Denis duduk di ruangan Nabila dalam kafe. Seorang wanita bermata biru menatapnya penuh rasa penasaran. Kalau Denis tidak salah dengar namanya adalah Yumika.
"Emang dia mau disuruh ngapain mbak di sini?" tanya Yumika mengalihkan pandangannya dari Denis menuju Nabila yang sedang sibuk dengan laporan keuangan di mejanya.
"Kerja part time," jawab Nabila singkat. Yang dihadiahi oleh tatapan bingung dari Denis. Dan pandangan tidak percaya dari Yumika.
"Umurmu berapa?" tanya Yumika pada Denis.
Denis menguap bosan sebelum menjawab, "Lima belas."
"Oh my, masih di bawah umur. Emang legal kamu nyuruh dia kerja di sini?" oceh Yumika mengabaikan Denis yang memberinya tatapan tidak terima.
Nabila mengalihkan pandangan dari berkas-berkasnya dan menatap Denis yang cemberut total di kursinya. Anak itu pasti bosan. Setelah pergi dan mendaftarkan sekolah baru untuknya Nabila harus kembali ke kafe untuk mengurus laporan bulanan. Mau tak mau Denis harus ikut, Nabila tidak ingin mengambil risiko membiarkannya bebas di rumah.
"Denis, kamu ke dapur dan temui Venus katakan kamu asisten barunya!" ucap Nabila tenang. Mengabaikan pertanyaan Yumika kemudian kembali mengurusi kertas-kertas tak jelas di mejanya.
"Siapa Venus?"
"Kepala koki."
"Kakak nyuruh aku bantuin dia masak?"
"Kamu jadi asistennya."
"Bukannya sama aja?"
Lagi-lagi Nabila mendongak. Kali ini dia menatap Yumika. "Tolong antar dia ketemu, Venus."
Yumika menyeringai, ia berdiri dan memberi hormat dengan senyumannya yang lebar. "Siap, bos."
"Yuk, boy!" ajak Yumika. Ia menarik tangan Denis tanpa minta izin dan menyeretnya keluar.
Nabila menggelengkan kepalanya, menarik senyum kecil. Ia berharap Denis bisa beradaptasi dengan lingkungan baru disini. Dengan bekerjanya ia di kafenya, maka setidaknya ia memiliki alibi jika situasi menjadi tidak terkontrol.
Di sisi lain. Denis sedang mengernyit stres melihat dapur yang begitu sibuk. Setidaknya ada empat orang yang bertugas di dapur, termasuk Venus. Saat ia masuk, semua mata tertuju padanya. Ia menggaruk lehernya canggung dan berdiri di hadapan pria yang bernama Venus tersebut.
Lelaki itu tinggi, mungkin hampir sama dengan Angkasa. Hanya saja Venus tidak memiliki darah campuran seperti halnya Angkasa. Wajah lelaki itu putih bersih dengan mata yang kecil menusuk tajam. Tubuhnya lumayan kekar jika dilihat dari pakaiannya yang mengetat sempurna. Secara keseluruhan, Venus adalah laki-laki yang tampan dan terlihat ramah.
"Sudah selesai mengamatiku?" sindir Venus. Ia menautkan tangannya ke belakang dan berdiri tegak mencoba terlihat tegas. Nabila sudah berkata bahwa Denis adalah anak yang sulit diatur jika tidak diancam oleh kapasitas intimidasi yang tinggi.
Denis tidak menjawab. Sepertinya anak itu punya kebiasaan hanya menjawab pertanyaan Nabila atau pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak menyulitkan.
"Sudah kusiapkan loker untukmu. Di sana ada seragam yang bisa kamu gunakan. Ambil dan kembali dalam lima menit."
Yumika mencibir dibalik Denis. Mencemooh sikap Venus yang sok sangar dan sok berwibawa. Tapi terkadang Venus memang memiliki sisi itu, meskipun lebih sering pria itu tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Membuat semua orang yang melihatnya ketakutan.
Denis menggaruk telinganya dan berjalan ke lorong di belakang dapur yang mengarah pada loker-loker para pekerja dapur. Ia membuka salah satunya yang bertuliskan nama Denis. Di sana ada seragam yang sama seperti orang-orang dapur gunakan. Sebuah apron hitam dan kaos berwarna putih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetly Broken
RomanceKata pepatah, polisi dan penjahat adalah pasangan serasi. Lalu apa jadinya jika mereka menikah? Angkasa David Leander. Tampan. Cerdas. Seorang anggota intelegen negara. Nabila Putri Galaksi. Cantik. Cerdas. Seorang kurir obat obatan terlarang. Lalu...
