28 - Hallo

29.6K 2.8K 158
                                        

"Oke. Kalau menguras tabunganku bisa membuatmu senang aku tidak masalah. Aku masih bisa mengisinya dengan lebih banyak lagi. Tapi jangan sekali-kali kamu gunakan uangmu sendiri untuk kebutuhan rumah tangga kita. Tidakkah kamu memandangku sebagai suami yang memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya?"

Nabila hanya cemberut menanggapi omelan Angkasa. Ia dan Denis akan saling lirik dan saling sikut jika Angkasa sudah menyidangnya begini.

"Maaf," gumam Nabila. Tidak dari hati sebenarnya. Ia masih memiliki banyak jenis protes yang bisa ia gunakan agar Angkasa tidak lagi membekukan kartu Nabila dan membiarkan wanita itu mengatur sendiri keuangan di rumah tangga mereka.

"Aku bukannya meragukanmu, Angkasa. Tapi aku tidak mau jadi istri yang hanya bisa berfoya-foya dengan uangmu. Aku punya uangku sendiri. Lagi pula tidak semua kebutuhan rumah tangga kubeli dengan—,"

"SEMUA kebutuhan rumah tangga selama lebih dari setengah tahun kita menikah menggunakan uang yang ada di rekeningmu. Sedangkan rekening yang kuberikan padamu tidak kamu sentuh sama sekali. Jangan mencoba membohongiku."

"Okay, tapi setelah itu aku menggunakan uangmu kan?"

"Hanya untuk membeli sepatu Denis."

"Apa salahnya membelikanku sepatu?" Denis ikut protes. Sebenarnya ia hanya ingin menuangkan minyak pada api yang sudah membara di kedua mata Angkasa. Kesenangan sendiri baginya melihat Angkasa yang mengomel tapi Nabila hanya menampakkan wajah polos.

"Tidak ada salahnya membelikanmu sepatu. Kalau perlu kubelikan tokonya sekalian. Tapi kakakmu ini..." Angkasa berhenti sejenak untuk menghembuskan nafasnya lelah. "Tetap menggunakan uangnya sendiri untuk keperluan sehari-hari."

Nabila menarik senyum kecil, ia berdiri dan langsung melingkarkan tangannya pada lengan Angkasa. Berusaha sebaik mungkin memberikan wajah yang imut. Angkasa mendesah melihat kelakuan Nabila. Wanita ini tahu titik lemah Angkasa. Kemudian dengan agak terburu-buru Angkasa menyeret Nabila ke kamar mereka.

Denis ditinggalkan diruang tamu dengan kedipan genit dari Nabila. Mengatakan bahwa masalah telah terselesaikan.

Mengingat peristiwa itu membuat Nabila terkikik lagi. Sudah siap untuk melompat turun ke halaman belakang rumahnya, tapi terhenti ketika suara mesin mobil terdengar dari depan rumah. Nabila segera turun, takut kalau itu mobil Angkasa dan Nabila tertangkap basah sedang sirkus di atap rumah mereka.

Tapi saat Nabila sudah di dalam, tidak ada tanda-tanda Angkasa akan masuk. Alih-alih, Nabila malah mendengar pintunya diketuk pelan dari luar. Nabila mengernyit. Siapa yang datang jam segini?

Ia membuka pintu perlahan. Menemukan seorang yang lumayan tinggi. Tegap dan jelas bukan sepenuhnya berdarah Indonesia. Keriput-keriput di sudut mata dan keningnya sama sekali tidak melunturkan sisa-sisa ketampanannya dimasa muda.

Nabila sedang berhadapan dengan Akira Leander.

****

Terima kasih telah membaca! Jangan lupa berikan vote dan tinggalkan komentar ya. Cuplikan dari cerita ini akan di upload setiap hari Rabu dan Sabtu pukul 20.00.

Bagi yang ingin membaca versi lengkap bisa menuju ke Karyakarsa/Amubamini, pilih menu "Seri" dan pilih karya "Sweetly Broken". Kalian juga bisa mendapatkan diskon-diskon menarik jika hendak membeli satu paket bacaan. Keterangan dan lain-lain bisa kalian baca di menu "Paket" ya.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Salam sayang,
Amubamini.

Sweetly BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang