Caitlin menggigit bibir bawahnya, berusaha meredam ketakutannya untuk mengatakan keinginannya.
Perlahan, ia menarik nafasnya dalam dan panjang, untuk kemudian ia lepaskan perlahan.
Mirip seperti orang yang akan melahirkan.
"Okay, sebelumnya aku harap kau jangan marah-"
Mikha mengangguk dengan tatapan herannya.
"Aku hanya mau kau- oke. Aku ingin bermain denganmu!" Caitlin berpekik kecil dan kini matanya terpejam. Wajahnya memerah seperti tomat matang. Ia terus meruntuki dirinya yang mungkin terlihat bodoh kali ini.
Sedetik tepat setelah mikha berhasil mencerna permintaan cait, tawa pria itu meledak diluar dugaan caitlin. Wajah mikha ikut memerah tapi bukan karena tersipu. Ia terlalu bersemangat menertawakan caitlin.
"Astaga Tuhan, ini kejadian langka!" Ucap mikha di ikuti tawanya yang melemah. Matanya berair karena terlalu bersemangatnya ia dalam tertawa.
Ralat.
Menertawakan caitlin.
Sudah bisa di tebak, seperti apa wajah caitlin saat ini. Tak lagi berbentuk.
bibirnya juga sudah mengerucut maju seperti biasa.
"Maafkan aku. Lupakan saja permintaan konyol ini." Caitlin menahan air matanya untuk menetes. Ia benar-benar malu saat ini. Ia pikir mikha akan marah. Dan ternyata, pria itu malah menertawakannya dengan begitu puasnya.
Mikha memandang caitlin sejenak dengan tatapan datarnya yang biasa ia pamerkan.
Pria itu kemudian beranjak dari ranjangnya dan melangkah ke arah pintu. Meninggalkan caitlin yang sedikit kaget saat mikha mulai melangkah pergi.
Ia merasa benar-benar payah sekarang. Uh, atau wanita hamil memang terlalu sensitive?
Caitlin menangis kecil.
Klekkkkk
Caitlin mendongakan kepalanya dan menatap kearah pintu.
Mikha masih disana.
Pria itu memunggunginya dan tangannya terus memutar kunci kamarnya.
"Mikh, apa yang kau-"
"Ssst, tak akan ada yang mengganggu." Potong mikha di susul seringaian khasnya yang benar-benar mematikan.
Perlahan langkah kaki Angelo itu mendekat ke arah ranjangnya kembali. Caitlin hanya bisa diam dan tak tau harus berbuat apa.
Keinginannya muncul begitu saja.
Atau mungkin ini permintaan anak mereka?
"Kau menangis?" Tanya mikha yang kini sudah duduk tepat di depan cait. Tangannya menekan naik dagu cait untuk melihat wajah istrinya itu dengan jelas.
Tanpa aba-aba lagi, mikha kini menyapukan lidahnya di pipi caitlin. Ia menghapus jejak air mata kecil di dua pipi gadis itu.
Tangan mikha masih berada di dagu caitlin untuk sekedar menjadi pengarah, kemana caitlin harus menggerakan wajahnya.
Sapua geli lidah mikha, yag di tambah dengan deru nafas pria itu membuat caitlin sedikit terbakar. Entah ia harus berterimakasih pada janinnya atau bagaimana, yang jelas ia senang akhirnya mikha menyentuhnya lagi.
Mikha berhenti dengan pipi cait, dan beralih ke bibir istrinya. Dua tangan kekarnya perlahan menekan bahu cait turun, dan membaringkannya ke ranjangnya.
Tangan caitlin, seolah sudah terintruksi untuk mengalung nyaman di leher mikha.
Mereka saling mengecap rasa masing-masing dengan sesekali gigitan yang mikha berikan di bibir caitlin dan menimbulkan rasa karat.
Tangan mikha tidak ia biarkan menganggur.
Pria itu dengan sigap menarik kemeja caitlin kuat dan membuka satu persatu kancingnya.
Tak mau kalah, caitlin berusaha menaikan kaus yang menutup dada bidang mikha, saat pria itu mencium lehernya dengan posesif. Memberi beberapa tanda merah sebagai peringatan bahwa cait adalah miliknya seorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall
Fiksi Penggemar"Caitlin, kau harus segera menikah dengan Mikha." Air mata cait perlahan turun membasahi lensa indah juga pipi ranumnya. Menyedihkan. "Cait dengar dad." Tangan robert mengusap dagu cait. Menyeka liquid bening yang sarat akan kebahagian di pipi porse...
