Tania sudah diperbolehkan kembali ke rumah. Alvaro membawa Tania ke mansion miliknya. Tania sudah bisa berjalan walau tertatih-tatih, Alvaro? Ia hanya melenggang masuk tanpa memperdulikan Tania.
Tania memperhatikan mansion pribadi milik Alvaro, nyaman. Untuk ukuran seorang diri tinggal di hunian ini cukup luas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namun yang Tania bingung kenapa pemilihan warnanya hitam semua.
Apa Alvaro buta warna? Hanya tahu warna hitam?
"Kenapa jalanmu seperti siput?" Alvaro membalik badannya menghadap Tania yang jalan dibelakangnya.
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit kalau kau lupa ingatan." balas Tania ketus.
Alvaro terkekeh, ia berjalan kearah Tania, dan menggendongnya bridal style.
"Bilang kalau mau digendong."
Tania memutar bola matanya, "Siapa yang mau!"
"Jangan memutar bola matamu, baby."
Tania melirik Alvaro, yang tengah menatapnya tajam.
Alvaro terus berjalan dan kini menaiki lantai dua rumahnya.
"Kamar kita, kamu bukan pembantu disini." tegas Alvaro.
Sesampainya dikamar, Tania masih heran, nuansa warna kamarnya pun masih hitam. Hampir pakaian yang Alvaro kenakan juga berwarna hitam atau putih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Al, kamu engga ada warna kesukaan lain selain warna hitam?" tanya Tania ketika sudah duduk diatas ranjang.
"Itu warna kesukaanku." Alvaro membuka kancing kemeja bajunya dan kini ia bertelanjang dada. Mata Tania terpaku dengan bentuk tubuh sempurna Alvaro, dengan hiasan tato di dada sampai lengan.
"Menikmati pemandangan?" goda Alvaro yang melihat Tania masih menatap tubuhnya tanpa berkedip.
Tania mengejapkan matanya, memalingkan wajahnya. "Mataku sakit melihat tubuhmu." ketus Tania.