Part V

899 61 5
                                    

Hujan kecil menemani waktu mereka berburu. Reuben, mada juga lans tidak berburu malam ini. Mereka masih cukup menyimpan darah dalam tubuh mereka. Hanya mikha yang kekurangan. Entahlah, belakangan ini nafsu vampire nya sedikit naik.

"Oh Tuhan, berapa lama lagi kita akan berjalan." Caitlin menendang udara didepannya. Tangannya terus besedekap menahan dinginnya suhu di tengah hutan

"AH! DIAM LAH!" Mikha terhuyung maju. Tangan yang seharusnya sekarang menerkam kijang segar malah memeluk angin kosong. Caitlin mendelik takut melihat wajah kesal mikha

Mikha kembali sibuk mengincar hewan lain di sekelilingnya. Caitlin berjalan malas ke arah yang berlawanan dengan mikha. Dia berniat mengganti kijang yang lepas karena omelannya tadi.

"Tuhan, apa se mengerikan ini hidup seorang vampire?" ucap caitlin lirih dengan mata yang memicing ke setiap sudut hutan. Ia memeriksa setiap pohon yang ada di dekatnya.

HAP!

"MIKHA LIHAT! LIHAT APA YANG DI TANGANKU!"

Dua detik yang di butuhkan mikha untuk sampai tepat di depan cait. Wajahnya penuh dengan darah dengan mimik bingung dan penasaran. Tangan kanannya menggenggam dua kucing yang sudah tidak bernyawa.
"Mana?"

cait memamerkan deretan gigi putihnya kemudian memajukan apa yang ia pegang. Mikha tersenyum manis. Tipis tapi menyentuh hati. Entahlah. Cait senang melihat mikha tersenyum karenanya. Baru ini.

"Sekarang perhatikan aku." mikha mulai memberi intruksi pada cait. "Pegang kedua telinga dan kaki kelinci itu."
Fokus cait kini berpusat pada kelinci putih yang ditangkapnya tadi. Ia mengikuti tiap kata yang keluar dari mulut mikha hingga rongga mulutnya merasakan betapa segarnya darah kelinci buruannya itu.

"Hei ini tidak buruk. Rasanya manis." Ucap cait sambil menyesap kelincinya lebih kuat. Mikha tetkekeh pelan kemudian tersenyum melihat tingkah cait.
"Teruskan. Aku akan cari yang lain." Mikha berlalu dari hadapan cait. Melesat entah kemana. Cait memejamkan mata menikmati tiap tetes darah. Sepertinya darah hewan memang membuatnya candu.

"Menikmatinya eh?" cait menengok mendapati mikha yang sudah bersih dari darah. caitlin mendelik. Alisnya menaut merasakan ada yang berbeda dari mikha.

Auranya.

"Kau sudah selesai, eh?" Tanya cait sambil meletakan buruannya di tanah kemudian membersihkan sekitar mulutnya yang penuh darah.
Seringaian muncul di wajah mikha. Senyum miring yang benar-benar susah di artikan.
"Belum."

Mikha berjalan mendekat. Dua tangannya menangkup bahu cait dan memojokan tubuh cait ke pohon di belakangnya. Jemari mikha perlahan menari di dagu caitlin yang lembut.

"Mi..mikh? ap.. apa yang kau lakukan?" suara cait bergetar menahan degup jantung yang seakan ingin keluar dari tempatnya.
Mikha lagi lagi menyeringai. Ibu jarinya menelusuri wajah cait dan tangan kirinya bertopang pada batang pohon di balik tubuh istrinya itu.

Mikha mendekatkan bibirnya ke bibir cait kemudian melumatnya kasar. Caitlin terus mengerang seperti enggan di cium. Bibir caitlin terus di beri gigitan kecil yang mungkin menimbulkan banyak luka di sana.

"Mmmpphh.. hen-mmpp ti-erghhh kan!"

Tangan mikha menekan lebih dalam tengkuk cait dan mendekapnya erat seolah tak ingin melepaskannya.

"HEI LEPASKAN DIA! SHIT!"

Tangan cait berhasil mendorong tubuh yang ada di depannya tadi. Matanya membulat sempurna saat mendapati pria yang menciumnya tadi bukanlah suaminya.
Mikha berdiri di sebrang caitlin dengan wajah merah penuh amarah. Tangannya mengepal sempurna di samping saku jeans dongkernya.

FallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang