Angkasa membuka matanya dengan lebar pagi itu. Tubuhnya terasa kaku dan lelah. Sedikit nyeri di sana-sini akibat pekerjaannya kemarin malam. Ia mengerang kecil saat menggerakkan tangannya dan merasakan tubuh hangat yang ia peluk tidak bergerak sama sekali.
Angkasa menggelengkan kepalanya agar rasa pusing yang menerpanya segera pergi. Saat kepalanya tidak lagi berdentum tak karuan, ia bisa melihat pundak putih mulus membelakanginya. Tapi bukan itu yang mengganggunya.
Angkasa menarik bahu Nabila agar ia bisa melihat wajah istrinya itu. Mengulum senyum tipis ketika melihat Nabila-nya masih tertidur. Ia hendak mengecup keningnya tapi terhenti ketika menemukan garis merah kebiruan melingkari leher Nabila. Pandangannya turun ke bawah, menatap bekas cakaran yang memanjang dari leher bagian bawah hingga dada.
Pria itu mendadak kedinginan. Ia menarik leher Nabila agar terbenam dalam pelukannya. Dalam sekejap mata, Angkasa mengingat apa saja yang sudah ia lakukan semalam kepada Nabila. Hatinya ketakutan. Memar-memar kecil di lengan dan bahu Nabila. Bibir istrinya yang membengkak dengan sudutnya yang terlihat kering oleh darah. Lalu air mata yang masih menggenang kecil disudut mata Nabila.
Apakah Nabila akan meninggalkannya setelah ini? Seharusnya Angkasa tidak berpikiran pendek dan langsung menyimpulkan bahwa Nabila adalah orang yang menjebaknya dalam tauran semalam. Hanya karena Angkasa kini bisa memastikan bahwa buruannya adalah seorang wanita. Dan hanya karena Angkasa merasa bahwa rambut perempuan itu sama lembutnya seperti rambut Nabila, bukan berarti orang itu adalah Nabila.
Apakah Angkasa mencekik Nabila semalam, saat Angkasa memaksakan kehendaknya pada istrinya itu. Angkasa tidak bisa mengingatnya.
"Lepaskan aku, Angkasa!" ucap Nabila lemah. Ia mendorong tubuh Angkasa menjauh. Sekujur tubuhnya kaku dan terasa aneh jika di gerakan. Di tambah Angkasa yang memeluknya erat, Nabila takut ia akan hancur. Tidak peduli Angkasa yang sejak tadi bergumam maaf dan maaf, Nabila hanya ingin Angkasa menjauh untuk sementara waktu.
"Nabila, maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."
Angkasa memohon saat Nabila bangkit dan menyampirkan selimut ke seluruh tubuh telanjangnya yang penuh luka. Mata Angkasa mengeras, ia terlalu pengecut untuk menatap luka-luka tersebut. Jadi ia hanya menatap wajah Nabila yang tersenyum getir saat berjalan menjauh.
"Nabila, sayangku. Kumohon, bicara."
"Aku harus bicara apa, suamiku?" ucap Nabila tajam. Ia menyorot Angkasa dengan matanya yang terasa penuh akibat menangis semalaman. Entah seberapa buruk penampilannya saat ini. Nabila tidak peduli. Ia hanya ingin kembali ke rumahnya dan menjalani kehidupannya dengan normal. Well, senormal yang biasanya ia jalani.
"Aku minta maaf. Aku hanya, hanya merasa kesal atas pekerjaanku yang lagi-lagi gagal. Aku, aku begitu marah semalam. Aku salah telah, telah melakukan," Angkasa kehilangan kata-katanya. Ia menunduk kalah, mengusap wajahnya dengan frustrasi.
"I'm so sorry."
"Apakah akan seperti ini pernikahan kita Angkasa? Kamu yang memaksakan kehendakmu sesukanya setiap kali kamu marah?"
"Aku salah. Aku salah Nabila, kumohon duduklah dan bicara."
Nabila tertawa kecil, tidak habis pikir dengan perkataan Angkasa. Bukti kekerasan terhadapnya masih tercetak jelas ditubuh Nabila dan sekarang Angkasa memintanya untuk duduk dan bicara. Nabila tidak akan melakukannya. Anggap Nabila keras kepala, tapi ia hanya sangat marah. Bukan cuma Angkasa yang bisa marah di sini.
Wanita itu sudah tidak peduli lagi, ia berjalan menuju kamar mandi untuk melampiaskan kemarahannya pada air.
Sisa hari itu dihabiskan tanpa bicara sama sekali. Angkasa sibuk dengan omelannya pada telepon dan pada anak buahnya. Nabila menggelengkan kepalanya, merasa kasihan pada siapa pun itu yang sedang dibentak-bentak oleh Angkasa. Jika Angkasa berani membentaknya lagi, Nabila pastikan ia akan balas membentak. Semalam adalah kesalahan, Nabila terlalu kaget dengan perubahan sikap Angkasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetly Broken
RomanceKata pepatah, polisi dan penjahat adalah pasangan serasi. Lalu apa jadinya jika mereka menikah? Angkasa David Leander. Tampan. Cerdas. Seorang anggota intelegen negara. Nabila Putri Galaksi. Cantik. Cerdas. Seorang kurir obat obatan terlarang. Lalu...
