"Mikha.."
Suara bangkar yang bergerak-gerak beradu dengan erangan gadis yang tertidur di atasnya.
Tubuhnya ia gerakan ke kanan dan kekiri dalam posisi tidurnya. Seakan-akan ia ingin melepaskan diri dari perangkap mematikan.Matanya masih terpejam. Peluh bercucuran dari dahinya yang jauh di atas suhu normal.
Tanpa basa-basi, mada menjatuhkan kantung-kantung makanannya dan berlari ke arah bangkar itu.
"Mikha! Bangun! Caitlin!"
Pria dengan rambut ikal itu terus mengguncang tubuh caitlin yang sepertinya sedang tidak dalam kondisi baik itu. Ia juga masih berusaha menyadarkan mikha dari tidurnya.
"MIKHA!"
BUGGG
Satu tonjokan tepat di perut mikha, membuat angelo itu bangun dan sedikit terbatuk. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga kesadaran mikha hilang begitu saja saat berada di dekapan bethany tadi.
"FUCK! MAD-"
"SHUT YOUR FUCKING MOUTH! SHE NEEDS SOME HELP!"
Kamar rawat VIP yang sengaja di pesan jauh dari kamar lain itu kini gaduh. Pekikan mada juga suara erangan kasar dari mulut caitlin bercampur menjadi satu memenuhi setiap sudut ruang itu.
Dengan sigap, mikha berlari ke arah bangkar caitlin dan memeriksa istrinya itu.
Bola mata pekat mikha seketika membulat sempurna. Apa yang ada di depannya saat ini sama sekali belum pernah ia lihat atau bahkan alami.Sudut bibir caitlin berdarah. Pipi gadis itu memerah seperti bekas tamparan yang keras. Luka lebam pun memenuhi daerah sekitar wajahnya.
Caitlin terus merintih dan memanggil nama mikha.Tangannya berada di atas perutnya seolah ada yang mengikatnya. Air mata pun juga tak berhenti mengalir dari sudut mata caitlin yang tertutup.
"Mimpi."
Desis mikha yang tiba-tiba diam.
Mada mengerutkan alisnya tak mengerti masih sambil berusaha menyadarkan caitlin.
"Seseorang mengganggunya dalam mimpi!" Bentak mikha dengan tatapan membubuhnya.
Mada meggeleng pelan seolah tak percaya dengan apa yang mikha katakan. Pengendalian mimpi adalah hal yang sangat di hindari.
Beresiko besar bila salah satu dari yang mengendalikan atau di kendalikan, tidak bisa kembali sadar dan bangub dari mimpinya."Reuben! Panggil dia!" Ucap mada cepat.
Ya, reuben lah yang mewarisi kemampuan Dadnya yang satu ini.
Sebenarnya, akan lebih baik apabila lans langsung yang turun tangan mengatasi ini. Mengingat reuben belum berpengalaman sama sekali dalam hal ini.
Sayang sekali, lans masih harus menghadiri rapat bisnisnya di negara tetangga.Mikha menatap sekilas caitlin yang masih berusaha melepaskan sesuatu dari tubuhnya. Dengan helaan nafas yang cukup panjang, mikha kemudian melesat dan berusaha mencari keberadaan kakaknya itu.
Ini satu-satunya cara.
Mata mikha terpejam dan mencoba mencari tau dimana keberadaan reuben lewat alam pikirannya.
Dan secepat mungkin setelah tau, ia melesat untuk membawa reuben kembali ke rumah sakit.Dia benar-benar tak bisa meninggalkan caitlin lama-lama dalam keadaan seperti tadi.
Bahkan mikha belum tau, apa dan siapa yang sebenarnya ada dalam mimpi caitlin.Mikha menajamkan matanya saat melihat reuben yang baru saja menyelesaikan kijang buruannya.
"Ikut aku." Ucap mikha sesaat setelah menarik kuat lengan reuben.

KAMU SEDANG MEMBACA
Fall
Fanfiction"Caitlin, kau harus segera menikah dengan Mikha." Air mata cait perlahan turun membasahi lensa indah juga pipi ranumnya. Menyedihkan. "Cait dengar dad." Tangan robert mengusap dagu cait. Menyeka liquid bening yang sarat akan kebahagian di pipi porse...