"Ada yang ingin aku tanyakan," Angkasa berbaring dengan kepala dalam pangkuan Nabila yang sedang duduk. Mereka menikmati malam itu dengan bersantai dan menonton apalah itu yang ditayangkan oleh televisi Indonesia. Karena Nabila tidak memasang sambungan parabola.
"Hmm?" mulut Nabila sibuk mengunyah pai buah hasil curiannya dari markas komplotan. Sagara pasti sedang kelimpungan mencari pai kesukaannya. Lelaki dengan wajah mengerikan itu ternyata sangat menyukai pai. Betapa menggelikannya. Pertama kali Nabila membuat pai untuk anggota yang lain, Sagara menyabotasenya dan menyuruh Nabila membuat yang banyak.
"Foto di kamar itu, foto siapa?" Angkasa menunjuk kamar yang ia maksud dengan dagunya, mencoba menanyakannya dengan acuh. Matanya tetap pada layar televisi yang sama sekali tidak menghibur.
Nabila menunduk mencoba mencari ekspresi di wajah Angkasa. Gadis itu menarik senyum kecil dan memilih untuk sedikit bermain-main dengan Angkasa.
"Foto mana?" jawab Nabila pura-pura tidak tahu.
Angkasa langsung menoleh, memicing pada Nabila yang tertawa-tawa melihat ke layar datar di depan mereka.
"Fotonya besar! Nggak usah pura-pura nggak tau kamu!"
"Oh yang itu," Nabila menggantungkan kalimatnya.
Angkasa tidak sabar. Ia menarik-narik lengan Nabila agar fokus gadis itu teralih padanya. "Siapa?"
"Kalau kubilang dia pacarku, bagaimana?"
"Nggak mungkin, pacarmu, kekasihmu, pendampingmu, atau siapa pun itu, saat ini orangnya adalah aku."
Angkasa berucap percaya diri. Meski dalam hatinya ia menyumpah berbagai macam hal kotor. Pacar Nabila? Mantan? Orang yang pernah disukai Nabila? Pernah menciumnya? Pernah mencum-.
Ah Angkasa menggeleng keras dan bangkit duduk. Menatap Nabila dengan sengit.
"Kuperingatkan kamu!" Ia menunjuk-nunjuk Nabila dengan kesal. "Aku kekasih yang pencemburu. Jangan pernah bermimpi untuk selingkuh dariku!"
Nabila terkekeh kecil. Ia menjambak rambut Angkasa dan memaksa lelaki itu untuk berbaring lagi. "Iya cerewet, kalaupun dia memang kekasih atau mantan kekasihku, dia sudah pergi jauh."
Pergi jauh? Angkasa bertanya dalam hati.
"Pergi ke mana?"
Angkasa menyadari ada dinding besar yang membatasi mereka saat ini. Nabila tersenyum getir ketika menatapnya.
"Andai aku tahu dia pergi ke mana, aku pasti mencarinya." gumamnya pelan.
Angkasa ingin bertanya lebih lanjut. Tapi mengurungkan niatnya dan hanya bangkit untuk memeluk Nabila. Ia tahu, gadisnya telah melalui masa yang buruk. Dan dirinya sebagai orang baru tidak ingin merusuh dengan bertanya sesuatu yang membuat Nabila merasa sedih.
"Apa pun itu yang kamu lalui, aku akan ada disisimu. Hmm?"
Nabila bersyukur dalam hati. Karena jika Angkasa bertanya lebih lanjut, ia harus kembali berbohong lagi akan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Tentang bagaimana pria dalam potret itu menghilang. Bersamaan dengan datangnya Sagara ke dalam hidup Nabila.
"Udah ah, lepas. Pai ku belum habis!" Nabila mencubit pinggang Angkasa.
Angkasa memekik dan segera menjauh dari Nabila. Gadis mungil itu menjulurkan lidahnya mengejek Angkasa.
Angkasa lega karena atmosfer di sekitar mereka kembali membaik. Ia merangkak mendekat dan melingkarkan tangannya di pundak Nabila. Mencium puncak kepalanya dan kembali menikmati kebersamaan mereka.
"Oh iya!" Nabila memekik pelan seolah mengingat sesuatu. Dengan semangat ia menoleh pada Angkasa yang menatapnya bingung. Mata Nabila berkaca-kaca memelas. Seperti anak anjing yang minta diadopsi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetly Broken
عاطفيةKata pepatah, polisi dan penjahat adalah pasangan serasi. Lalu apa jadinya jika mereka menikah? Angkasa David Leander. Tampan. Cerdas. Seorang anggota intelegen negara. Nabila Putri Galaksi. Cantik. Cerdas. Seorang kurir obat obatan terlarang. Lalu...
