24.

7.7K 1K 79
                                        

Louis William Tomlinson

Aku pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan peralatan pribadiku lalu aku akan kembali kesini lagi, ok?" Ucapku pada Kayla. Dia menatapku dengan mata coklat nya itu. Wajahnya terlihat lelah sekali, dan aku yakin dia saat ini pasti sedang menahan rasa sakitnya, tapi walaupun begitu, Kayla tetap tersenyum dan bersikap seakan  dia baik-baik saja.

Gadis ini pasti terbuat dari baja.

Aku tak kuasa menahan diri dan mengusap rambutnya pelan, aku juga merapikan anak rambutnya yang menempel di wajahnya.

"Kau tidak perlu menginap disini, Louis. Kau istirahat saja di rumah. Aku baik-baik saja kok. Kau tidak perlu khawatir padaku." Ucapnya sambil tersenyum.

Aku menggeleng dan mengusap keningnya pelan. "Aku tidak akan meninggalkan mu sendirian, Kayla." Ucapku mantap. Dia tersenyum sangat manis.

"Oke.." Ucapnya akhirnya. Aku tersenyum dan mencium bibirnya pelan.

Manis.

Bibirnya manis sekali, semanis senyumnya, semanis sikapnya.

Dan bibir Kayla juga sangat lembut,

Seperti sifat nya yang memang lembut dan pengertian.

"Lou? Adik-adikku baik-baik saja kan?"   Tanyanya ketika aku melepaskan ciuman kami.

Aku mengangguk dan tersenyum. "Kau jangan khawatir. Aku sudah menyuruh orang untuk menjaga adikmu. Mereka baik-baik saja." Jawabku.

"Terimakasih, Louis. Aku tidak tau apa yang bisa ku lakukan jika tak ada kau di sini." Ucapannya membuat perasaan bersalah ku kembali lagi.

Karena jika bukan karena aku juga, Kay tidak akan bisa menjadi lemah dan terluka seperti ini.

Aku berusaha tersenyum untuk Kayla yang saat ini menatapku penuh kebingungan, kemudian aku kembali menciumnya.

"Don't leave me, Kayla." Gumamku.

Kayla tersenyum dan mengusap pipiku lembut. "I won't."


Tapi dia tidak tau, bahwa aku sangat takut suatu saat nanti Kayla akan menyadari bahwa aku tidak baik baginya, dan kemudian dia akan meninggalkan ku.

Dia tidak tau kalau aku benar-benar takut dia meninggalkan ku, karena perbuatan bodohku.

****

"What the hell? Kenapa kau masih disini?!" Ucapku ketika melihat sosok Eleanor yang sedang membuat teh di dapur ku.

"Memangnya kenapa? Toh dari dulu kau tidak keberatan jika aku disini." Ucapnya sambil terus asyik mengaduk teh nya.

"El, aku ingin kau keluar dari rumahku sekarang juga. Dan kalau bisa aku ingin kau untuk keluar dari hidupku." Ucapku serius. Eleanor menatapku dengan raut wajah menantang.

"Baby, what are you talking about?" Ucapnya.

Aku menggeram. "I'm not your baby. Kau mengakhiri hubungan kita. Jadi, jangan kembali padaku lagi. Aku punya kekasih sekarang." Ucapku.

Eleanor mendengus. "Maksudmu perempuan murahan yang kau bayar untuk menjadi kekasih pura-puramu?" Ucapnya.

Mendengar ucapan nya membuatku kesal.

"Shut your mouth!" Seruku sambil menggebrak meja. "Jangan berkata yang tidak-tidak tentang dia! Dia kekasihku!"

Eleanor smirk.

"Ah.. Kekasihmu yang kau selingkuhi dan kau bohongi agar kau bisa berhubungan seks denganku?" Ucapan nya seolah menampar diriku.

Dia membuatku semakin merasa bersalah pada Kayla.

"That was a fucking mistake!" Seruku.

El tertawa kencang. "Kesalahan katamu? Tapi kau terlihat menikmatinya ketika aku me----"

"Shut it, Eleanor. And leave, please." Potongku. "Keluar dari rumahku. Keluar dari hidupku. Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Ingat, El. Kau sendiri yang ingin putus. Kau yang meninggalkan aku. Jadi sekarang lebih baik tinggalkan aku selamanya." Seru ku keras.

Eleanor menatapku tajam, dan kemudian secara tiba-tiba dia melempar cangkir teh nya ke arahku. Aku pun reflek menghindar, dan cangkir itu pecah ke lantai.

"Kau ingin aku meninggalkan mu? Fine. Tapi ingat saja, kau akan menyesal." Dia berjalan ke kamar, mengambil barang punyanya,  dan tak lama dia keluar dari kamarku.

Dia menatapki tajam.

"Lihat saja, Lou. Aku bisa menghancurkan hidupmu. Aku bisa membuatmu menyesal dan kehilangan semua yang kau punya." Ancamnya.

Dengan tenang, aku menjawab ancamannya. "Can't wait!" Seruku sok senang.

Eleanor melotot. "Just wait, Lou. Dan kuharap Kay cukup pintar sehingga dia meninggalkanmu." Ucapnya sebelum dia berjalan keluar rumahku.

Dan karena ucapan terakhirnya itu, aku merasa sedikit takut atas  ancaman Eleanor.

*****

The proposalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang