"Caitlin!"
"Mom!"
Dua wanita yang berperawakan mirip itu kini saling berpelukan erat. Tangan mereka merangkul pinggang satu sama lain.
Caitlin menumpahkan semua kesedihannya di pelukan mom nya itu. Dua tangannya mencengkram bahkan meremas kuat kaus ashley seolah tak bisa menahan amarah nya lagi.
Ashley mengerutkan alisnya saat merasakan eratnya pelukan cait. Ia yakin pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi pada putrinya itu. Ia mencoba membalas pelukan cait dengan erat pula. Banyak orang yang mengatakan bahwa pelukan bisa meminimalisir rasa sakit seseorang
Ashley melonggarkan pelukan mereka saat merasakan basah di bahu kanannya.
Caitlin menangis.
"Cait? Kau menangis, sayang?" Ucap ashley menangkup pipi anak kesayangannya itu. Ia menyeka butir air mata cait dengan ibu jarinya. Tatapannya seolah penuh tanya.
Caitlin diam tak mejawab. Hanya senggukan-senggukan kecil lah yang keluar dari bibirnya. Ashley menarik cait dan mengajaknya duduk di sofa ruang keluarganya.
Tangan ashley terus mengusap puncak kepala putri kesayangannya itu.
"Ceritakan. Apa yang membuat putri mom ini menangis?"
Senggukan yang semula keras makin lama makin mereda. Wajah caitlin kini benar-benar pucat seperti tak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya.
Perlahan ia mengatur nafasnya. Mengambil oksigen di sekitar nya sebayak mungkin kemudian membuangnya pelan."Mikha, mom." Ucap caitlim lirih. Dan tetes demi tetes terus meluncur dari sudut manik ravennya.
"Ada apa? Kalian bertengkar?"
ashley menyeka kembali air mata anaknya."Bukan hanya bertengkar."
Ashley mengerutkan alisnya. Tangannya terus mengusap pipi cait berusaha membuatnya tenang. Dan dengan perlahan cait mulai menceritakan semua. Benar-benar semua tanpa terkecuali.
Mulai dari kehamilannya yang sedikit membuat ashley tersenyum bahagia. Namun senyuman itu tak bertahan lama saat telinganya mendengar cait mengucap nama itu. Nama yang sudah lama tak di dengarnya. Nama yang dulu selalu mengisi harinya. Nama buah hati pertamanya.
Bethany.
Air mata ashley kini ikut menetes mendengar bagaimana cait menceritakan mikha yang membawa pulang bethany kemudian mengatakan bahwa bethany hamil. Dan anak yang di kandungnya adalah buah cinta mikha.
"Dan, dan mikha." Ucap caitlin tersenggal karena kini tangisnya kembali pecah. Pergelangan tangan ashley pun kini memerah karena cengkraman cait.
"Mikha dan bethany akan menikah dalam waktu dekat."
dengan sigap ashley mendekap erat caitlin ikut menangis. Tangannya terus berusaha mengusap punggung caitlin.
Tak ada seatah kata pun yang bisa ashley berikan pada cait. Ia merasa tak berguna sekarang. Ia merasa hancur. Sama seperti caitlin.Dua kali ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia sudah kehilangan bethany. Dan kini bethany melukai caitlin. Adik kandungnya sendiri. Yang sudah jelas-jelas ia kenali.
"Maafkan mom, sayang." Ashley mengecup puncak kepala cait masih dengan air matanya. Caitlin hanya diam tak menjawab. Sesenggukannya pun sudah tak terdengar.
Merasa aneh, ashley mencoba melonggarkan dekapannya dan memeriksa cait.
"Astaga caitlin! Bangun sayang!"
Caitlin pingsan. Wajahnya benar-benar berantakan saat ini. Bibirnya pucat. Kantung matanya membesar. Belum lagi lingkaran hitam di sekitarnya.
Ashley tersentak saat menyadari bahwa ada dua nyawa yang terancam sekarang. Cucunya pasti akan terganggu bila caitlin tidak dalam kondisi baik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Fall
Fanfic"Caitlin, kau harus segera menikah dengan Mikha." Air mata cait perlahan turun membasahi lensa indah juga pipi ranumnya. Menyedihkan. "Cait dengar dad." Tangan robert mengusap dagu cait. Menyeka liquid bening yang sarat akan kebahagian di pipi porse...