Sabar,oke lanjut.
"Mau anda apa sih? Saya gak pernah sekalipun mengusik kehidupan anda!" Ucap nya begitu murka pada sosok pria tua itu.
"Anda siapa memangnya berani melawan saya?" Ucap si pria dengan nada sinis.
"Saya, freyan. Dan anda yang seharusnya yang terlalu nekat untuk melawan saya! Kenapa anda mengusik saya?" Ucap freyan terkekeh dan meludahi wajah pria tua itu.
"Karena saya gak suka perusahaan anda! Itu membuat perusahaan saya perlahan menurun!" Ucap di pria tua itu dengan begitu marah.
"Hei, tua? Saya bekerja untuk perusahaan jadi wajar saja jika meningkat tinggi, karena itu hasil usaha saya, bukan bantuan dari pemerintah, rela menjual istri agar menjadi pengusaha yang kaya? Hahaha gak tau diri!" Freyan memukul wajah pria tua itu hingga menghasilkan lebam yang cukup banyak hingga berdarah.
"Namamu Arya kan? Jangan main-main dengan saya, anda meminta bantuan kepada adik-adik saya!" Ucap freyan begitu murka dengan si tua itu dan pergi begitu saja saat Arya pingsan.
Freyan berjalan pergi menuju mobilnya, karena ini saatnya untuk kembali ke rumah dan menjumpai seseorang dari alasan kebahagiaannya.
Sesampainya di rumah..
"Flora? Anak-anak mana, sayang?" Tanya freyan memeluk flora begitu erat.
"Anak-anak udah tidur, kamu kemana aja? Jam segini baru balik, hm? Kamu tau kan ini jam berapa? Gak ingat balik? Di luar saja sekalian gak usah pulang!"
"Gak gitu, flo. Tadi aku ada urusan mendadak makanya aku baru pulang sekarang, aku minta maaf gak ngabarin kamu dulu" ucap nya meminta maaf pada flora karena ini termasuk kesalahannya tidak mengabari sang istri.
"Urusan apa sampe gak ingat pulang?" Tanya flora sangat mengintimidasi freyan.
"Adik-adik aku dapat tugas dari Arya" jawabnya dengan penuh kejujuran.
"Farsha, Gino, sama Alfin? Kenapa bisa mereka dapat tugas dari Arya? Sudah kamu urus kan?"
"Udah, bahkan aku hajar dia. Aku minta maaf, sayang, maaf aku kelupaan tadi ngabarin kamu"
"Gakpapa, kali ini aku maafin kamu. Tapi ingat! Jangan pernah di ulangi lagi, ku potong punya mu itu biar pendek aja sekalian"
"Iya-iya, janji deh gak akan ngulangin, suer" freyan mengangkat dua jari na sebagai tanda janji nya kepada flora. "Nah, berhubung shaka sama Syifa udah tidur. Dan kita juga udah lama gak anu loh sayang, kamu gak kangen itu? Aku kangen banget loh, janji deh gak kebobolan" freyan dengan wajah yang memelas nampaknya seperti monyet yang sok ngelucu.
"Nganu apa sih? Jangan aneh-aneh deh, yuk ah ke kamar. Aku ngantuk, emang kamu enggak ngantuk ya?" Flora dengan pengalaman yang telah dirasakan bertahun-tahun sampai yang ia tak ketahui dan menjadi tahu. Freyan si punya pemikiran yang di luar kendali flora akhirnya ia ketahui bahwa gak selamanya ia tak tahu isi dari pikiran kotor suaminya itu.
"Dek? Ayo atuh, mas kebelet nganu banget ini, kamu gak kasian sama peliharaan mas yang ini? Dia udah meronta-ronta loh dari tadi. Ayo atuh sebentar aja, mas gak akan sakitin kamu kok" Freyan memeluk flora dari belakang dan memancing flora agar terhanyut dalam rayuan nya.
Se tahu apapun flora dengan alasan freyan, tetapi si pemilik wajah tampan itu masih saja jago dalam merayu wanita, tentunya istrinya sendiri.
Setelah flora diam karna jujur saja jantung nya berdegup kencang kala menghirup nafas freyan yang begitu dekat dengan lehernya hingga membuat dia sendiri merinding.
"Sayang? Flora? Kok diam aja sih" freyan kini mempererat pelukannya pada flora dan berusaha untuk memancing kembali hasrat flora.
"Y-ya? Kenapa mas? Maaf aku tadi mikirin ini, anu apasih itu. K-kamu tadi ngomong apa? Aku kurang dengar mas, maaf ya aku ngantuk" flora tersentak kaget karena setelah diam untuk meredam rasa gugup nya akhirnya ia memiliki alasan yang kurang di percaya oleh freyan tapi ia terburu-buru memasuki kamar nya untuk menghindari freyan.
"Hah, dia ini susah amat dah di rayu, gua kan butuh asupan juga. Masa mesti nunggu dia beneran minta sendiri sih" gumam freyan karena kali ini ia gagal merayu flora, bukan kali ini sih tapi ke sekian kalinya.
Setelah mereka benar-benar di satu ruangan yang sama, tak ada suara satupun yang terdengar di antara mereka hanya suara nafas saja yang saling beradu. Freyan dan flora, mereka membelakangi satu sama lain, tak ada yang tidur karena mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.
“gimana cara rayu flora biar mau lagi? Jujur udah kepengen banget” ucap freyan dalam hatinya.
“duhh, harusnya tadi aku nerima aja kenapa harus nolak lagi sih kan udah halal juga. Gimana ya? Mau bilang udah keburu malu" sekarang flora menyesali dengan apa yang ia katakan tadi.
"Sayang.."
"Mas.."
"Duluan saja, kamu mau ngomong apa?" Tanya freyan karena mereka berdua saling memanggil di waktu yang bersamaan.
"Soal tadi..aku minta maaf" ucap flora karena sejujurnya memang sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal-hal yang di lakukan oleh suami istri pada umumnya.
"Gakpapa, lagian aku tadi yang terlalu berlebihan. Mas juga minta maaf karena kesannya mas maksa kamu" freyan tersenyum karena ia juga menyadari titik kesalahannya.
"Aku ma-"
"Udah. Kita tidur aja, kamu pasti ngantuk kan? Sini, aku cuma pengen peluk kamu" freyan memotong ucapan flora dan mengajak untuk tidur bersama, karena dia juga merasakan ngantuk dan tak ada salahnya pula mengajak istrinya untuk tidur dengan cara berpelukan.
Akhirnya mereka berdua hanyut ke dalam mimpi mereka masing-masing.
Bersambung
Lupa alur deh, hehe maaf ya kalian nunggu 1 tahun
