Sudah tiga minggu Tania cuti kuliah dan magang. Kini ia kembali magang di kantor Keith.
Walau kini ia bersatatus istri Alvaro, Tania sudah meminta pada suaminya itu untuk merahasiakannya.
Suaminya.
Tania benar-benar belum bisa menerima dengan benar, kalau ia sudah menikah. Menikah dengan monster Alvaro, orang yang ia benci. Karena Alvaro hidupnya jadi berantakan. Namun disatu sisi, Alvaro memperlakukan dirinya sangat baik. Saking terlalu baiknya, Alvaro selalu ada dimana Tania berada.
Tok! Tok!
"Masuk."
Tania menyembulkan kepalanya. Ia mengetok ruang kerja Alvaro.
"Come here, baby." Ucap Alvaro tanpa harus repot melihat siapa yang datang, seakan ia tau siapa yang datang.
"Mr. Saya butuh tanda tangan anda."
Alvaro menaikkan pandangnya, menatap Tania.
"Begitu cara berbicara dengan suamimu?"
"Ini dikantor, Al." Tania memperingatinya. Karena lebih banyak karyawan yang tidak mengetahui ketimbang tahu kalau Tania dan Alvaro suami istri sekarang.
"Tapi ini diruanganku, tidak akan ada yang berani melihat." Alvaro menyenderkan punggungnya.
Tania menghembuskan nafasnya, ia mencoba tersenyum, "Baiklah suamiku, aku membutuhkan tanda tanganmu."
Alvaro tersenyum, ia sangat suka bila Tania memanggilnya dengan sebutan suamiku. Alvaro menggerakkan jarinya, memanggil Tania untuk mendekat, dan duduk dipangkuannya.
Alvaro mengambil berkas itu, secepat kilat lalu menandatanganinya.
"Sayang, sepertinya nanti kita tidak bisa makan siang bersama. Aku ada pertemuan diluar, kemungkinan sekalian makan siang."
"Tak masalah, aku bisa makan siang dengan Aina."
"Aina?" ulang Alvaro.
Tania menganggukan kepalanya, "Aku hanya mencoba berdamai, Al. Aku lelah kalau harus bersiteru. Dia juga lagi hamil muda, kasian kalau dia harus stress-stress."
"Kemana Kevin?"
Tania mengedikkan kedua bahunya, "Menurut Aina, Kevin masih bersikap dingin padanya. Berbicara hanya seperlunya, hanya sebatas kandungannya. Aku berencana berbicara pada Kevin."
Alvaro mengeratkan pegangannya di paha Tania, "Aku hanya ingin berbicara agar ia tidak bersikap dingin dengan Aina, kasihan dia." Tania mengelus tangan Alvaro mencoba menenangkan.
"Aku percaya padamu, baby. Tapi tidak dengan Kevin."
🔹️🔹️🔹️🔹️
"Kenapa kamu bersikap dingin pada Aina?"
"Dia bicara apa saja?"
"Aina tidak bilang apa-apa, Kevin. Tapi aku melihatnya sendiri. Bagaimana cara kamu memperlakukannya."
Kini Tania dan Kevin sedang duduk ditaman kantor. Tania tadi menghubungi Kevin dan ingin berbicara.
"Aku tidak bisa, Tania. Aku, aku masih mencintaimu."
Tania menggelengkan kepalanya, "Suka atau tidak, takdir kita sudah berakhir. Aku sudah menjadi istri kakakmu, kamu akan menjadi seorang ayah dari bayi Aina."
"Tapi kamu teraksa kan menikah dengan Alvaro."
"Memang, tapi aku juga lelah Kevin kalau harus terus melawan. Bukan aku tidak pernah mencoba, berkali-kali aku mencoba lari, tapi apa yang ku dapat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Immortality
RomansaCinta. Lebih susah kita menjaganya ketika ia ada, daripada mencarinya ketika ia belum ada.
