"Kamu hanya perlu bersembunyi di belakang. Tangkap paket yang kulempar dan pergi."
Nabila mengingatkan Denis untuk yang ke sekian kalinya siang itu saat mobil mereka bergerak membelah kemacetan kota Bandung, menuju safe house yang ada di kota ini.
"Tidak adil! Aku juga mau masuk ke arena perang!" Lalu, untuk yang keseribu kalinya, Denis tetap membantah.
"Perang kepalamu!" gumam Nabila kecil. "Jangan membantah terus. Dengar, di sana mungkin akan ada banyak polisi yang menyamar. Aku tidak ingin mempertaruhkan hidupmu jika tertangkap."
"You act like a nagging mother again. Aku sudah cukup dewasa untuk membantu—"
"KAMU...adalah anak berusia lima belas tahun!" desis Nabila tanpa memandang Denis. Matanya lurus ke depan memperhatikan mobil yang bergerak dengan kecepatan dua meter per menit. Kemacetan kota ini ketika siang hari benar-benar bikin pusing.
"Licik!" desis Denis. Pelan tapi Nabila masih dapat mendengarnya samar-samar.
"What?"
"Aku nggak ngomong apa-apa. Kakak salah denger pasti." Denis menjulurkan lidahnya kemudian membuang muka ala-ala drama.
"Berjanjilah padaku." Nabila menghela nafas. Ia benar-benar tidak ingin membawa Denis dalam kesulitan. Tapi Nabila tahu, ia membutuhkan Denis untuk membawa kabur paketnya jika sewaktu-waktu Nabila tidak bisa keluar dari tempat tersebut.
"Yeah, whatever! Promise promise," ucap Denis acuh. Membuat Nabila ingin sekali menjambak keras rambut Denis.
"Good. Sekarang di mana kamu menyembunyikan senjataku?" Wanita itu menarik senyum miring. Denis berpikir bahwa Nabila tidak tahu jika ia mencuri beberapa senjata dari brangkasnya. Hanya saja, Denis tidak tahu bahwa ada sensor yang langsung terhubung ke ponsel Nabila jika satu tombol saja ditekan.
Denis mengerang sebal, "Di tasku, di bagasi," jawabnya pasrah. Lain kali Denis akan mencoba mencuri dari gudang milik Fadera atau Randi.
"Thank you."
Denis cemberut total. Bergumam-gumam menyatakan ke tidak setujuannya tentang apa yang diperintahkan oleh Nabila. Di mana keseruannya jika ia hanya berdiri dibalik tembok dan tidak memainkan bagiannya.
"I mean it, kid. Diam saja di belakang dan bawa paketnya kembali ke mobil!" Nabila memperingatkan.
"Terus kalau terjadi sesuatu sama kakak gimana?" Well, Denis masih berusaha untuk membuat Nabila mengubah keputusannya.
"Kalau begitu Sagara yang akan menjemputku di penjara," jawab Nabila dengan enteng. Ia menarik tuas sein kanan kemudian berbelok. Masuk ke sebuah jalan kecil yang anti macet.
"Apa kita benar-benar akan menghadapi polisi? Siapa tahu mereka nggak ada."
"Di setiap transaksi yang kita lakukan. Pada siapa pun, selalu ada agen kepolisian yang menyamar. Contohnya yang si masker gas kemarin."
Nabila kembali mengulang saat-saat dirinya melawan pria yang mengenakan masker itu. Pria itu kuat dan jelas memiliki latihan fisik yang dikhususkan untuk berkelahi.
"Berdoa saja yang terbaik untuk kita," lanjut Nabila.
Denis terkekeh kecil, mengutarakan apa yang ada di pikirannya. "Faktanya, kita bukan orang baik."
"Berdoa untuk kebaikan mereka kalau begitu," balas Nabila dengan sinis. Denis dan mulutnya yang tidak pernah berhenti untuk bicara sulit sekali dilawan.
Denis tersenyum menang. Ia memikirkan kembali apa yang akan ia hadapi setelah ini. Meski begitu ia tahu bahwa Nabila memang tak akan menempatkannya dalam bahaya. Kecuali, jika si pria bermasker gas itu muncul kembali. Sejak pertama melihat pria besar itu, Denis merasa familier dengan auranya. Denis juga tahu bahwa pria itu sangat berbakat menjadi seorang petarung.
"Kakak yakin Om Angkasa nggak akan pulang malam ini?"
"Aku tidak tahu. Tapi jika kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat, sebelum malam terlalu larut kita bisa kembali," jawab Nabila asal.
Ia sendiri bingung jika sewaktu-waktu Angkasa pulang dan tidak menemukan dirinya di rumah. Teringat kembali saat hari kedua mereka menikah dan Angkasa mengamuk ketika Nabila pergi begitu saja.
"Kita bener bener mau beraksi siang bolong begini? Berani benar mereka!" Denis tertawa kecil. Matanya menatap ke luar jendela, mengamati langit yang masih terang benderang.
"Mungkin karena mereka berpikir hanya akan berurusan dengan polisi."
"Jika aku polisinya, aku akan langsung menangkap mereka. Tidak peduli dengan kesepakatan apa pun yang mereka buat."
Denis meninju udara dengan semangat. Kembali membuat Nabila menekan bibirnya rapat. Berusaha untuk tidak tersenyum.
"Well, kamu bukan polisi."
"Yeah, aku bangga menjadi orang jahatnya."
"Atur sesukamu, Denis."
Denis menyengir lebar. Ketika safe house sudah terlihat di depan mata. Denis seolah-olah akan melompat-lompat di kursinya karena antusias.
****
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa berikan vote dan tinggalkan komentar ya. Versi lengkap dan sudah tamat bisa dibaca di Karyakarsa.com/Amubamini. Untuk cerita yang diupdate di wattpad hanya cuplikan saja. Sering-sering mampir ya karena Amuba suka bagi-bagi voucher koin.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Salam sayang,
Amubamini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetly Broken
RomanceKata pepatah, polisi dan penjahat adalah pasangan serasi. Lalu apa jadinya jika mereka menikah? Angkasa David Leander. Tampan. Cerdas. Seorang anggota intelegen negara. Nabila Putri Galaksi. Cantik. Cerdas. Seorang kurir obat obatan terlarang. Lalu...
