29 - Ulang Tahun Rangga

31.6K 2.5K 181
                                        

"Halo?" ucap pria itu.

Nabila tidak berkedip. Takut jika ia melakukannya khayalan tidak masuk akal ini akan lenyap dalam sekali telan. Matanya mulai berair. Entah karena ia memang ingin menangis atau karena terlalu lama memandangi sosok tersebut.

Tangan Nabila mengepal. Bibirnya mengatup rapat tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya serasa melemah, kakinya hampir menyerah untuk berdiri ketika ia menyerap keseluruhan visi yang ada di depannya.

Nabila yang gemetar kembali meraih plastik belanjaannya. Ia mengalihkan pandangan dari Rangga dan berjalan perlahan menuju dapurnya. Wajahnya pucat.

"Nabila?" Rangga memanggil dengan ragu. Reaksi adiknya jauh dari ekspektasi yang selama ini ia harapkan dan bayangkan. Nabila tidak berlari kepadanya dan memeluknya sambil menangis. Nabila tidak meraung-raung memukuli tubuhnya dan meminta penjelasan atas segala hal yang terjadi pada mereka.

Wanita itu hanya diam dan memunggungi Rangga. Rangga bisa melihat tangan Nabila yang gemetar ketika memegangi plastik belanjaan. Tapi ketika ia ingin berjalan menghampiri adiknya, ia merasa ada dinding tebal di antara mereka yang menahannya.

Dengan sendu dimatanya, Rangga melirik Angkasa yang sedari tadi hanya mengamati disudut yang tak terlihat. Lelaki itu menghela nafas, menatap Angkasa meminta bantuan.

Angkasa mendorong tubuhnya dari dinding dan berjalan menghampiri Nabila. Ia tahu perasaan dan hati Nabila sedang bergejolak karena ia kaget. Dengan lembut, Angkasa menyentuh bahu Nabila dan memanggil nama istrinya.

"Nabila..." Angkasa berbisik.

Hanya dengan mendengar suara Angkasa, Nabila langsung berbalik. Ia menatap wajah suaminya dengan getir. Ada rasa takut juga di sana. Yang tentu saja membuat baik Angkasa maupun Rangga kebingungan. Apa yang Nabila takutkan?

"Angkasa..." suara Nabila terdengar pecah. "K-kak Rangga-a..dia disini." Tanpa sadar, Nabila meraih lengan kemeja Angkasa. Membuat pria itu menarik senyum mengerti. Nabila hanya kaget.

"Kakakmu bilang ingin bertemu, sayang." Angkasa berkata pelan, berharap Nabila bisa cepat keluar dari dunianya. Ia merangkul pinggang istrinya, mengecup kening Nabila.

"Kak Rangga sangat rindu padamu."

Mata Nabila memerah karena ia menahan tangis. Entah, hatinya terasa sakit dan takut dalam waktu bersamaan. Dadanya seolah sedang di tumbuk-tumbuk. Ia membenamkan wajahnya di dada Angkasa kemudian melirik sedikit ke arah Rangga. Meneliti setiap sudut tubuhnya. Mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya yakin bahwa ini bukanlah ilusi.

"Ayo... Kak Rangga nanti nangis kalau kamu nggak mau ketemu dia." Angkasa mencoba bergurau. Membuat Rangga memicingkan mata pada juniornya itu.

Masih sambil memeluk Angkasa, Nabila kini menatap Rangga lurus-lurus. Rangga tersenyum, ingin sekali mengulurkan tangannya agar Nabila bisa berjalan dan berada dalam pelukannya. Tapi ia juga takut jika Nabila menolak dan tidak ingin menyambut uluran tangannya. Rangga takut ditolak.

Nabila menoleh pada Angkasa. Entah apa yang ia butuh kan. Tapi Angkasa membalasnya dengan anggukan kecil. Membuat Nabila bisu.

Wanita itu perlahan berjalan mendekati Rangga. Meski tetap tidak mau melepaskan diri dari Angkasa. Hanya tinggal tiga langkah lagi, dan Nabila berhenti. Ia kembali mendongak menatap Angkasa. Meminta persetujuan, meminta satu anggukan lagi.

Angkasa tersenyum melihat sikap Nabila yang begitu manis. Rasanya ia ingin mencium bibir merahnya yang sedang bergetar itu dalam-dalam. Namun, bisa-bisa Rangga meninjunya sampai mati. Nanti, akan ada waktunya untuk mencuri kepolosan istrinya lagi.

****

Terima kasih telah membaca! Jangan lupa berikan vote dan tinggalkan komentar ya. Cuplikan dari cerita ini akan di upload setiap hari Rabu dan Sabtu pukul 20.00.

Bagi yang ingin membaca versi lengkap bisa menuju ke Karyakarsa/Amubamini, pilih menu "Seri" dan pilih karya "Sweetly Broken". Kalian juga bisa mendapatkan diskon-diskon menarik jika hendak membeli satu paket bacaan. Keterangan dan lain-lain bisa kalian baca di menu "Paket" ya.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Salam sayang,
Amubamini.

Sweetly BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang