Satu pekan tanpa kehadiran sharline.
Caitlin benar-benar tak mengerti dengan ini semua. Bahkan di saat seperti ini, tidak ada satupun kemampuan vampire nya yang bisa ia gunakan.
Sharline hilang tiba-tiba setelah obrolaan aneh siangg itu.
Tidak pernah masuk dan datang ke kampus. Apartementnya juga kosong.
Seperti di telan bumi, lin hilang tanpa jejak.
Caitlin sama sekali tidak berniat menceritakan ini pada orang lain, terlebih mikha.
Ini hanya masalah persahabatannya. Bukan vampire atau semacamya.
Bahkan mikha tidak di butuhkan disini.
Cafetaria sedang ramai. Tapi caitlin tidak tahu apa itu arti ramai jika lin tidak bersamanya dan menghabiskan makan siangnya di tempat itu juga.
Gadis bermata raven itu membolak-balikan daging di hadapannya. Sama sekali tak berselera makan.
"Apa kau akan terus mengaggumi keindahan daging itu?"
Seseorang datang dengan tas coklat di serempangannya dan nampan penuh berisi makanan di tangannya.
Caitlin tak menjawab. Untuk membuka mulut pun ia malas, apalagi harus beradu argumen dengan pria menyebalkan yang sekarang duduk di hadapannya.
"Oh baiklah, ku rasa addictedmu terhadap steak sudah berkurang." Mikha mengangkat garpunya dan mengarahkannya ke piring makan caitlin.
Tapi mata pria itu tidak pernah lepas dari wajah caitlin.
Ia menusukan garpunya ke daging yang sedaritadi caitlin mainkan.
Mengangkatnya kemudian menempatkannya tepat di depan wajah caitlin yang terlihat tidak baik. Ia memutar-mutar daging itu untuk menarik perhatian caitlin. Mencoba membuat istriya itu kembali menjadi dirinya.
Bukan mendapat ocehan seperti yang mikha kira sebelumnya, caitlin malah megibaskan tangannya. Seperti mengizinkan mikha mengambil maka siangnya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu." Mikha merubah raut wajahnya yang semula sedikit menggoda kini menatap caitlin serius.
"Kau selalu melamun belakangan ini. Kau tidak hyperaktif seperti biasanya. Pola makanmu berantakan dan aku tau kau bolos di beberapa mata kuliahmu."
Caitlin terbelalak saat hal yang berusaha di sembunyikannya akhirnya di buka oleh mikha.
Ia mendesah panjang. Seolah mengeluarkan semua kepenatannya.
"Dan yang paling aku tidak mengerti, kau mengunci pikiranmu. Apa kau mau membuatku gila?!" Mikha berbicara dengan volume yang sedikit keras. Membuat hampir se isi cafetaria memandang ke meja mereka heran.
Bahkan sebelum berteriakpun, orang-orang di sana sudah tidak bisa mengontrol mulut mereka untuk tidak membicaraka mikha dan caitlin yang duduk bersama.
"Kau membuat kita malu, tuan angelo." Cait membuka pembicaraan dengan menyindir mikha. Wajahnya terlihat datar dan seperti enggan untuk berbicara.
"Tidak. Mungkin hanya aku yang malu. Seorang mikha angelo, di acuhkan wanita sepertimu? Yang benar saja, kau bilang 'kita' yang mal-"
"Wanita sepertiku? Seperti apa? wanita yang hanya bisa menangis dan menertawakan hal-hal bodoh? aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya padamu angelo. Aku memang istrimu, dan istri bukan budakmu. Aku tau bahkan paham betul seperti apa sikap diktatormu itu. Tapi sekali lagi, aku tidak suka kau selalu melihatku lemah. Aku tidak suka selalu kau perintah-walau kadang hal itula yang membuatku jatuh lebih dalam padamu. Aku juga punya urusan pribadi yang tak memerlukan campur tanganmu. Aku juga punya hidupku sendiri. Hidupku bukan hanya menjadi istrimu. Jadi berhentilah mengintrogasiku."
Mikha menoleh ke sekitarnya setelah selesai menyimak ocehan panjang lebar caitlin.
Semua orang benar-benar aedang berbisik di belakang mereka.
Yang mikha dengar, mereka banyak bertanya tentang masalah apa yang sedang melanda rumah tangga mikha dam caitlin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall
Fanfiction"Caitlin, kau harus segera menikah dengan Mikha." Air mata cait perlahan turun membasahi lensa indah juga pipi ranumnya. Menyedihkan. "Cait dengar dad." Tangan robert mengusap dagu cait. Menyeka liquid bening yang sarat akan kebahagian di pipi porse...
