bertemu dengan Zean setelah kejadian semalam. Kalian pikir Chika sengaja melakukannya? percayalah Chika hanya mengikuti intrusive thoughs alias pikiran alam bawah sadarnya. Semalam juga dia sudah merutuki dirinya sendiri yang berani melakukan hal itu tanpa consent dari pihak Zean lebih dulu.

"Mau kemana Chik?" Suara itu berhasil membuat jantung Chika memompa darah lebih cepat, tangan Chika yang sudah berhasil meraih gagang pintu mendadak lemas seketika.

Chika mau tak mau menengok ke arah Zean dengan perasaan takut dan bingung, " Chika pamit pulang ya pak" jawabnya dengan nada yang terdengar sedikit gemetar

Diam, awalnya Zean hanya diam menatap lekat Chika, membuat Chika makin salah tingkah dan gugup, lalu ia kembali berusaha membuka pintu, namun kemudian Zean meraih lengan Chika membuat cengkramannya terlepas dari gagang pintu.

"Sebelumnya apa ada yang mau kamu jelasin? kenapa kamu ngendap-ngendap kayak maling?" tanya Zean masih dengan tatapan tajamnya

"Ah gak mungkinlah Chika maling pak,  jangan nuduh deh, Chika cuma takut ganggu mama yang masih tidur" jawab Chika asal dan berusaha tenang.

"Saya gak nuduh kamu maling tapi yakin gak ada yang kamu curi dari sini?" ucap Zean pada Chika lalu dia mempautkan bibir bawahnya.

Melihat itu Chika sadar apa maksud Zean, "Iya-iya aku minta maaf karena semalem udah nyuri ciuman dari bapak, maaf aku nyesel harusnya aku gak ngikutin kata otak aku yang gila itu" Chika memejamkan matanya sebentar stres dan malu jadi satu bila mengingat kejadian itu.

"Kamu sadar itu bisa termasuk pelecehan karena kamu melakukannya tanpa consent dari saya?" entahlah yang Zean sedang katakan ini serius atau tidak tapi ekspresinya tampak sangat serius.

"Iya maaf, jangan laporin aku ke polisi" ucap Chika membuat Zean menjentik pelan dahinya, "jangan bercanda!" katanya

"Kalian ngapain?" tiba-tiba suara Melody terdengar dari belakang

Huft akhirnya Chika bisa bernafas lega, ia langsung melepas lengannya dari Zean  dan langsung menghampiri Melody, " Chika pamit pulang ya ma"

"Loh tanggung, gak mau sekalian sarapan di sini nih Chik?"

"Enggak dulu deh ma, aku ada kuliah pagi soalnya jadi harus siap-siap dari sekarangg"

"Ya udah deh, semangat ya kuliahnya"

"Iya siap mama"

Setelah mendapat izin dari Melody, Chika tampak buru-buru lari keluar rumah membuatnya Zean tak bisa apa-apa selain menatap kepergiannya

"Jangan cuma dari sini, keluar sana pastiin Chika aman sampai masuk ke rumahnya" ucap Melody mengingatkan Zean

Zean tak menjawab dia hanya menengok sekilas ke arah Melody lalu mengikuti instruksi mamanya itu.

Setelah memastikan Chika sudah masuk rumahnya, Zean kembali masuk dan ternyata di sana Melody masih berdiri membuat Zean menatap bingung sebentar ke arahnya. Namun Zean tak bertanya, ia menarik gagang pintu lalu menutupnya kembali.

"ada hal yang mau kamu ceritain ke mama mungkin?" Ucap Melody tiba-tiba

"Ha?" Tentu saja Zean bingung kemana arah pertanyaan mamanya

Melody mengaitkan lengan mereka berdua membuat posisi mereka lebih dekat, "kok mama ngerasa kalian berdua kayak lagi punya masalah besar ya, keliatan gak tenang. Chika tadi malem keliatan banget gelisahnya. Kamu juga kayak lagi banyak pikiran"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cegil ZeanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang