16 - Pernikahan Kecil

35.3K 2.7K 52
                                        

"Apa kamu mau menerimaku, meski aku sudah tidak perawan?"

Tangan Angkasa melemas, ia mendorong Nabila menjauh dan menatap mata gadis itu. Sekarang ia tahu, ketakutan apa yang disimpan oleh mata cantiknya.

"Kamu bilang apa?" desis Angkasa tanpa sadar. Membuat hati Nabila berdenyut sakit. Gadis itu menghela nafas kalah. Pada akhirnya Angkasa tidak akan menerimanya. Ia menunduk, mengabaikan tatapan intimidasi yang diberikan Angkasa. Mempersiapkan diri jika Angkasa akan melangkah pergi.

Kali ini Angkasa menggeram, "Nabila, jawab aku!"

"Angkasa, aku bertanya, jika aku bukan seorang wanita yang masih suci seperti yang mungkin kamu bayangkan, apa kamu akan menerimaku?"

Angkasa menggeleng tidak percaya akan pertanyaan Nabila. Gadis ini sudah kehilangan akal sehatnya. Sesaat Angkasa sempat gila akan penuturan Nabila, ia tidak bisa berpikir logis saat ini. Yang ada dikepalanya hanyalah bahwa Nabila pernah disentuh oleh laki-laki lain. Dan itu membuatnya benar-benar ingin membunuh lelaki brengsek itu.

"Aku tidak akan mudah teralihkan seperti itu Nabila, katakan apa maksud dari perkataanmu!"

Nabila menautkan jemarinya gelisah, ia mundur sedikit karena hawa panas dari tubuh Angkasa mengintimidasinya.

"Sayang?" panggil Angkasa dengan lembut, ia menarik dagu Nabila agar mendongak menatapnya. "Aku tidak akan marah, aku sudah bilang akan menerima apa pun masa lalumu. Hanya saja aku ingin tahu, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Tolong, aku bisa gila kalau kamu terus menyembunyikan rahasia dariku seperti ini."

Nabila bergetar akan perkataan Angkasa yang begitu lembut dan seolah menghargai dirinya. Ia menatap mata Angkasa yang kini kembali teduh dan membuat hati Nabila tenang seketika.

"Angkasa," isaknya pelan dan langsung melompat meraih leher pria itu. Nabila tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi yang pasti, ia akan menceritakan sebagian dari masa lalunya yang kelam.

Masih dalam dekapan Angkasa, Nabila mulai bercerita. "Aku baru lulus SMP waktu itu. Kakak laki-lakiku, yang fotonya terpajang dikamarku, mengajakku untuk naik gunung. Rangga namanya."

Angkasa menegang ketika Nabila mulai bercerita. Karena, bagian dari masa lalu Nabila juga merupakan bagian dari masa lalu Angkasa.

"Saat dipos tiga, seseorang menculik kami. Aku dan Rangga dibawa ke sebuah pondok. Aku tidak tahu di mana pondok itu berada. Mereka menginginkan sesuatu yang bahkan tidak ada ditanganku lagi."

Angkasa tahu benar 'sesuatu' yang dimaksud oleh Nabila. Karena benda itu tersimpan aman dikamarnya sewaktu kuliah dulu.

"Aku tidak mengingat apa yang terjadi di dalam pondok itu. Semua orang berkata aku hilang selama seminggu dan ditemukan dalam hutan."

Nabila terdiam sejenak. Ia menanti respons dari Angkasa, tapi lelaki itu tetap diam. "Memang tidak ditulis dalam laporan, tapi dokter mengatakan ada bekas-bekas kekerasan seksual pada tubuhku."

Angkasa melepaskan pelukan Nabila. Ia memandang wajah cantik itu yang kini terlihat hampir menangis. Angkasa berandai-andai apakah ia akan pernah melihat Nabila menangis. Gadis ini tak sekalipun menangis meskipun Angkasa sudah mengeluarkan bakat terbaiknya dalam mengintimidasi orang lain.

Lalu kini, bahkan ketika gadis itu menceritakan tentang kejadian buruk yang menimpanya. Ia sama sekali tidak menangis, gemetar mungkin, tapi menangis tidak.

"Kamu tidak mengingat apa pun yang terjadi di dalam pondok?" Angkasa bertanya pelan. Mencoba tidak terlalu memberatkan Nabila.

Gadis itu menggeleng kuat, "Terkadang aku mengingatnya dalam bentuk mimpi yang sering berubah-ubah. Tapi ketika aku bangun, yang kuingat hanyalah bagaimana rasa takut yang kurasakan saat itu."

Sweetly BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang