Daddy

263 26 17
                                    

"Jadi jam berapa kau akan menjemput mereka?"

Caitlin diam tak bergeming. Ia terus menerus memandang ujung kuku kakinya atau sesekali memperhatikan jalanan yang cukup lenggang hari itu.

Suasan dalam mobilnya hening sejak tadi dan hanya ada suara musik dari tape recorder yang memutar lagu sama berulang-ulang kali.

"Ayolah cait, i'm real!" Pria yang kini duduk di balik roda kemudi itu memandang cait sekilas kemudian kembali ke jalanan lebar di hadapannya.

"Mi-mikh. Aku masih belum percaya." Ucap caitlin sembari meremas sabuk pegaman yang menahan tubuhnya.

Mikha menghela nafasnya berat, merasakan betapa bodohnya wanita pujaannya itu.
Ia memutar roda kemudi ke arah kiri kemudian memposisikan mobil itu sedemikian rapi untuk menepi.

"Kenapa kita berhen-"

"I'm the same guy who kissed you in our wedd, i'm the same guy who got jealous when u met ur ex in our honeymoon, i'm the man who always try to teased you. I'm the same person who ever cheated on you with ur sister. I'm the man who always made your tears real. I am just me cait. Your husband." Ucap mikha mengintrupsi cait. Pria itu memutar posisi duduknya ke arah cait dan kini ibu jari mikha sudah mengusap pipi caitlin berulang-ulang, membuat gadis itu geli.

Setetes air mata kembali jatuh ke pipi caitlin.

Tidak.

Dia bukan meragukan mikha. Dia hanya takut jika ini semua hanya halusinasinya. Atau bahkan mimpi. Dan bisa saja yang di hadapannya sekarang bukan mikha.

Semua bisa saja terjadi.

Tapi semua prasangka itu lenyap seketika saat mata hazel milik mikha menguasai milik caitlin.
Orang benar, mata tak akan pernah bisa berbohong.

"You're real." Caitlin menghambur ke pelukan mikha dan menghabiskan sisa air matanya di sana. Mikha terus mengusap punggung caitlin dan sesekali mengecup puncak kepala gadis itu.

"Okay then, bisa kah kau melepaskanku? Aku kesulitan bernafas." Ucap mikha dengan suara dingin khas miliknya.

"Tidak akan. Aku rindu nadamu yang satu itu." Caitlin mepererat pelukannya dan hal itu membuat mikha tertawa kecil.

***

"Mommy! Akhirnya ka- oh my Godness!" Alice yang tadi terlihat begitu semangat membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalam tiba-tiba terdiam dan berhenti dengan ocehannya.

"Alice cepat lah apa yang ka-"

Ansel kini mematung dengan mulutnya yang menganga seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

"Daddy?!" Pekik mereka bersamaan.

Mikha tersenyum manis dan sedikit menahan getaran kedua bahunya. Anak-anaknya ada di depan matanya. Mereka yang selama ini mikha ingin lihat.

Lihat mereka, mikha merasa anak-anaknya benar-benar perpaduan antara dirinya dan caitlin. Seperti melihat kembaranmu hanya saja lebih muda dan lebih kecil.

Pernahkah kalian membayangkan, semenyenangkan itu memiliki anak?
Mikha tidak.

"Yes, it's me. Ini daddy." Mikha yang masih terduduk di kursi kemudinya kini membungkukan badannya untuk kemudian mengambil alih tubuh alice dan ansel dalam gendongannya.

Mikja mengangkat satu persatu anaknya kemudian ia meberikan alice pada cait dan ia biarkan ansel duduk di atas pangkuannya dan menghadap ke arahnya.

"Alice tidak tau, apa yang harus alice katakan. Mommy apa benar ini daddy?" Air mata alice turun seolah megerti arti pertemuan pertama yang sungguh-sungguh di nantikannya itu.

FallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang