Angkasa duduk di mobilnya. Mengamati jalanan di luar sana dengan waspada. Iwan berkata dari salah satu mata-mata yang mereka tempatkan pada sebuah komplotan, bahwa mereka ingin mengacaukan transaksi komplotan lainnya. Transaksi itu akan terjadi di sekitar jalan ini.
Lalu tiba-tiba sebuah motor melaju cepat mendahuluinya. Motor matic kecil yang kurang ajar, pikir Angkasa. Mengingatkan Angkasa pada motor Nabila. Namun, pikiran tentang Nabila sirna seketika saat berselang beberapa detik setelah matic itu lewat, tiga buah motor besar melaju cepat seolah sedang mengejar motor tersebut.
Kali ini, Angkasa memasukkan gigi dan langsung menekan gas keras-keras. Ban mobilnya berdecit. Angkasa tertawa senang, tidak sabar untuk melihat seperti apa tangkapannya hari ini. Tiga motor itu berbelok pada jalur yang semakin sepi, masuk dalam perumahan tua dan berhenti di sebuah bangunan pabrik yang terbengkalai. Inikah markas mereka? Tanya Angkasa dalam hati.
Motor matic tadi tidak terlihat. Ia menaikkan kerah sweternya sampai hidung dan meraih topi lalu segera keluar dari mobil untuk memburu orang-orang tadi. Pintu masuk gedung ini sudah hilang sebelah, Angkasa bisa melihat jelas bagaimana tiga orang itu mengerubungi satu orang yang mengemudi motor matic.
“Udah gue peringatin untuk nggak masuk wilayah transaksi kita, tolol!” seru orang yang berada paling depan dan paling dekat dengan mangsa mereka.
“Lo sama komplotan lo yang kayak ba*i buruan pergi dari sini!”
Orang yang mereka ancam, seseorang berperawakan kecil dengan baju serba hitam itu hanya diam. Ia tidak menjawab. Mulutnya terkunci rapat dibalik masker dan topi yang ia kenakan. Berbanding terbalik dengan tiga orang di depannya yang terus menyumpah dan berang setengah mati.
Angkasa melihat keseluruhan postur orang ini. Dan ia tahu, orang inilah yang menjadi target operasinya sejak dua tahun lalu. Phantom. Salah satu kurir ahli yang bekerja dimana-mana. Betapa beruntungnya ia hari ini. Iwan akan mendapatkan makan siang gratis setelah ia menyelesaikan misinya.
Regu penolong sebenarnya selalu siap siaga dalam basemen tim Angkasa. Hanya saja, Angkasa belum pernah menggunakan mereka karena ia selalu bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, mengingat siapa yang ia hadapi saat ini. Mungkin Angkasa bisa membuat timnya bekerja sesekali.
“Heh, lo tuli apa gagu?! Nggak punya mulut lo?”
Angkasa mengeratkan senjata apinya dari balik jaket. Ia menyisir wilayah dan tahu bahwa untuk melarikan diri dari sini sangat mudah. Matanya kembali jatuh pada sosok berbaju hitam itu. Gayanya benar-benar santai. Hal pertama yang bisa Angkasa simpulkan saat ini adalah, orang ini terlatih.
****
Nabila mendelik pada tiga orang yang mengepungnya. Malas bicara. Malas bergerak. Dan ia rasanya begitu malas untuk mengotori tangannya dengan melawan tiga orang ini.
“Kurang ajar!” salah satu dari mereka sepertinya sudah jengah dengan kediaman Nabila sejak tadi. Ia melangkah maju dan melayangkan tangannya untuk menghantam Nabila.
Nabila hanya bersyukur, orang ini tidak tahu kalau Nabila adalah perempuan. Tanpa melakukan banyak gerakan, Nabila mengayunkan kakinya pada pusat kehidupan orang ini dengan keras. Sangat keras hingga orang ini membeku di tempat tanpa suara.
Kesempatan ini Nabila ambil untuk melompat dan membenturkan tumit kakinya dengan kepala orang tadi. Kedua orang di belakangnya tampak marah dan langsung memburu ke arah Nabila. Tapi Nabila malah tersenyum tipis dan berputar untuk melayangkan tendangan lainnya pada salah satu di antara mereka. Kemudian sebagai sentuhan terakhir, ia meninggalkan tinju menyakitkan pada hidung yang satunya lagi.
Baru saja Nabila ingin tersenyum puas melihat mahakaryanya, gadis itu kembali terjaga ketika melihat seseorang bersembunyi di balik pintu utama. Seingatnya tadi hanya ada tiga motor. Lalu siapa orang ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetly Broken
RomansaKata pepatah, polisi dan penjahat adalah pasangan serasi. Lalu apa jadinya jika mereka menikah? Angkasa David Leander. Tampan. Cerdas. Seorang anggota intelegen negara. Nabila Putri Galaksi. Cantik. Cerdas. Seorang kurir obat obatan terlarang. Lalu...
