part 23

935 117 6
                                        

Vote dulu yaaaa, bentar aja kok
Okeey?
Biasakan vote sebelum baca yaa

Kenzie menarik napas dalam-dalam melalui nasal cannula-nya, merasakan sensasi dingin oksigen yang justru terasa hambar. Ia menatap langit-langit kamar rawat yang bersih, namun terasa seperti penjara tak kasat mata.

Mommy-nya, Shella, mengusap punggung tangan Kenzie yang tidak terpasang infus. Kehangatan tangan ibunya itu sedikit menenangkan debaran kesal di dadanya.

"Sudah, menurut saja sama Daddy ya? Daddy hanya terlalu cemas," bisik Shella lembut, mencoba menjadi penengah.

Kenzie membuang muka ke arah jendela. "Cemas atau mengekang, Mom? Kenzie cuma mau pulang. Di sini rasanya makin sakit karena stres," gumamnya, kali ini dengan nada yang lebih rendah, menahan agar tidak terdengar seperti anak kecil yang sedang tantrum.

Ia tahu betul, makin ia merengek, Daddy-nya akan makin memperketat penjagaan.
Samuel yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya akhirnya menurunkan layar benda pipih itu. Mata elangnya menatap Kenzie datar, namun ada kilat pengertian di sana.

"Kau tahu Daddy tidak pernah main-main dengan ucapannya, baby. Jangan buat masalah kalau tidak mau masa hukumanmu ditambah," ujar Samuel tenang. Kalimatnya praktis, tanpa drama, khas seorang kakak sulung yang realistis.

Kenzie mengembuskan napas berat. Kamar VVIP ini mendadak terasa makin sempit. Keheningan kembali merayap. Tanpa handphone, tanpa televisi, satu-satunya hiburan yang tersisa bagi Kenzie hanyalah pemandangan di balik jendela kaca besar itu.

Matanya kembali terpaku pada gedung tua terbengkalai di seberang jalan.
Sinar matahari sore yang mulai meredup memberikan siluet magis sekaligus mencekam pada puing-puing bekas kebakaran itu.

Dinding-dindingnya yang menghitam karena jelaga tampak kontras dengan langit senja yang mulai jingga. Kenzie memperhatikan barisan jendela tanpa kaca di gedung tua itu. Kosong dan gelap.

Namun, saat matanya menyusuri lantai tiga gedung terbengkalai tersebut, gerak mata Kenzie terhenti.

Di salah satu sudut ruangan yang gelap di seberang sana, ada sesuatu yang bergerak. Kenzie menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan. Di antara bayang-bayang pilar yang rapuh, ia seperti melihat siluet seseorang yang sedang berdiri tegak, menghadap tepat ke arah jendela kamar rawatnya.

Kenzie mematung. Dadanya mendadak berdesir aneh. Rasa bosannya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa penasaran yang bercampur sedikit debaran waswas.

"Siapa orang di sana? Bukankah gedung itu sudah disegel dan dilarang dimasuki siapapun?"

Ia ingin memberi tahu Samuel atau Mommy-nya, namun egonya menahan diri. Kenzie tidak ingin dianggap sedang berhalusinasi atau mencari perhatian agar bisa dipulangkan. Akhirnya, ia hanya diam mematung, terus mengamati sosok misterius di seberang sana yang tampaknya juga sedang memperhatikannya dalam keheningan senja yang mulai pekat.

Siluet itu bergeming selama beberapa menit, berbaur sempurna dengan kegelapan yang perlahan menelan sisa-sisa dinding beton di seberang.

Kenzie mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang dikelabui oleh efek obat atau pusing yang tadi sempat menderanya.

Namun, sosok itu nyata. Bahkan, saat lampu jalanan di bawah mulai menyala otomatis, bias cahayanya sedikit mempertegas garis tubuh orang di sana. Sosok itu memakai pakaian gelap, berdiri terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang berada di dalam gedung terbengkalai yang tidak aman.

"Kenzie? Kenapa melamun begitu?"
Suara Shella memecah fokus Kenzie. Ibunya sedang merapikan selimut di ujung kakinya.

"Ah, tidak apa-apa, Mom. Cuma melihat langit," jawab Kenzie beralasan, mengalihkan pandangannya kembali ke dalam ruangan dengan gestur senormal mungkin. Ia melirik Samuel, tapi kakaknya itu sudah kembali tenggelam dalam dunianya sendiri dengan handphone di tangan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

my protective familyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang