13 - Potret Lelaki Itu

32.1K 3K 119
                                        

"Siapa kamu Nabila? Siapa Denis?! Jangan mempermainkan aku!"

Nabila merasa kepalanya seperti diputar-putar dan ia ingin muntah. Saat ini juga.

"Lepas Angkasa!" seru Nabila. Ia mendorong tubuh Angkasa menjauh. Menggerakkan kakinya untuk menendang Angkasa. Dalam kondisi sehat bugar, Nabila bisa saja melempar Angkasa ke luar jendela kamarnya, tapi saat ini Nabila sedang tidak berselera untuk melakukannya.

Telinganya seolah mendengar nada statis ketika Angkasa mulai berteriak. Dan itu bukan pertanda baik. Ia benci ketika seseorang berteriak. Bukan, bukan hanya benci. Yang ingin ia lakukan pada orang yang berteriak padanya adalah merobek mulut orang tersebut bahkan memotong lidahnya jika perlu.

Trauma yang tidak bisa hilang selamanya dari diri Nabila. Bahkan Sagara yang selalu memperhatikan gerak-geriknya selama sepuluh tahun tidak tahu menahu tentang kondisi Nabila.

"Jangan diam, Nabila. Aku memiliki batasku sendiri!" geraman lainnya keluar dari mulut Angkasa.

Nabila memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nabila menyumpah dalam hati ketika perutnya tidak mau bekerja sama dengannya. Ia menendang perut Angkasa dengan lututnya dan berlari menuju kamar mandi.

Angkasa yang kaget memegangi perutnya dan melotot marah,

"This woman!" geramnya. Ia segera bangkit hanya untuk menemukan Nabila yang sedang berlutut pada kloset dan memuntahkan cairan bening dari mulutnya.

Angkasa mengepalkan tangannya marah. Ia menarik nafas dengan kasar dan akhirnya berjalan menghampiri Nabila. Menarik rambut gadis itu ke belakang agar tidak terkena muntahan dan menepuk-nepuk punggung Nabila dengan perlahan.

Sudut mata Nabila berair karena menahan sakit akibat harus memuntahkan sesuatu padahal ia tidak memakan apa pun seharian ini. Selain itu hatinya juga sakit, baru beberapa minggu yang lalu Angkasa berkata bahwa ia akan menjalani semuanya perlahan-lahan. Tapi lihat siapa yang memaksakan kehendaknya.

Angkasa melihat itu semua. Ia memutuskan bahwa ia adalah laki-laki paling bodoh didunia. Bagaimana mungkin ia berkata kasar seperti tadi, mencengkeram Nabila dengan kuat, membuat wajah gadis semakin pucat.

"Maafkan aku," bisik Angkasa. Ia meraih tisu toilet dan membersihkan mulut Nabila dengan lembut. Ia takut tenaganya akan menyakiti gadis ini lagi. Meskipun ia juga tahu bahwa Nabila adalah gadis yang kuat.

Nabila menggeleng sebagai jawaban atas permintaan maaf Angkasa. Ia hanya lelah dan ingin kembali ke kasur. Tapi semua tenaganya habis ia gunakan untuk berlari ke kamar mandi. Jadi ia hanya duduk dan membiarkan Angkasa memeluknya dari belakang. Gadis itu mengistirahatkan kepalanya di dada Angkasa.

"Ingin kembali ke kasur?" tanya Angkasa yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Nabila.

Dalam sekali gerak, Angkasa mengangkat Nabila dalam gendongannya. Membuat gadis itu kaget dan langsung melingkarkan tangannya di leher Angkasa. Matanya membulat menatap Angkasa yang berusaha untuk tidak tersenyum melihat keterkejutan dimata Nabila.

"Aku ambilkan minum sebentar," ucap Angkasa setelah meletakan Nabila di kasur. Lelaki itu berjalan keluar dan kembali dengan cepat dengan segelas air ditangannya. "Bangun sedikit.."

Perasaan Nabila campur aduk ketika laki-laki itu membantunya minum dan duduk di sampingnya dengan tenang. Mengusap kepalanya perlahan. Terkadang Angkasa bisa begitu lembut dan penyayang, tapi dilain waktu lelaki itu bisa sangat menuntut dan menyeramkan.

"Kamu belum makan?" Nabila hanya mengedipkan matanya untuk membalas perkataan Angkasa.

"Aku buatkan makan malam untukmu. Istirahatlah."

Sweetly BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang