Kenzie menatap ke arah jendela lebar rumah sakit yang berada di dekat tempatnya berbaring, yang langsung mengarah ke arah gedung terbengkalai yang berada di seberang. Sebenarnya itu adalah bekas rumah sakit ini juga dan harus ditinggalkan karena disana pernah terjadi kebakaran hebat yang menewaskan berpuluh-puluh orang.
Matanya memandang bosan ke arah gedung terbengkalai itu, di sini tidak ada hiburan yang menarik baginya di tambah daddy-nya yang masih saja marah.
Sekarang dia hanya bisa berbaring diam dengan selang infus yang sudah terpasang rapi di tangannya dan nassal canula yang terpasang di hidungnya, juga ruangan yang sudah sangat familiar baginya.
Eric sedang berada di luar untuk berbicara dengan dokter dan hanya ada kakaknya-Samuel- yang menemaninya di ruangan ini. Itupun kakaknya itu hanya diam saja dari tadi, matanya sibuk menatap handphonenya sendiri.
"Kak, bosan." ucap Kenzie seraya menoleh ke arah Samuel, Samuel mengangkat kepalanya untuk menatap adiknya itu. Samuel memilih meletakkan handphonenya ke atas meja dan berjalan menghampiri Kenzie.
"Tidurlah." ucap Samuel mengelus rambut adiknya lembut. Kenzie menghela nafas, kepalanya mendadak pusing. Yang dia mau itu hiburan.
Game, handphone, atau paling tidak TV. Bukannya tidur terus menerus. Lagipula ruangan yang di tempatinya ini padahal adalah kelas VVIP tapi kenapa tidak ada TV?!
Padahal dia pernah melihat ruangan kelas VIP saja ada TV besar yang terpasang di dinding tapi kenapa ruangannya malah tidak ada?!
Pasti ini ulah daddy-nya.
"Pulangnya kapan?" tanya Kenzie, dia tidak tahan harus berlama-lama di rumah sakit karena membuat dia merasa sesak.
"Sampai kau sehat." ucap Samuel, Kenzie mendengus pasti pada akhirnya itu semua tergantung keputusan daddy-nya walaupun dia sudah sehat kalau daddy-nya tidak mengizinkan maka dia tidak bisa pulang.
Pintu kamar rawatnya terbuka memperlihatkan Eric dan Shella yang baru saja tiba setelah menyiapkan keperluan anaknya selama berada di rumah sakit, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamar rawat Kenzie.
Shella segera berjalan ke arah anak bungsunya itu sementara Eric menutup kembali pintu di belakangnya.
"Baby, bagaimana keadaanmu? Masih sakit, hm?" tanya Shella khawatir seraya mengelus rambut Kenzie lembut. Kenzie tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya.
"Sudah tidak apa-apa, mommy." ucap Kenzie ceria, Shella tersenyum melihat anaknya sudah tidak lagi sakit. Kenzie mengalihkan pandangannya ke arah daddy-nya yang hanya diam di dekatnya.
"Daddy, kapan aku bisa pulang?" tanya Kenzie hati-hati berusaha tidak semakin membuat daddy-nya marah.
"Hm, besok kata dokter kau sudah boleh pulang baby"
Tanpa bisa Kenzie tahan, bibirnya tersenyum dengan lebar sampai gigi depannya terlihat semua. Rasanya Kenzie ingin teriak tapi sayangnya anggota keluarganya yang paling menyeramkan sedang berada di ruang rawatnya semua.
Siapa lagi kalau bukan daddy-nya dan Samuel.
"Senang? Daddy masih tidak membolehkan kau pergi, baby" Ucap Eric yang sontak meluntuhkan senyum lebar dari wajah anaknya. Kini tatapan tidak percaya diarahkan langsung kepadanya.
"Daddy?! Kan kata dokter boleh?!" Protes Kenzie, Kenzie sontak mendudukkan tubuhnya.
Hell?! Bisa-bisanya daddy-nya membuatnya terjatuh setelah melambungkan hatinya.
Kejam!
"Itukan kata dokter. Kalo daddy bilang belum waktunya artinya kau, baby, harus tetap tinggal disini."
Kenzie mendadak pening, orang normal mana yang menginginkan anaknya terus dirawat di rumah sakit padahal tidak ada penyakit apa-apa?!
"Ta-tapi.. Tapikan a-"
"Daddy tidak ingin mendengar alasan lagi. Sekarang tidur." Eric membaringkan Kenzie kembali dengan paksa, menghiraukan pandangan tidak percaya yang masih ditunjukkan oleh anaknya.
"Daddy masih ada pekerjaan. jangan pernah mencoba kabur, baby." Ucap Eric seraya menatap kedua mata Kenzie, ada sedikit penekanan disana.
Seolah memperingati akan ada konsekuensi yang harus ditanggung kalau Kenzie berani melanggar ucapannya.
Kenzie hanya mengangguk kecil, meski begitu tampaknya Eric menerima jawabannya. Eric berbalik dan berjalan keluar dari ruang rawat Kenzie setelah berpamitan dengan istrinya.
Kenzie menatap Samuel yang kembali duduk di tempatnya tadi dan kini kembali fokus dengan hp-nya.
Hei, setidaknya biarkan dia memegang hp juga..
Dia bisa mati kebosanan disini.
Heiii, aku kembali😭 maaf yah sudah menunggu lamaaaa banget
Masih ada yang menunggu cerita ini??
Maaf yah cuma dikit, kalo ada waktu aku up lagi yaaah
Jangan lupa vote dan komen biar aku semangat update🥺😘
KAMU SEDANG MEMBACA
my protective family
Aksi( PERHATIAN! KENZIE DISINI COWOK JADI JANGAN NANYA LAGI YA KALAU PERLU LANGSUNG CEK DI BAB VISUAL ANAK2 AJA😉) selama hidup kenzie, rasanya dia tidak akan pernah bisa lepas dari keluarganya. apa-apa serba di larang. bahkan sahabatnya pun sama overp...
