"Masuklah. Selamat datang di rumahku." Ucapku begitu aku dan Tania sudah sampai di rumahku.
"Dimana orang tuamu? Kenapa sepi sekali?" Tanya Tania yang mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan rumahku.
"Orang tuaku tidak disini." Ucapku dan Tania langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudmu?"
"Aku tinggal sendiri di sini. Orang tuaku tinggal di LA. Ohya, duduklah Tania. Tunggu dulu ya, aku akan mengambil camilan dan minuman dulu." Ucapku dan aku segera berjalan menuju dapur.
Mengambil dua buah gelas dari dalam salah satu lemari kabinet, setelah itu aku mulai mengambil botol jus dari dalam kulkas, dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Setelah itu aku kembali meletakkannya ke dalam kulkas, dan tidak lupa mengambil dua buah bungkus chips.
Setelah itu baru aku mulai membawanya dengan menggunakan nampan, dan kembali berjalan untuk menuju ruang tamu.
"Jadi, kau benar-benar tinggal sendiri di sini?" Tanya Tania yang kelihatan tidak percaya, ketika aku mulai meletakkan nampan ke atas meja.
"Ya, seperti yang kau lihat."
"Kalau boleh tau, sejak kapan kau tinggal sendiri?"
"Baru beberapa bulan yang lalu."
"Oh." Ucap Tania seraya menganggukkan kepalanya.
"Berarti, kau juga baru beberapa bulan kuliah di UCL?" Ucap Tania lagi dan aku menganggukkan kepalaku.
**
Hampir dua jam Tania berada di rumahku dan kami membicarakan tentang banyak hal. Tania juga tidak segan-segan untuk membicarakan tentang kehidupannya denganku. Dan kami juga saling bertukar pikiran tentang banyak hal.
Walaupun awal pertemuan kami bisa dibilang tidak baik, tapi pada akhirnya kami bisa dekat dan mengobrol seperti ini. Dan semoga kami bisa seperti ini terus, dan tidak terulang lagi kejadian yang seperti waktu itu. Dan menurutku Tania itu orang yang sangat bersahabat.
"Kate, terima kasih telah memperbolehkanku untuk berkunjung ke rumahmu." Ucap Tania seraya tersenyum kearahku.
"Iya Tania."
"Lain waktu, aku bolehkan berkunjung lagi?"
"Tentu."
"Ok, kalau begitu aku pulang dulu ya Kate. Sekali lagi terima kasih." Ucap Tania seraya memelukku.
"Iya, hati-hati di jalan." Ucapku seraya membalas pelukannya.
"Bye Kate."
"Bye."
Tania pun mulai berjalan keluar dari rumahku dan menuju mobilnya.
**
"Kate!" Teriak dua orang secara bersamaan, yang membuat aku menghentikan langkahku dan tak lama Harry yang berada di sebelahku juga ikut berhenti melangkah. Membalik tubuhku, aku pun melihat Valerie dan Casandra sedang berjalan kearahku.
"Hi." Ucapku seraya tersenyum kearah mereka berdua.
"Hi Kate. Hmm... Harry, boleh pinjam Katenya sebentar?" Ucap Valerie dengan tersenyum simpul kearah Harry.
Aku pun menoleh kearah Harry. Dengan ekspresi datarnya itu, dia pun menghembuskan nafasnya.
"Aku ke kelas duluan." Ucapnya yang mulai beranjak pergi. Melihat Harry yang sudah pergi menjauh, aku pun kembali menoleh kearah mereka berdua.
"Ada apa?"
"Ayo, kita ke kafetaria." Ucap Valerie dan mereka berdua pun langsung menarik tanganku.
"Jadi, hanya untuk ke kafetaria?"
"Tidak. Ada suatu hal yang ingin kami tanyakan kepadamu." Ucap Casandra yang masih terus menarik tanganku.
"Memangnya kalian ingin menanyakan tentang hal apa?"
"Kita akan membicarakannya di kafetaria, ok?" Ucap Valerie dan aku pun menghembuskan nafasku.
**
"Ohya, sebelumnya kami minta maaf karena sudah mengganggu kalian yang sedang berduaan." Ucap Casandra ketika kami baru saja sampai di kafetaria dan baru mendudukkan diri kami.
"Maksudmu?" Ucapku seraya mengangkat sebelah alisku.
"Kau dan Harry." Ucap Valerie dan aku sedikit terkekeh.
"Tidak masalah, lagipula aku dan dia masih belum ada hubungan yang khusus."
"Sampai saat ini kau belum mengatakan hal itu kepada Harry?" Ucap Valerie dan aku menggelengkan kepalaku.
"Ya ampun Kate, sampai kapan kau simpan perasaan itu?"
"Sampai kapan pun itu." Ucapku yang diakhiri dengan sedikit tawa.
"Kau ini..." ucap Valerie, seraya sedikit menggelengkan kepalanya, begitu pun dengan Casandra. Dan setelah itu, terjadilah keheningan diantara kami.
"Tadi kalian ingin menanyakan apa?" Tanyaku, kembali membuka pembicaraan.
"Ohya, ada apa diantara kau dan Tania? Sepertinya kemarin kalian kelihatan akrab. Bukannya Tania bersikap seperti itu kepadamu. Kau mengerti maksudku, kan?" Ucap Casandra dan aku menganggukkan kepalaku.
"Ya memang. Tapi kemarin Tania sudah minta maaf."
"Tania minta maaf kepadamu?" Ucap Valerie yang kelihatan seperti tidak percaya.
"Iya."
"Bagaimana dia meminta maaf kepadamu?" Ucap Valerie yang kelihatan penasaran.
"Permintaan maaf biasa. Dia meminta maaf karena sikapnya kepadaku beberapa hari yang lalu."
"Selain meminta maaf, apa yang dia katakan lagi?" Ucap Casandra yang juga sama penasarannya.
"Dia juga bilang bahwa dia sudah bisa menerima soal Harry yang sudah tidak menyukainya lagi." Ucapku dan Casandra langsung menjentikkan jarinya.
"Berarti itu adalah sebuah kesempatan untukmu Kate." Ucap Casandra dan aku mengangkat sebelah alisku.
"Kesempatan?" Ucapku dan Casandra memutar matanya.
"Kesempatan untukmu menyatakan perasaanmu kepada Harry."
"Apa aku harus melakukan itu?"
"Tentu Kate, sebelum Tania berubah pikiran." Ucap Casandra yang diberi anggukkan oleh Valerie.
"Ya Kate, lakukanlah. Ini kesempatan bagus untukmu."
"Tapi..."
"Lakukanlah Kate, kau menyukainya bukan?" Ucap Valerie dan aku sedikit menganggukkan kepalaku.
"Ya sudah, lakukanlah." Ucap Valerie dan aku terdiam sesaat.
"Sudahlah, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan."
***
Hi!
Maaf ya kalo chapter ini pendek dan kurang memuaskan untuk kalian :(
Tapi, semoga kalian suka walaupun ini pendek dan kurang memuaskan.
Sorry for the typo and leave your vomment please :)
See ya :);)
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbeat
Fiksi PenggemarMaddlyn Kate Anderson, atau yang biasa disapa Kate, selalu merasakan suatu hal yang aneh semenjak dia bertemu dengan seorang pria yang selalu menatapnya dingin. Dia selalu merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan setiap kali dia sedang...
